Kesenian Tayub

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bentuk kesenian Tayub konon berasal dari pusat-pusat di kerajaan Jawa pada zaman dahulu, dan pada hakekatnya merupakan bagian dari sebuah rangkaian upacara keselamatan atau juga syukuran bagi para pimpinan pemerintahan yang mulai akan mengemban jabatan, misalnya di dalam rangka jumenengan (wisuda), pemberangkatan sang panglima ke medan perang, dan lain-lain.

Tayub adalah kesenian tari pergaulan, namun dalam perwujudannya dapat bersifat romantis dan dapat pula erotis. Pada pelaksanaannya para tamu akan mendapat persembahan sampur dari penari (ledhek). Para tamu itupun kemudian akan menari berpasangan dengan ledhek, seirama dengan iringan dari gamelan, sesuai dengan gending yang dipesan.

Pada awal mula pelaksanaan Tayuban tidak lebih dari sebuah kontes atau sebuah pameran keluwesan dan juga ketrampilan menari dengan berpasangan tanpa meninggalkan unggah-ungguh atau sopan santun di ketimuran.

Namun di dalam penyebaran di masyarakat, tarian ini kemudian telah terjadi sebuah penyimpangan, sehingga lebih cenderung untuk menimbulkan sebuah anggapan bahwa tayub ini merupakan bentuk dari kesenian yang menjurus terhadap perbuatan yang kurang susila.

Di sebuah desa Tengahan, Yogyakarta, tarian ini kini biasanya diselenggarakan dalam sebuah rangkaian upacara adat bersih desa, yakni angsung dahar kepada Kyai Tunggul Wulung untuk memberikan keselamatan desa tersebut. Kyai Tunggul Wulung ini merupakan tokoh tayub yang ada di desa (Tengahan).

Upacara bersih desa ini biasanya diadakan setiap setahun sekali dan biasanya sehabis panen. Di zaman dahulu tarian tayub yang berada di desa (Tengahan) ini diadakan pada malam hari, akan tetapi karena pertimbangan kesusilaan, saat ini diadakan pada siang hari. Dengan demikian fungsi dari kesenian Tayub di samping merupakan bagian dari sebuah rangkaian upacara adat juga sebagai tontonan atau hiburan.
Pendukung dari sebuah kesenian Tayub ini berjumlah sekitar 17 orang dengan para pemain pokok yang meliputi dua orang penari atau ledhek, dua orang vokalis wanita atau waranggana dan seorang vokalis pria atau wirosworo atau juga gerong. Penari Tayub ini mengenakan kostum yang realistis yaitu berupa rambut di sanggul bergaya Jawa, kain biasa dan kain selendang untuk penutup dada atau kemben.

Para tamu yang menjadi pengibing atau yang istilahnya ketiban sampur akan berpakaian Jawa lengkap yakni memakai blangkon, baju surjan, stagen, kain, dan kamusnya sebagai pengikat, beserta keris atau pendok.

Para pengibing dalam Tayub ini adalah seorang pria dewasa yang berumur kiaran 30 sampai 60 tahun. Setiap pengibing akan menggunakan teknik tari Jawa gagah atau halus dengan gaya improvisasi. Makin kaya gerakan yang dikuasainya, maka akan membuat adegan duet ini semakin meriah.

Pertunjukan ini diadakan pada siang hari selama 6 jam, yang dimulai dari jam 10.00 sampai jam 16.00. Pada jam 10.00 sampai jam 12.00 waktu diisi dengan klenengan sebagai pra-tontonan sebelum melakukan pertunjukan Tayub yang sebenarnya dimulai.

Tempat pementasan ini adalah arena dengan lantai yang terkadang berupa lingkaran, lurus dan juga sering pula garis-garis melengkung. Umumnya Tayub ini digunakan di pendopo Kelurahan ataupun Pedukuhan. Adapun instrumen alat musik yang dipakai yakni gamelan Jawa lengkap.

No comments: