Kesenian Slawatan

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Slawatan adalah kesenian teater tradisional yang ada di DI.Yogyakarta. Slawatan ini merupakan salah satu kesenian rakyat yang bernafaskan dari agama Islam. Alat musik yang dipakai dalam kesenian ini yaitu berupa rebana (terbang, Jawa) dan sejenisnya. Kesenian ini dinamakan Slawatan dikarenakan dalam pertunjukan para pemain akan mengucapkan atau menyanyikan shalawat (pujian untuk nabi) atau paling tidak para pemain akan menampilkan unsur shalawat di dalam pertunjukannya.

Syair shalawat dikesenian ini ditulis dalam sebuah buku yang sering disebut Kitab Barzanji. Kitab ini berisi tentang puji-pujian atas kebesaran dari Nabi Muhammmad S.A.W. dan serta ikut bergembira atas kelahirannya di dunia. Jenis dari slawatan ini muncul saat agama Islam mulai menyebar dengan mendalam di kalangan masyarakat Jawa di sekitar abad ke XVI. Kesenian Slawatan ini fungsinya adalah sebagai alat penyiaran agama Islam, di samping sebagai tontonan atau hiburan yang menarik.

Di indonesia sendiri terdapat beberapa kesenian yang termasuk kesenian slawatan, diantaranya adalah Slawatan Maulud, Slawatan Laras Madya, Barzanji, Rodad atau Slawatan Rodad, Emprak, Angguk, Trengganan atau kuntulan, Peksi Moi, nDolalak, Badui, Kobrasiswa, Samroh atau Qosidahan.

Kesenian Slawatan Maulud inilah yang sering dikenal oleh masyarakat umum sebagai kesenian Slawatan. Sejak dahulu sampai saat ini, kesenian Slawatan Maulud ini tetap hidup dan tidak pernah ada berubah (masih seperti aslinya).

Kesenian ini sebenarya bukanlah seni pertunjukan, artinya kesenian ini tidak ditonton untuk umum. Kalau pun ada penonton dikesenian ini, kedudukan mereka hanyalah sebagai pendengar. Pementasan Slawatan Maulud dapat dijalankan minimal oleh 6 orang dan maksimal 40 orang, walaupun demikian umumnya kesenian ini dijalankan oleh sekitar 15 sampai 20 orang. Kostum di kesenian ini biasaya menggunakan kostum yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari dan tidak memakai riasan muka.

Biasanya pertunjukan kesenian ini diadakan di masjid atau pun di langgar, namun sering juga di adakan di rumah penduduk. Vokal yang disampaikan dalam bentuk nyanyian yang berbahasa Arab. Pertunjukan Slawatan ini tidak memakai naskah, namun menggunakan pedoman kitab Barzanji. Namun ada pula teks yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, sehingga nyanyiannya menggunakan berbahasa Jawa, sehingga jenis kesenian ini disebut dengan Slawatan Maulud Jawi.

Penyelenggaraannya dari kesenian ini dilakukan pada waktu malam hari selama kurang lebih 8 jam dan dimulai dari jam 20.00 sampai jam 04.00. Alat penerangan dalam kesenian ini adalah petromak untuk saat ini, dan untuk masa lalu menguunakan lampu keceran atau lampu gantung.

Instrumen musik yang dipakai diantara adalah rebana yang terdiri dari beberapa buah menurut ukuran dan juga nadanya, kendang (dodog dan beb), kenting, kempul, ketuk dan gong.Pemain kesenian Slawatan ini semuanya adalah para laki-laki.

No comments: