Kesenian Tarian Rakyat Rodad

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rodad merupakan kesenian tradisional tarian rakyat yang dalam pementasannya berupa tarian berkelompok dan berpasangan. Kesenian Rodad termasuk jenis slawatan yang lama, namun saat ini kesenian Rodad telah jarang sekali ditemui. Bahkan perkumpulan dari kesenian Rodad yang masih ada juga sudah jarang sekali mengadakan pementasan ini.

Jenis tarian Rodad ini dari dulu sampai saat ini masih bertahan seperti aslinya. Fungsi dari pertunjukan Rodad adalah sebagai tontonan untuk masyarakat umum. Pertunjukan ini bersifat gratis, jadi para penonton tidak dipungut biaya dalam melihat pertunjukan ini. Jumlah pendukung dari pementasan kesenian ini adalah sekitar 30 orang, yaitu terdiri dari 20 orang sebagai penari dan 10 orang sebagai pemain instrumen. Sama halnya dengan kesenian slawatan lainnya, Kesenian ini juga menggunakan pedoman Kitab Barzanji.

Para pemain kesenian ini menggunakan kostum seperti menggunakan peci, baju dan celana seragam.
Mereka selalu membawa kipas yang terbuat kertas atau sapu tangan sebagai perlengkapan tangan.Para penari kesenian ini berada dalam posisi duduk bersimpuh dan jengkeng. Hanya di waktu srokal saja para penari berdiri dengan posisi kaki tertutup. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa : "Gerak lebih dipusatkan ditangan serta kepala, yang memang mempunyai sentuhan spiritual dan terkadang dibarengi oleh liukan-liukan badan (torso)".

Pertunjukannya ini diselenggarakan pada malam hari selama 4 jam sampai 5 jam, yaitu dari jam 20.00 sampai jam 01.00. Alat penerangan yang digunakan pun pada zaman dahulu dan sekarang sudah berbeda. Pada zaman dahulu alat penerangan ini mengunakan obor dan untuk saat ini telah banyak memakai petromak. Sebelum pertunjukan ini dimulai terkadang dilakukan pembacaan ayat-ayat suci dari Al Qur’an, terkadang juga didahului oleh para pencak silat sebagai pra-tontonan.

Pertunjukan semacam ini umumnya mengambil tempat di dalam rumah para penduduk atau di serambi mesjid. Dalam tarian kesenian ini para penari tidak akan memakai riasan muka. Vokal yang disampaikan pun dengan nyanyian berupa bacaan shalawat. Bahasa yang digunakan biasaya dalam bahasa Arab, namun ada juga dalam bahasa Indonesia dan juga bahasa Jawa.

Instrumen yang digunakan pada kesenian ini adalah 4 buah terbang dan 1 jedor. Di dalam perkembangannya, instrumen-instrument ini ada yang ditambah dengan tambur (genderang) dan juga sempritan (peluit). Shalawat dibacakan secara bersama-sama dan bergantian antara kelompok penari dengan kelompok para pemain instrumen pengiring yang dipimpin oleh dalang yang sering disebut ro’is.


No comments: