Inilah 8 Tarian Tradisional Dari Maluku Utara Dan Penjelasannya

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Inilah 8 Tarian Tradisional Dari Maluku Utara Dan Penjelasannya

Provinsi Maluku Utara merupakan provinsi yang baru terbentuk pada tanggal 4 Oktober 1999 lalu. Provinsi ini memisahkan diri dari Provinsi Induknya, yaitu Provinsi Maluku melalui otonomi daerah serta menjadikan kota Sofifi sebagai ibukotanya. Di provinsi Maluku Utara ini tinggal berbagai macam suku bangsa dengan kebudayaanya masing-masing. Adapun jika lihat dari sejarahnya, di wilayah Maluku Utara di masa lampau ini berdiri 2 kerajaan besar yakni kerajaan Ternate dan Tidore. Dari sejarah inilah kebudayaan Provinsi Maluku Utara terbentuk.

Berbicara mengenai kebudayaan Provinsi Maluku Utara, pada kali ini kami akan membahas salah satu aspek penting di dalam kebudayaan Provinsi Maluku Utara, yaitu tentang tarian tradisionalnya. Nah apa sajakah tarian tradisional yang berasal dari Maluku Utara? berikut ini penjelasannya.

Daftar Isi

1. Tari Cakalele 

Tari Cakalele, Tarian Tradisional Dari Maluku Utara
Tari Cakalele

Tari Cakalele adalah salah satu tarian tradisional sejenis tarian perang yang berasal dari Provinsi Maluku Utara. Tarian ini umumnya ditarikan oleh para penari pria, namun ada juga beberapa para penari wanita sebagai penari pendukung. Menurut beberapa dari sumber sejarah yang ada, Tari Cakalele ini dahulunya berasal dari tradisi masyarakat Maluku Utara. Disaat itu tarian ini dilakukan sebagai tarian perang bagi para prajurit sebelum menuju ke medan perang ataupun sepulang dari medan perang. Selain itu juga tarian ini sering dijadikan sebagai bagian dari tradisi upacara adat masyarkaat disana.

Tari calale ini lalu meluas ke daerah-daerah sekitar, karena pengaruh dari kerajaan pada saat itu. Tarian ini kemudian dikenal di daerah lain seperti di Maluku Tengah dan sebagian wilayah di Sulawesi, salah satunya di Sulawesi Utara. Dikalangan masyarakat Minahasa, Cakalele ini juga dikenal menjadi bagian dari tarian perang mereka, yakni Tari Kabasaran.

Pada saat ini, Tari Cakalele tidak lagi difungsikan sebagi tarian perang, tapi lebih sering ditampilkan dalam acara yang sifatnya pertunjukan ataupun perayaan adat. Bagi masyarakat disana, Tari Cakalele ini dimaknai sebagai wujud apresiasi serta penghormatan masyarakat terhadap para leluhur atau nenek moyang mereka. Selain itu juga Tari Cakalele menggambarkan jiwa masyarakat Maluku yang sangat pemberani dan tangguh, hal ini bisa dilihat dari gerakan dan juga ekspresi para penari pada saat menarikan Tari Cakalele ini. Selengkapnya tentang Tari dapat anda lihat pada artikel berjudul "Tari Cakalele, Tarian Tradisional Dari Provinsi Maluku Utara".

2. Tari Lalayon

Tari Lalayon, Tarian Tradisional Dari Maluku Utara
Tari Lalayon

Tarian ini merupakan tari pergaulan yang berisikan pesan-pesan berbau romantis dan cinta. Karena tarian ini berisikan pesan-pesan berbau romantis dan cinta, maka, tarian ini biasa akan dibawakan secara berpasangsan dan memiliki gerakan-gerakan yang indah disepanjang babak tariannya. Lagu yang berirama Melayu juga menjadi elemen terpenting didalam membentuk atmosfir romantis yang akan mendukung tersampainya pesan. Selengkapnya tentang Tari dapat anda lihat pada artikel berjudul "Tari Lalayon, Tarian Tradisional Dari Maluku Utara".
Advertisement

3. Tari Salai Jin

Tari Salai Jin, Tarian Tradisional Dari Maluku Utara
Tari Salai Jin

Tari Salai Jin adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Ternate, Provinsi Maluku Utara. Tarian ini sarat akan nilai magis dan merupakan tarian dari etnik suku asli Ternate. Inti dalam tarian ini adalah sebuah pesan dari para makhluk gaib yang berupa mahluk Jin.

Pada zaman dahulu, Tari Salai Jin ini dipakai oleh nenek moyang dari masyarakat Ternate untuk berkomunikasi dengan bangsa Jin yang ada di alam gaib. Tujuan dari komunikasi tersebut adalah untuk meminta bantuan kepada para Jin untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang tengah dihadapi oleh manusia. Salah satu persoalan yang paling umum menjadi alasan tarian ini diadakan adalah penyakit yang sedang diderita oleh salah seorang dari anggota keluarga. Selengkapnya tentang Tari dapat anda lihat pada artikel berjudul "Tari Salai Jin, Tarian Mistis Dari Ternate Maluku Utara".

4. Tari Soya-Soya

Tari Soya-Soya, Tarian Tradisional Dari Maluku Utara
Tari Soya-Soya

Tari Soya-Soya adalah tarian tradisional yang berasal dari Maluku Utara. Meskipun saat ini tari Soya-Soya hanya ditampilkan dalam pembukaan suatu acara atau pada saat menyambut tamu kehormatan, namun Tari Soya-soya ini memainkan peran yang penting terhadap masyarakat Maluku Utara. Dahulu, Tari Soya-soya ini merupakan tarian yang ditampilkan dalam menyambut pasukan setelah perang.

Tari Soya-soya merupakan sebuah tarian perang yang diciptakan oleh Sultan Baabullah sebagai penyemangat para pasukan Ternate pasca tewasnya Sultan Khairun. Sultan Khairun adalah ayahanda dari Sultan Baabullah yang tewas saat merebut Benteng Nostra Senora del Rosario (Benteng Kastela) dari tangan Portugis pada 25 Februari 1570. Pada saat itu, tari Soya-soya ini dimaknai sebagai tarian perang pembebasan dari tangan Portugis. Selengkapnya tentang Tari dapat anda lihat pada artikel berjudul "Tari Soya-Soya, Tarian Tradisional Provinsi Maluku Utara".
Advertisement

5. Tari Tide Tide

Tari Tide Tide, Tarian Tradisional Dari Maluku Utara
Tari Tide Tide

Tari Tide Tide adalah tarian tradisional yang berasal dari Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Tarian ini biasanya ditarikan secara berpasangan oleh penari pria dan wanita pada acara tertentu. Menurut sejarahnya, Tari Tide Tide dahulunya merupakan tarian pergaulan masyarakat yang ditarikan oleh para pemuda-pemudi di Halmahera Utara. Tarian ini biasanya ditampilkan disaat pesta adat atau acara yang bersifat hiburan lainnya. Kemudian kebiasaan ini berlanjut sehingga menjadi suatu tradisi dan masih dilestarikan sampai saat ini.

Tari Tide Tide ini biasanya akan ditampilkan sebagai bagian dari suatu acara serta difungsikan dalam memeriahkan acara tersebut. Bagi masyarakat disana, tarian ini dimaknai sebagai bahasa pergaulan yang akrab. Selain itu, jika dilihat dari gerakannya, Tari Tide Tide ini juga dapat diartikan sebagai romantisme dan keharmonisan para pemuda-pemudi di Halmahera Utara. Selengkapnya tentang Tari dapat anda lihat pada artikel berjudul "Tari Tide Tide, Tarian Tradisional Dari Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara".

6. Tari Gumatere

Tari Gumatere, Tarian Tradisional Dari Maluku Utara
Tari Gumatere

Tari Gumatre merupakan tarian tradisional rakyat Morotai yang dimaksudkan untuk meminta petunjuk terhadap suatu persoalan maupun fenomena alam yang sedang terjadi. Tarian tradisional ini biasanya akan dibawakan oleh sekitar 30 orang penari pria dan wanita, dimana penari pria memakai tombak dan pedang sebagai propertinya, sedangkan untuk penari wanita memakai lenso. Yang unik pada tarian ini yaitu salah seorang penari akan memakai kain berwarna hitam, nyiru, serta lilin untuk ritual meminta petunjuk atas suatu kejadian.
Advertisement

7. Tari Dengedenge

Tari Dengedenge merupakan tarian pergaulan yang berasal dari Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Tarian ini umumnya dibawakan oleh sekelompok para penari pria dan wanita. Dalam pertunjukannya, para penari tersebut akan diiringi oleh nyanyian-nyanyian yang berupa syair pantun dan mempunyai makna cinta dan harapan dimasa depan, dimana nyayian-nyanyian tersebut dibawakan dengan cara saling berbalas-balasan. Bahkan tidak jarang pula Tari Dengedenge ini diakhiri dengan sebuah kesepakatan untuk menikah diantara si penari wanita dan pria. Nyanyian pengiring ini biasanya dibawakan dengan cara saling berbalas-balasan.

8. Tari Lelehe

Tari Lelehe adalah tarian tradisional yang berasal dari kebudayaan masyarakat suku Tobelo. Tarian ini umumnya dibawakan oleh seorang penari pria dan wanita, dimana para penari tersebut bisa orang dewasa maupun anak-anak. Para penari Tari Lelehe umumnya akan memakai 2 alat yang berbahan dasar dari bambu dan berukuran 2 sampai 3 meter sebagai perlengkapan tarian. Dalam perkembangannya tarian ini biasanya dipertunjukan diacara-acara adat, malam perkawinan, dan di acara festival budaya.
Advertisement