Alat Musik Tradisional Gamelan Sekaten

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Alat Musik Tradisional Gamelan Sekaten

Gamelan Sekaten adalah sebuah perangkat gamelan yang paling dianggap berkaitan dengan upacara agama Islam dan diduga telah ada sejak zaman Majapahit. Kegiatan sekatenan ini telah ada sejak zaman kerajaan Demak, yaitu sebuah kerajaan Islam pertama di tanah Jawa di pertengahan abad ke-16.

Tentang asal-usul dari nama sekaten ada beberapa pendapat. Nama Sekaten sering dikaitkan-kaitkan dengan kata syahadatain, yaitu kalimat syahadat yang harus diucapkan kepada seseorang saat masuk agama Islam.

Nama Sekaten ini ada juga yang mengaitkan dengan jarwa dhosok, yang didalam bahasa Jawa sisig (ing) ati, yang katanya menggambarkan kesesakan perasaan orang-orang yang sedang berdesa-desakan datang begitu mendengar suara gamelam yang aneh ini, namun ada juga yang mengaitkan dengan ukuran satuan berat yang dipakai oleh masyarakat Jawa di masa lalu yaitu sekati.

Hal ini kemudian dihubungkan dengan ukuran besarnya gamelan dan yang paling berat di antara gamelan yang telah ada. Di Kraton Surakarta terdapat gamelan Kyai Guntur Madu dan juga gamelan Kyai Guntur Sari yang sengaja dibuat dalam ukuran besar untuk menghasilkan sebuah suara yang keras sehingga dapat terdengar dari jarak jauh untuk menarik para rakyat sehubungan dengan sarana dakwah dari agama Islam.

Ricikan pada gamelan Sekaten di Surakarta adalah satu rancak bonang yang terdiri dari ricikan bonang dan penembung ini ditabuh oleh tiga orang pengrawit, memiliki dua rancak saron demung, empat rancak saron barung, satu rancak kempyang, sebuah bedhug, dua rancak saron penerus, dan sepasang gong besar pada satu gayor

Semua gamelan ini berlaras pelog dan terbuat dari bahan perunggu. Adapun gending sekatenan yang harus disajikan adalah ladrang Rangkung, ladrang Rambu, ladrang Barang Miring, dan juga ladrang Glana.

Gamelan Sekaten ini dibunyikan sekali dalam setahun yaitu hanya pada upacara memperingati kelahiran dari Nabi Muhammad S.A.W. di bulan Mulud (Jawa). Di keraton Surakarta gamelan sekaten ini menyertai prosesi gunungan yang dimulai dari bangsal Smarakata, lalu melewati Sitinggil, alun-alun utara, hingga di Halaman Masdjid Agung.