Kesenian Tradisional Wayang



Di dalam bahasa Jawa, kata wayang sendiri dapat berarti bayangan. Jika dilihat dari arti filsafatnya, wayang ini dapat diartikan sebagai bayangan atau cerminan dari sifat-sifat yang ada di dalam jiwa manusia, seperti angkara murka, kebajikan, serakah dan lain-lainnya.

Untuk memperagakan suatu cerita wayang. Maka wayang akan dimainkan oleh seorang dalang yang dibantu oleh beberapa pemain penabuh gamelan dan satu atau dua orang waranggana yang sebagai vokalisnya. Di samping itu juga seorang dalang terkadang mempunyai seorang pembantu khusus untuk dirinya, yang bertugas mengatur wayang sebelum permainan wayang dimulai dan mempersiapkan jenis tokoh dari wayang yang akan dibutuhkan oleh seorang dalang dalam menyajikan cerita.

Fungsi dari dalang di sini adalah untuk mengatur jalannya pertunjukan secara keseluruhan. Dia inilah yang memimpin semua crewnya untuk luluh di dalam alur cerita yang disajikan. Bahkan sampai di adegan yang kecilpun harus ada kekompakan di antara semua crew kesenian ini. Dengan demikian, di samping dalang dituntut untuk dapat menghayati masing-masing karakter dari tokoh-tokoh di dalam pewayangan, dalang juga harus mengerti tentang gending atau lagu.

Seorang Dalang yang Sedang Memainkan Wayang

Desain lantai yang dipergunakan di permainan wayang ini berupa garis lurus. Dalam memainkan wayang, seorang dalang kan dibatasi oleh alas yang dipakai untuk menancapkan wayang-wayangnya. Di dalam pertunjukan wayang, terdapat ketentuan set kanan dan set kiri. Set kanan ini merupakan kumpulan tokoh-tokoh atau satria-satria pembela kebenaran dan juga kebajikan, sedangkan set kiri ini adalah tempat tokoh-tokoh angkara murka. Walaupun begitu, ketentuan ini tidak mutlak.

Untuk memperagakan berbagai setting atau dekorasi dan pergantian adegan biasanya akan dipakai simbol berupa gunungan. Pertunjukan wayang dapat dilakukan disiang maupun dimalam hari, atau sehari semalaman suntuk. Lama dari pertunjukan untuk satu lakon adalah sekitar 7 jam sampai 8 jam. Instrumen musik yang digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang ini secara lengkap adalah gamelan Jawa pelog dan juga slendro, namun jika tidak lengkap yang biasa digunakan adalah jenis slendro saja.

Vokalis putri di dalam iringan musik pada kesenian wayang ini disebut waranggono, waranggono ini bisa satu orang atau lebih. Di samping itu juga, masih ada vokalis pria yang sering disebut penggerong atau wirasuara, yang jumlahnya ada 4 sampai 6 orang dan bertugas untuk mengiringi waranggana dengan suara "koor". Vokalis pria ini dapat disediakan secara khusus atau dirangkap oleh pemain penabuh gamelan, sehingga penabuh gamelan ini juga penggerong.

Dalam menentukan sebuah lakon yang akan disajikan, dalang tidak dapat begitu saja memilih sesuai dengan kehendaknya. Dia dibatasi oleh beberapa faktor yang diantaranya adalah jenis wayang yang dipergunakan sebagai alat peragaan, kepercayaan masyarakat sekitarnya, keperluan diadakannya pertunjukan tersebut. Jenis wayang juga akan mempengaruhi lakon yang dapat disajikan lewat wayang-wayang tersebut.

Seperangkat wayang kulit ini misalnya hanya dapat dipakai untuk memainkan cerita-cerita dari Mahabarata atau Ramayana. Wayang kulit tidak dapat di pakai untuk menampilkan babad Menak. Sebaliknya juga perangkat wayang golek tidak bisa digunakan untuk melakonkan Mahabarata, ini dikarenakan tokoh-tokoh yang ada dalam wayang tersebut memang sudah dibuat khusu untuk pementasan lakon-lakon atau cerita-cerita tertentu.

Di dalam masyarakat, terutama masyarakat pedesaan, yang masih patuh kepada tradisi dan adat istiadat peninggalan dari para leluhurnya, banyak dijumpai pantangan-pantangan atas lakon atau cerita tertentu untuk pertunjukan wayang. Sebagian masyarakat misalnya akan beranggapan bahwa lakon Bharatayuda tabu itu untuk dipentaskan di dalam upacara perayaan perkawinan. Apabila pantangan tersebut dilanggar, maka masyarakat yakin bahwa keluarga tersebut akan mengalami kesusahan. Entah itu anggota keluarga yang meninggal, akan terjadi perceraian di dalam keluarga tersebut, atau malapetaka lainnya.

Di daerah pedesaan juga masih banyak sekali dijumpai upacara-upacara adat yang menyelenggarakan pertunjukan wayang. Untuk suatu upacara tertentu, lakon dari wayang yang dipentaskan juga tertentu. Diupacara bersih desa, yaitu selamatan sesudah panen, maka lakon yang harus dipertunjukkan adalah Kondure Dewi Sri yang artinya Pulangnya Dewi Sri, sedangkan untuk upacara ngruwat, maka lakonnya adalah Batara Kala. Selain batasan-batasan tersebut, lakon dari wayang juga sering kali ditentukan oleh permintaan dari penanggap atau atas kesepakatan antara pihak dalang dengan penanggap wayang.

Mengenai asal mula adanya wayang di Indonesia pendapat dari beberapa ahli bisa digunakan sebagai pedoman untuk memaparkan hal ini. Salah satu dari pendapat yang didukung oleh data yang sangat kuat dan disampaikan adalah pendapat dari Sri Mulyono. Mengenai adanya pertunjukan wayang ini, Sri Mulyono berpendapat bahwa pertunjukan wayang kulit ini dalam bentuknya yang asli, yaitu dengan segala sarana pentas atau peralatannya yang serba sederhana, yang secara garis besarnya sama dengan yang sekarang dilihat, yaitu dengan menggunakan wayang yang berasal dari kulit diukir (ditatah), blencong, kepyak, kotak, kelir, dan lain sebagainya, sudah dapat dipastikan bahwa wayang ini berasal dari hasil karya orang Indonesia asli dari pulau Jawa, sedangkan datangnya jauh sebelum kebudayaan agama Hindu datang.

Pertunjukan wayang kulit pada dasarnya merupakan upacara dari keagamaan atau upacara yang berhubungan dengan sebuah kepercayaan untuk menuju "Hyang", yang dilakukan di malam hari oleh seorang medium (syaman) atau dikerjakan sendiri oleh para kepala keluarga dengan mengambil cerita-cerita dari para leluhur atau nenek moyangnya. Upacara tersebut dimaksudkan untuk memanggil dan berhubungan dengan roh-roh dari nenek moyang guna memohon pertolongan dan juga restunya apabila keluarga tersebut akan memulai atau telah menyelesaikan suatu tugas.

Upacara semacam ini diperkirakan sudah ada pada jaman Neohithik Indonesia atau pada kurang lebih tahun 1500 SM. Dalam perkembangannya, upacara ini kemudian dikerjakan oleh seorang yang memiliki keahlian atau menjadikannya suatu pekerjaan yang tetap, yang sering disebut dalang. Pada kurun waktu yang cukup lama, pertunjukan ini kemudian terus berkembang secara setahap namun tetap mempertahankan fungsi dari intinya, yaitu sebagai kegiatan yang berhubungan dengan sistim kepercayaan dan juga pendidikan.

Bocah Cilik yang Sedang Belajar Menjadi Dalang

Berkenaan dengan perkembangan kesenian ini sebagai ibu kota kerajaan Mataram Baru, yaitu Yogyakarta telah memberikan tempat bagi para kesenian wayang, sebagaimana tercermin dan didirikannya sekolah para dalang Habiranda ditahun 1925. Saat ini para dalang lulusan sekolah Habiranda sudah banyak tersebar di wilayah Yogyakarta. Mengenai dengan jenis wayang yang dikenal masyarakat Jawa, ternyata terdapat beberapa jenis yaitu: Wayang Kulit atau Purwa, Wayang Klithik, Wayang Golek dan juga Wayang Orang.

Suka artikel berjudul Kesenian Tradisional Wayang, Yuk bagikan ke: