Tari Belian Bawo, Tarian Tradisional Dari Kalimantan Timur

Advertisement

Advertisement
Advertisement

Tari Belian Bawo merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Suku Dayak di Kalimantan Timur. Tarian ini kerap ditampilkan dalam berbagai macam upacara adat suku Dayak. Kata belian bawo pada tarian ini berasal dari kata belian dan bawo. Belian artinya cara penyembuhan orang sakit, sedangkan bawo artinya bukit atau gunung. Sesuai dengan namanya, bagi suku dayak yang berdiam di Kutai Tari Belian Bawo ini berfungsi sebagai media pengobatan. Selain untuk pengobatan, tarian ini juga kerap dipakai untuk memanggil hantu atau yang dalam bahasa benuaq sering disebut dengan Belih atau Uo’q.

Jika penyakit tersebut disebabkan oleh santet maka disaat itu pasien dapat memutuskan apakah akan mengirim balik santet tersebut atau memberikannya kepada tumbal yang umumnya adalah hewan, seperti ayam atau babi. Jika sakit pasien ada dibagian perut, maka si pembelian akan menghisap perut pasien tersebut dan kemudian mengeluarkannya.

Namun jika sakit pasien bukan disebabkan pengaruh magis dan memerlukan obat-obatan, maka salah satu dari penari akan terjun dari atas lamin dan menghilang hingga 1 jam atau lebih untuk mencari obat-obatan. Setelah itu, kemudian penari tersebut kembali dengan membawa obat-obatan yang diperlukan. Ketika itu biasanya juga ada diantara para penonton yang tanpa sadar ikut menari. Jika tahapan pengobatan ini selesai, biasanya irama dan ritme musiknya akan berubah menjadi lebih lembut.

Untuk irama dan ritme musik pada Tari Belian Bawo umumnya ada aturannya tersendiri, bila salah satu pemain musik tidak benar dalam memainkan alat musik maka ritual tersebut akan gagal, dan si pembelian akan mengalami kesurupan yang sangat tidak wajar, bila hal tersebut sampai terjadi maka musik harus dinetralkan kembali atau membuat kembali seperti biasa. Ritual ini umumnya akan berlangsung selama 1 malam, tetapi terkadang juga bisa sampai beberapa hari.

Setelah pengobatan oleh Belian, maka pasien harus melakukan pantangan selama 1 hari. Pantangan tersebut adalah tidak diperbolehkan memakan makanan terlarang, seperti asam, rebung, terong, dan semua jenis hewan melata. Selain itu pasien juga tidak diperbolehkan keluar rumah dan suasana rumah pun harus sepi serta tidak diperkenankan untuk menerima tamu. Suasana tersebut biasanya akan ditandai dengan penancapan dahan dan daun kayu hidup dibagian samping pintu masuk ke dalam rumah bagian luar. Pelanggaran atas pantangan ini bisa mengakibatkan kambuhnya penyakit serta susah untuk dirawat kembali.

Dalam perkembangannya, saat ini belian bawo sudah jarang sekali dilakukan oleh masyarakat. Hal tersebut disebabkan oleh berkurangnya penerapan ajaran kepercayaan asli masyarakat sesudah masuknya ajaran agama Kristen. Selain itu kemajuan didalam bidang pendidikan juga memengaruhi pola berpikir masyarakat dimana lebih mempercayai pengobatan medis dibandingkan dengan pengobatan secara tradisional.
Advertisement