Reog Sunda, Kesenian Tradisional Dari Jawa Barat

Advertisement

Advertisement
Advertisement

Reog Sunda adalah salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Bandung, Jawa Barat. Reog Sunda merupakan kesenian perpaduan antara seni tari, lawak, lagu, dan cerita yang berisikan kritik sosial dan juga pesan keagamaan tanpa adanya unsur magis.

Daftar Isi

Fungsi Reog Sunda

Awal mula fungsi dari kesenian Reog Sunda ini adalah untuk media dakwah atau media penerangan yang menonjolkan nilai sosial dan juga pendidikan yang budi pekerti, namun perlahan-lahan kesenian Reog Sunda bertambah fungsinya yaitu untuk media hiburan.

Pertunjukan Reog Sunda

Dalam pertunjukannya, durasi kesenian Reog Sunda ini biasanya akan memakan waktu antara 1 sampai dengan 1.5 jam, dimana kesenian ini akan dipentaskan oleh 4 pemain. Masing-masing pemainnya tersebut akan membawa alat musik tradisional bernama "dogdog" atau gendang yang terbuat dari bahan dasar bambu.

Satu pemain akan berperan sebagai Dalang dan bertugas untuk mengendalikan permainan serta akan membawa alat musik yang disebut dengan "Tilingtingtit" berukuran 20 centimeter. Seorang lagi akan berperan sebagai wakil dalang serta akan membawa alat yang disebut dengan "Penempas" berukuran 25 centimeter. Dua orang sisanya sebagai peran pembantu yang umumnya akan membawa alat musik bernama "brangbang" yang berukuran 30 sampai 35 centimeter dan Badublang yang berukuran 45 centimeter.

Pengiring Reog Sunda

Selain ke-5 alat musik tersebut (dogdog, Tilingtingtit, Penempas, brangbang, dan Badublang) masih ada lagi alat musik lainnya yang umumnya dibawa oleh para pemain sebagai pelengkap, seperti kendang, terompet, gong dan kecapi. Ada juga alat musik modern yang dipakai, seperti keyboard dan gitar. Di dalam kesenian ini juga ada penabuh waditra yang biasanya memakai beberapa perlengkapan alat musik tradisional seperti saron, rebab, gendang, gambang dan lain sebagainya.

Ada beberapa bentuk penyajian lagu-lagu yang biasa dibawakan untuk mengiringi Reog Sunda dan tentunya mempunyai ciri khas tersendiri, seperti kadipaten, rereongan, tilil, sisindiran, sintren, dan lain sebagainya. Selain itu terdapat 2 pola di dalam penyajiannya, yakni pola tabuhan kempringan yang mempunyai tempo lambat dan pola kekeringan atau irama cepat. Pola tabuhan kempringan berfungsi sebagai pengiring lagu, sedangkan pola kekeringan umumnya ditampilkan di babak awal pertunjukan.

Perkembangan Reog Sunda

Dalam perkembangannya, awal mula kesenian Reog Sunda ini ditayangkan di TVRI maupun di televisi swasta dengan memakai bahasa Indonesia dan mendapatkan sambutan yang sangat bagus. Reog Sunda ini sendiri juga kerap digelar di berbagai acara oleh masyarakat. Tetapi semakin lama kesenian Reog Sunda semakin memudar.

Kesenian ini bahkan jarang sekali tampil di media maupun di acara-acara masyarakat, peminatnya pun juga sudah mulai berkurang. Jika masih ada pagelaran acara semacam kesenian Reog Sunda, para penonton pun hanya berasal dari kalangan generasi tua. Namun sebagai bentuk upaya dalam melestarikan kebudayaan Reog Sunda, pihak pemerintah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, kerap mengadakan acara perlombaan kesenian Reog Sunda yang dimana para pesertanya berjumlah kurang lebih 30 grup.
Advertisement