Kesenian Tarian Rakyat Kobrasiswa



Kobrasiswa merupakan tarian rakyat yang menggambarkan sebuah kehidupan manusia dari lahir hingga akhir hayatnya. Pertunjukan Kobrasiswa dibagi menjadi dua bagian. Pertama adalah para penari-penari bagian Rodad dan kedua adalah para penari-penari bagian "start". Kostum penari ini bagian yang satu dengan yang lainnya berbeda.

Pertunjukan yang paling menarik dari Kobrasiswa ini ada di dalam babak kedua yaitu pada di bagian start. Di samping terdapat adegan kematian, disitu juga terdapat adegan semacam operet yang lucu dan lainnya yang bersifat humor. Selain itu sering ada juga adegan akrobatis yang sering disebut main komidi. Sekarang adegan main komidi telah ditiadakan dikarenakan dianggap dapat membahayakan keselamatan para pemain. Yang masih dipertahankan hanyalah adegan-adegan akrobatis yang bersifat ringan ringan saja.

Menurut keterangan orang Tempel, kesenian ini berasal dari daerah Mendut. Adapun fungsi dari pertunjukan ini hanyalah sebagai tontonan atau hiburan bagi masyarakat umum. Jumlah pemain di kesenian Kobrasiswa ini tidak tentu, tergantung dari banyak atau sedikitnya anggota. Dari semua pertunjukan Kobrasiswa yang pernah dijumpai jumlah para pemain ada sekitar 30 sampai 50 orang, terdiri dari seorang laki-laki yang berusia antara 9 sampai 30 tahun, dengan pembagian 40 orang untuk menjadi penari dan 10 orang untuk pemegang alat musik serta vokalis.

Kostum para pemain kesenian ini ada berbagai bermacam-macam, antara group satu dengan yang lainnya pun sering tidak sama. Kostum ini diantara terdiri dari tutup kepala, baju dan celana. Dalam hal menggunakan ikat kepala, ada para pemain yang menggunakan ikat kepala dari kain, atau menggunakan semacam kuluk seperti ditarian serimpi, atau juga menggunakan semacam caping kecil namun berbentuk kerucutnya tinggi (semacam kukusan, Jawa).

Untuk pakaiannya, ada yang menggunakan pakaian berwarna putih, ada yang menggunakan kaos oblong hitam, dan ada juga group yang menggunakan rompi. Untuk celananya, ada yang menggunakan celana panjang, tetapi juga ada yang menggunakan celana pendek. Ada juga group yang memakai kain dengan teknik pemakaian secara rampek di bagian rodadnya. Selain itu masih terdapat lagi kaos kaki dan juga sepatu kain.

Dalam soal tata rias wajah juga ada perbedaan antara group yang satu dengan group lainnya. Ada yang menggunakan rias muka, namun ada juga yang tidak. Di bagian rodad ini terdapat group yang menggunakan properti berupa pedang yang terbuat dari bambu dan perisai dari tambir atau juga tedol yang dibuat dari bambu.

Kostum para pemain pada bagian start biasanya sama antara group yang satu dengan group yang lain, yaitu menggunaka blangkon, iket (udeng), sarung, kain, baju surjan, kopiah hitam, kopiah putih, baju model kuno serta kacamata.

Pertunjukan Kobrasiswa ini umunya dilakukan dimalam hari dan akan memakan waktu kurang lebih 4 jam, yaitu dari jam 21.00 - 01.00, dengan menggunakan sebuah alat penerangan lampu petromak. Pada pertunjukan ini biasanya tidak ada pra-tontonan. Kalau pun ada hanya berupa lagu-lagu atau bunyi-bunyian dari vokalis dan juga pemegang instrumen musik.

Konsep untuk pentas yang digunakan adalah sebuah arena dengan desain lantai lingkaran dan juga lurus.Vokal akan disampaikan dalam bentuk nyanyian yang berbahasa Arab, Indonesia dan juga Jawa. Alat musik yang digunakan berupa 2 atau 3 buah bende, satu jedor, sebuah kendang, 1 tambur satu seruling, ketipung, terbang dan juga harmonika. Namun tidak semua group memakai alat musik selengkap ini dikarenakan prinsip dari instrumen pokoknya hanya berupa, bende 2 atau 3 buah dan 1 jedor saja.

Suka artikel berjudul Kesenian Tarian Rakyat Kobrasiswa , Yuk bagikan ke: