Inilah 10 Pusaka Keraton Yogyakarta dan Pura Paku Alaman


Di lingkungan Keraton Yogyakarta dikenal adanya beberapa jenis pusaka, diantaranya seperti tombak, keris, regalia, ampilan, panji-panji, gamelan, dan juga kereta. Pusaka-pusaka yang disebut sebagai Kagungan Dalem itu biasanya memiliki nama, dan memiliki gelar kehormatan, seperti Kanjeng Kiai, atau Kanjeng Nyai, bahkan nama Kanjeng Kiai Ageng untuk pusaka yang dipercaya memiliki kekuatan magis yang paling besar.

Pusaka keraton dipercaya bersifat sakral, dan juga memiliki kekuatan supranatural. Sebagian dari pusaka keraton diwariskan secara turun temurun, bahkan ada juga yang berasal dari Keraton Demak. Pusaka juga bisa berfungsi sebagai sarana pendukung dalam upacara tradisi kerajaan atau penguasa.

Benda-benda pusaka tersebut biasanya akan dibersihkan secara intensif sekali dalam setahun, yakni pada bulan Sura didalam kalender Jawa. Terdapat pusaka yang dibersihkan hanya oleh sultan sendiri dengan cara mengambil tempat di keraton pada bagian dalam.

Pusaka yang masuk dalam kategori ini antaranya adalah Kanjeng Kiai Ageng Plered. Ada yang dibersihkan oleh saudara-saudara sultan, dan juga ada pula yang dibersihkan oleh para abdi dalem. Ada juga pusaka yang dibersihkan hanya ditempat yang terjaga privasinya, namun ada pula yang dibersihkan di tempat terbuka yang dapat dikunjungi oleh banyak orang, misalnya kereta-kereta kerajaan. Memang, terdapat sebagian khalayak yang berusaha untuk memperoleh air pencuci kereta tersebut, dengan harapan mendapatkan berkah dari air atau bunga bekas dari pencucian benda-benda pusaka keraton yang dipandang sakral itu.

Berikut ini adalah beberapa pusaka Keraton Yogyakarta.

1. Keris

Keris Kanjeng Kiai Ageng Kopek

Di antara keris-keris pusaka di Keraton Yogyakarta yang menduduki tempat terpenting ialah Kanjeng Kiai Ageng Kopek. Keris yang satu ini hanya boleh dikenakan oleh sultan sendiri, lambang perannya sebagai pemimpin rohani dan juga duniawi.

Menurut tradisi, keris ini dibuat dimasa Kerajaan Demak, dan pernah dimiliki oleh Sunan Kalijaga. Selain itu juga, ada keris Kanjeng Kiai Joko Piturun yang hanya boleh dipakai oleh putra mahkota, sedang pada Kanjeng Kiai Toyatinaban adalah keris yang dipakai oleh Gusti Pangeran Harya Hangabehi, yaitu putra lelak tertua sultan. Keris Kanjeng Kiai Purboniat hanya boleh dipakai oleh Patih Danureja.

2. Tombak

Di Keraton Yogyakarta diketahui terdapat banyak tombak yang bentuk dari mata tombaknya bervariasi. Ada yang bercabang 3 (tiga), ada yang seperti kudi, ada yang seperti cakra, dan ada juga yang berbentuk konvensional. Diantara tombak­-tombak pusaka kagungan dalem yang dipandang istimewa ialah Kanjeng Kiai Ageng Plered. Tombak tersebut telah ada di lingkungan Keraton Mataram-Islam sejak pada pemerintahan Panembahan Senopati.

3. Ampilan

Istilah tersebut dipakai untuk menyebut benda-benda yang dibawa dalam mengiringi sultan di upacara-upacara kerajaan. Ampilan yang sebagai suatu kesatuan disebut dengan Kanjeng Kiai Ampilan Dalem ini terdiri atas: dhampar kencana (takhta), anak panah dengan busurnya, pedang dengan perisainya, lar badhak (yaitu semacam kipas besar dari bulu merak), Alquran, sajadah, payung kebesaran, dan juga tombak. Untuk upacara kerajaan, Kanjeng Kiai Ampilan ini dibawa oleh enam abdi dalem wanita yang telah tidak lagi mendapat haid.

4. Regalia

Regalia Naga

Istilah ini dipakai dalam menyebut benda-benda pusaka yang melambangkan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh sultan didalam memimpin negara dan rakyatnya. Sebagai satu kesatuan ini regalia disebut dengan kanjeng kiai upacara yang terdiri atas banyak (angsa) melambangkan sebuah kejujuran dan kewaspadaan, dhalang (kijang) melambangkan sebuah kecerdasan dan ketangkasan, sawung (ayam jantan) melambangkan sebuah kejantanan dan tanggung jawab, galing (merak) melambangkan sebuah keagungan dan keindahan, hardawalika (naga) melambangkan sebuah kekuatan, kutuk (kotak uang) melambangkan sebuah kedermawanan, kacu mas (kotak tempat sapu tangan) melambangkan sebuah kemurnian, kandhil (lampu minyak) melambangkan sebuah pencerahan, cepuri (tempat sirih pinang), wadah ses (tempat rokok), kecohan (tempat ludah). Tiga benda terakhir tersebut melambangkan proses dalam pengambilan keputusan. Kanjeng Kiai Upacara yang dibuat dari emas ini jika dipakai untuk mengiringi sultan didalam upacara kerajaan dibawa oleh 10 orang perawan.

5. Panji-panji

Kanjeng Kiai Tunggul Wulung

Keraton Yogyakarta mempunyai pusaka yang berujud panji-panji dan disebut Kanjeng Kiai Tunggul Wulung, karena warnanya wulung, yakni berwarna biru tua. Disebutkan bahwa kain untuk panji-panji ini adalah potongan dari kiswah Kakbah. Pada bagian tengah terdapat tulisan Arab yang berisi kutipan Surah Al Kautsar, Asma’ul Husna, dan juga Syahadat.

Dahulu jika terjadi wabah penyakit, maka Kanjeng Kiai Tunggul Wulung ini dikeluarkan dari keraton dan kemudian dibawa dalam suatu prosesi berkeliling kota dengan diiringi doa, serta di perempatan-perempatan tertentu akan diserukan adzan. Maksudnya adalah untuk memohon kesembuhan bagi seluruh rakyat yang sedang terkena wabah tersebut.

6. Gamelan

 Gamelan

Terdapat 18 perangkat gamelan pusaka di Keraton Yogyakarta, dengan demikian pada setiap perangkat memiliki sebutan kehormatan. Diantara perangkat-perangkat gamelan itu terdapat 3 (tiga) yang umurnya paling tua, yaitu Kanjeng Kiai Gunturlaut, Kanjeng Kiai Maesaganggang, dan juga Kanjeng Kiai Gunturmadu. Menurut tradisi, Kanjeng Kiai Gunturlaut ini berasal dari Keraton Majapahit yang diwariskan dengan cara turun temurun melalui Kesultanan Demak, Pajang, Mataram Islam, dan pada akhirnya ke Yogyakarta.

Sedangkan Kanjeng Kiai Gunturmadu adalah satu dari dua perangkat gamelan sekati. Satu perangkat lainnya yakni Kanjeng Kiai Nagawilaga dibuat dimasa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I. Gamelan sekati inilah yang pada saat upacara Sekaten dibawa keluar dari keraton, lalu ditempatkan di Pagongan di bagian halaman Masjid Agung, dan dibunyikan mulai tanggal 6 hingga tanggal 11 bulan Maulud, atau hingga berakhirnya upacara Sekaten. Gamelan pusaka lain diantaranya adalah Kanjeng Kiai Gunturlaut, Kanjeng Kiai Surak, Kanjeng Kiai Kancil Belik, Kanjeng Kiai Guntursari, Kanjeng Kiai Keboganggang, dan Kanjeng Kiai Bremara.

7. Pelana Kuda

Pelana Kuda Kanjeng Kiai Cekathak

Di lingkungan Keraton Yogyakarta terdapat pusaka berupa pelana kuda yang bernama Kanjeng Kiai Cekathak. Jika disertakan dalam prosesi, Kanjeng Kiai Cekathak ini akan dipasang di punggung kuda, tetapi tidak ada penunggangnya.

8. Naskah

 Naskah Pusaka

Di Gedung Widya Budaya, Perpustakaan Keraton Yogyakarta, terdapat 2 (dua) naskah yang tergolong dalam pusaka keraton. Kedua naskah tersebut adalah Kanjeng Kiai Alquran dan Kanjeng Kiai Bharatayuda. Selain itu juga masih ada naskah pusaka lain, yaitu Kanjeng Kiai Suryaraja yang disimpan di Prabayeksa. Naskah-­naskah tersebut ditulis dengan tulisan tangan yang indah, serta dihiasi oleh ragam hias tumbuhan dan geometris yang diterakan dengan cat air dan prada.

9. Enceh

Proses pengurasan enceh

Enceh atau kong adalah sebuah tempayan stoneware yang berukuran besar dan ditempatkan di halaman makam Sultan Agung di Imagiri. Terdapat 4 (empat) enceh di tempat tersebut, masing-masing diberi nama: Nyai Siyem, Kiai Danumaya, Kiai Mendhung, dan Nyai Danumurti. Sekali dalam setahun, yakni pada bulan Sura, air di ke-4 (keempat) tempayan ini dikuras dan diganti dengan air yang baru.

10. Kereta Kerajaan

Pusaka Kereta

Keraton Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Paku Alaman memiliki kereta-kereta yang saat ini disimpan di Museum. Pada kereta Kasultanan disimpan di Museum Ratawijayan, sedangkan pada kereta Paku Alaman disimpan di Museum Pura Paku Alaman. 

Museum Ratawijayan dahulu adalah sebuah garasi dan bengkel kereta keraton, sedangkan bangunan di sekeliling Museum Ratawijayan ini dahulu adalah gedhogan atau istal. Di Museum Ratawijayan saat ini terdapat sekitar 20 buah kereta. Sedangkan di Museum Paku Alaman terdapat 4 (empat) buah kereta yang berasal dari masa pemerintahan Paku Alam I disekitar tahun 1812-1829.

No comments: