Rumah Limas, Rumah Adat Palembang Provinsi Sumatera Selatan


Provinsi Sumatera Selatan merupakan sebuah provinsi di Pulau Sumatera yang sudah sejak lama berkembang dan bahkan pernah menjadi pusat dalam perniagaan Nusantara di masa lampau. Hilir mudik para pelaut dan para pedagang dari penjuru dunia yang singgah di Palembang sejak dimasa kekuasaan Kerajaan Sriwijaya sudah banyak mempengaruhi akan peradaban masyarakat di provinsi Sumatera Selatan ini. Meskipun demikian, kearifan lokal dari masyarakat suku aslinya, yaitu Suku Palembang nyatanya dapat menahan gempuran kebudayaan dari luar yang datang.

Salah satu bentuk kearifan lokal yang bertahan hingga saat ini adalah dengan adanya rumah adat Palembang Provinsi Sumatera Selatan yang bernama "Rumah Limas". Nah seperti apakah struktur, fungsi, dan ciri khas dari rumah adat tersebut? berikut ini penjelasannya.

Daftar Isi

1. Struktur Bangunan Rumah Limas

Nama "Limas" pada desain rumah adat Provinsi Sumatera Selatan ini kita ketahui berasal dari bentuk atapnya yang menyerupai piramida terpenggal (limasan). Rumah adat ini berstruktur rumah panggung dan tentunya berdiri di atas tiang-tiang besar. Tinggi tiang-tiang tersebut pun bervariasi, yaitu antara 0,5 sampai 3 meter tergantung dari tempatnya.

Bila rumah adat ini berdiri di daerah yang kerap tergenang tinggi, maka tiang dari rumah adat ini pun akan semakin tinggi. Begitu pula sebaliknya. Tiang rumah limas ini memiliki jumlah 32 buah atau kelipatannya ini biasanya terbuat dari bahan dasar kayu Ulen yang terkenal tahan lapuk.

Untuk menaiki rumah Limas, ada 2 (dua) tangga yang lokasinya berada di kiri dan kanan rumah. Kedua tangga tersebut akan mengantarkan kita ke teras yang dikelilingi oleh pagar kayu yang disebut dengan tenggalung. Pagar kayu keliling tersebut umumnya dilengkapi dengan berbagai macam ukiran bermotif flora yang bisa meningkatkan nilai estetika pada rumah adat Provinsi Sumatera Selatan ini dari tampak depan.

Struktur rumah panggung pada rumah adat ini juga membuat adanya ruang bawah rumah atau bagian kolong. Kolong tersebut umumnya difungsikan sebagai tempat dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari bagi para wanita.

Adapun untuk dibagian lantainya, Rumah Limas ini ada tingkatan berundak (kijing) yang mempunyai nilai filosofis tersendiri. Pada lantai rumah adat Provinsi Sumatera Selatan ini berupa susunan papan kayu trembesu (tembesu) yang dipasang secara horizontal. Papan kayu tersebut dipilih karena mempunyai struktur yang ringan namun sangat kuat. Papan tembesu juga dipakai sebagai dinding dan rangka pada atap. Sementara pada bagian atapnya sendiri terbuat dari genting tanah biasa.

2. Fungsi Rumah Limas

Selain berfungsi menjadi ikon kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan, di masa lampau rumah adat Limasini juga berfungsi sebagai tempat hunian bagi masyarakat Suku Palembang. Dalam hal menunjang fungsi tersebut, rumah Limas ini dibagi menjadi beberapa bagian dan tentunya sesuai dengan peruntukannya. Berikut ini adalah bagian-bagian dari rumah Limas :
  1. Pada bagian depan ada jogan, gegajah, ruang kerja, dan amben. Keseluruhan ruangan tersebut menjadi ruangan utama ketika pemilik rumah menggelar sebuah acara (hajat), seperti halnya upacara adat, kenduri, penerimaan tamu, dan pertemuan penting lainnya. Oleh sebab itu, di bagian-bagian ruangan ini juga akan menemukan berbagai hiasan, seperti lemari kaya yang berisikan pajangan sebagai pemisah antara ruang tengah dan depan.
  2. Pada bagian tengah ada kamar bagi Kepala Keluarga, Pangkeng Keputran (kamar anak laki-laki), Pangkeng Kaputren (kamar anak perempuan), Ruang Keluarga, Pangkeng Penganten (kamar pengantin), dan Ruang Anak Menantu. Ruangan dibagian tengah ini bersifat privat. Tidak semua orang diizinkan masuk kedalam kecuali anggota keluarga pemilik rumah. 
  3. Pada bagian belakang ada dapur (pawon), Ruang Pelimpahan, Ruang Hias, dan Toilet. Para wanita biasanya akan banyak beraktivitas di bagian belakang ini.

3. Ciri Khas dan Nilai Filosofis Rumah Limas

Terdapat beberapa ciri khas dari rumah adat Limas ini yang membedakan dengan rumah adat lainnya di Indonesia. Ciri khas tersebut bukan hanya terletak pada segi bentuk bangunannya, namun juga dalam nilai-nilai filosofis yang disimbolkan ke dalam aturan-aturan khusus.

Rumah adat Provinsi Sumatera Selatan ini mempunyai pagar di bagian berandanya. Pagar yang menjulang tinggi dan mengelilingi keseluruhan bagian beranda ini mengandung nilai filosofis jika anak perempuan ataupun gadis palembang haruslah terjaga dari kehidupan lingkungan luar. Hal ini juga menyimbolkan bahwa mereka harus mempunyai pelindung untuk menjaga harkat dan juga harga dirinya di lingkungan.

Lantai pada rumah ini mempunyai tingkatan yang berundak (kekijing). Setidaknya ada 3 buah tingkatan di bagian depan rumah yang umumnya digunakan untuk menggelar acara adat. Semakin tinggi tingkatan lantai, maka para tamu yang duduk di lantai tersebut kedudukannya di dalam tata adat dan juga pemerintahan juga semakin tinggi pula.

Rumah limas ini dibangun dengan menghadap ke arah timur dan barat. Aturan tersebut berlaku karena suku Palembang menganut sebuah falsafat, yaitu Matoari eedoop dan matoari mati, yang artinya adalah matahari terbit dan matahari terbenam. Falsafah tersebut mempunyai nilai filosofis bahwa masyarakat Palembang harus secara proporsional dalam mengingat bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara.

No comments: