10 Kebudayaan Aneh dan Mengerikan Pada Zaman Dulu


Kebudayaan adalah sebuah nilai atau kebiasaan yang menjadi jati diri sebuah kelompok orang atau komunitas. Seiring dengan berjalannya waktu, kebiasaan itu berkembang serta berubah. Perubahan seperti itu merupakan sesuatu yang tidak dapat dipungkiri. Adanya kemajuan teknologi membuat beberapa sekelompok orang atau komunitas 'memodernisasikan' budaya mereka.

Namun hal tersebut tidak mengartikan bahwa kebudayaan itu hilang seutuhnya. Kebiasaan tersebut hanya diganti atau juga disederhanakan, menjadi sesuatu dapat diterima masyarakat sesuai pada zamannya. Itu mengapa praktik kebudayaan yang dilakukan oleh nenek moyang pada dahulu kala, sulit dimengerti bagi kebanyakan orang masa ini, seperti rasa sakit yang harus diderita saat menjalani ritual, risiko yang tinggi dan berbahaya, serta tidak masuk akal.

Berikut 10 contoh kebiasaan zaman dahulu yang tidak berkembang di masa sekarang.

Daftar Isi

1. Pengikatan Kaki (Foot Binding)

Pengikatan Kaki (Foot Binding)
Pengikat Kaki (Foot Binding)

Tidak ada yang tahu pasti dimana dan kapan asal mula kebudayaan kuno yang satu ini. Namun beberapa sumber yang ada mengatakan bahwa, tradisi mengikat kaki (foot binding) diduga berasal dari zaman Dinasti Shang (1700-1027 SM).

Konon kebiasaan tersebut dikabarkan bermula dari Permaisuri Shang yang pada bentuk kakinya memiliki kelainan. Kelainan tersebut membuatnya tidak bisa meletakkan kaki pada suatu bidang datar. Oleh karena itu permaisuri memerintahkan agar semua perempuan di wilayahnya harus mengikat kaki mereka.

Namun, menurut buku catatan sejarah dari Dinasti Song (960-1279 M), kebiasaan tersebut berawal pada masa kejayaan Li Yu (penguasa China pada 961-975M). Kebudayaan mengikat kaki menyebar luas hingga pada abad ke-16, sehingga setiap wanita Dinasti Qing yang ingin menikah harus mengikat kaki mereka terlebih dahulu.

2. Gajah Algojo

Gajah Algojo
Gajah Algojo

Dulu kala, terdapat beberapa komunitas di dunia menggunakan gajah sebagai algojo dalam melakukan eksekusi mati serta hukuman.Metode hukuman seperti ini dulunya dilakukan di Barat, namun lebih sering digunakan di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara, terutama negara India.

Jenis hukuman ini juga dikenal dengan sebutan Gunga rao dan telah digunakan di negara tersebut sejak abad pertengahan. Gunga Rao sering dilakukan pada Abad ke-19. Hukuman kejam tersebut dihentikan ketika Inggris mulai menjajah India.

3. Seppuku

Seppuku
Seppuku

Seppuku adalah sebuah tradisi mensucikan nama baik yang populer di kalangan Samurai Jepang. Seppuku merupakan praktik membunuh diri sendiri dengan cara menusuk perut hingga mengeluarkan isinya, yang dilakukan untuk mengembalikan nama baik mereka. Salah satu praktik Seppuku yang terkenal dan pernah dilakukan adalah kematian samurai Minamoto Tametomo dan penyair Minamoto Yorimasa pada akhir Abad ke-12.

Seppuku dilakukan dengan cara mengembangkan kasur putih yang dikelilingi oleh saksi mata.Samurai yang melaksanakan Seppuku akan duduk di tengah-tengah dengan mengenakan pakaian kimono putih. Di sebelahnya akan duduk samurai kedua yang bersiap memenggal nyawa pelaku Seppuku, setelah samurai pertama selesai menyayat perutnya. Hal tersebut dilakukan agar pelaku seppuku tidak merasakan sakit terlalu lama.

4. Hak Tinggi

Hak Tinggi
Hak Tinggi

Hak tinggi merupakan salah satu dari tren sepatu yang sangat populer di kalangan wanita. Namun ternyata pada zaman dahulu model sepatu tersebut juga digunakan oleh pria. Tidak ada yang tahu dengan pasti kapan hak tinggi pertama kali diciptakan. Namun jenis sepatu itu sering digunakan oleh aktor Yunani kuno. Sepatu yang disebut kothorni itu digunakan dari sekitar tahun 200 Sebelum Masehi. Awalnya sepatu tersebut menggunakan sumbat kayu sebagai haknya. Perbedaan tinggi dari hak sepatu seseorang kala itu untuk menentukan status sosial mereka di kalangan masyarakat.

Pada abad pertengahan, sepatu hak tinggi juga populer oleh pria dan wanita di Eropa. Alas kaki yang digunakan mereka pada zaman itu dikenal dengan sebutan pattens. Pattens atau alas hak sepatu digunakan untuk melindungi sepatu dari jalanan yang berlumpur dan becek. Selain untuk melindungi sepatu dari lumpur, pattents atau hak sepatu juga digunakan untuk menjaga keawetan sepatu yang kala itu banyak terbuat dari bahan mahal dan rapuh.

5. Menghitamkan Gigi

Menghitamkan Gigi
Oghaguro

Kebudayaan menghitamkan gigi atau yang disebut Ohaguro sangat populer di Jepang kuno. Umumnya praktik budaya tersebut dijalankan kepada para wanita muda Negeri Sakura. Menghitamkan gigi mengartikan sebagai lambang kematangan seksual seorang wanita dan kecantikan kala itu.

6. Tumbal Manusia

Tumbal Manusia
Tumbal Manusia

Menjadikan manusia sebagai tumbal atau persembahan merupakan praktik yang banyak dilakukan oleh komunitas manusia pada zaman kuno. Terutama di negara China dan Mesir. Kuburan penguasa dua negara itu dilubangi dan hasilnya berisikan banyak kerangka manusia, yang dipercaya bahwa arwahnya akan menjadi pelayan di kehidupan sesudah kematian.

Tidak hanya di dua negara tersebut, potongan kerangka manusia yang telah dijadikan tumbal dalam ritual tersebut juga dapat ditemukan di Eropa. Sementara pengorbanan bagi suku Aztek dan Maya dilakukan dengan cara meletakkan jantung yang masih berdetak di atas altar kuil.

7. Kosmetik Kotoran Buaya

Kosmetik Kotoran Buaya
Kosmetik Kotoran Buaya

Bangsa Romawi menggunakan riasan wajah dalam mempertahankan kecantikan alami yang dimiliki seorang wanita. Bagi masyarakat bangsa Romawi, kecantikan adalah memiliki wajah dan kulit yang putih tanpa ada corak warna-warni pada kanvasnya. Semakin putih wanita maka akan semakin dianggap cantik. Hal itu membuktikan kepada penduduk bahwa wanita tersebut jarang keluar rumah.

Namun, dikarenakan kulit bangsa Romawi pada dasarnya memiliki warna kuning langsat, bukannya putih gading, mereka tetap saja menggunakan beberapa bahan pemutih kulit. Contohnya seperti menggunakan kotoran buaya, bubuk kapur, dan timah putih untuk memutihkan seluruh wajah mereka.

8. Kebiri Kasim

Kebiri Kasim
Kebiri Kasim 

Pada zaman China kuno hingga Dinasti Sui, hukum kebiri merupakan salah satu dari Lima hukuman fisik yang diberlakukan dalam hukum pidana. Pengebirian juga merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan pekerjaan di layanan kekaisaran. Pada masa kejayaan Dinasti Han, para kasim akan pada berdatangan ke istana, untuk mendapatkan kesempatan mengabdi di dalam kekaisaran.

Di sanalah mereka juga dapat mengumpulkan kekuatan politik dalam jumlah yang sangat besar. Kasim tidak pernah dianggap sebuah ancaman bagi penguasa. Hal tersebut dikarenakan orang yang telah dikebiri tidak akan bisa memiliki anak dan juga tidak dapat mewariskan kekuasaan pada keturunannya. Oleh sebab itu, kaisar yang memiliki banyak selir tidak akan khawatir selirnya dihamili oleh pria lain selain dirinya.

9. Harem

Harem
Harem

Kata Harem berasal dari Bahasa Arab yang berarti tempat terlarang. Harem adalah ruang lingkup rumah tangga yang terdiri dari ayah, ibu, istri, anak, dan selir, serta terlarang bagi laki-laki selain suami atau ayah. Kehidupan harem sangat tertutup. Tidak ada yang mengetahui secara pasti seperti apa kehidupan di dalamnya. Menurut catatan sejarah di zaman Kekaisaran Ottoman, harem sangat berperan sebagai tempat pelatihan dan pendidikan calon istri raja.

10. Membuat Diri Sendiri Menjadi Mumi

Membuat Diri Sendiri Menjadi Mumi
Mumi Biksu

Membuat tubuh diri sendiri menjadi mumi populer banyak dilakukan di kalangan biksu di China dan Jepang. Saat itu mereka percaya bahwa dengan kondisi tubuh mereka yang utuh, arwah mereka dapat mencapai dunia lain dengan selamat. Oleh sebab itu banyak biksu yang berlatih keras sehingga membuat tubuh mereka berubah menjadi mumi dengan melalui proses yang rumit dan sulit.
Suka artikel berjudul 10 Kebudayaan Aneh dan Mengerikan Pada Zaman Dulu, Yuk bagikan ke: