Kesenian Wayang Orang

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Wayang Orang merupakan bentuk dari perwujudan wayang kulit yang diperagakan oleh manusia. Jadi kesenian ini merupakan refleksi dari wayang kulit. Bedanya adalah wayang orang ini dapat bergerak dan berdialog sendiri. Fungsi dan pementasan Wayang Orang ini disamping sebagai tontonan biasa, terkadang juga digunakan untuk memenuhi nadzar. Lakon yang biasa dibawakan dalam Wayang Orang ini bersumber dari Babad Purwa yaitu Mahabarata dan juga Ramayana.

Kesenian Wayang Orang saat ini pada dasarnya terdiri dari dua aliran, yakni gaya Surakarta dan gaya Yogyakarta. Perbedaan di antara dua aliran tersebut terdapat pada intonasi dialog dan kostum. Dialog pada Wayang Orang gaya Surakarta lebih bersifat realistis atau nyata sesuai dengan tingkatan emosi dan juga suasana yang terjadi, dan pada intonasinya pun agak bervariasi. Pada Wayang Orang gaya Yogyakarta dialog distilisasinya akan sedemikian rupa dan juga mempunyai pola yang monoton. Hampir semua grup Wayang Orang yang dijumpai selalu menggunakan dialog gaya Surakarta. Jika ada perbedaan, perbedaan tersebut hanyalah terdapat ditarian atau pada kostum.

Untuk menyelenggarakan pertunjukan ini secara lengkap, biasanya dibutuhkan para pendukung sebanyak 35 orang, yang masing-masing terdiri dari 20 orang sebagai pemain (terdiri dari pria dan juga wanita), 12 orang sebagai penabuh gamelan dan merangkap wiraswara, 2 orang sebagai waranggana, 1 orang sebagai dalang.

Pada pertunjukan Wayang Orang, fungsi dalang yang juga sutradara tidak seluas seperti di wayang kulit. Dalang pada wayang orang bertindak sebagai pengatur perpindahan adegan dengan ditandai suara suluk atau monolog.

Pada dialog yang diucapkan oleh pemain, hanya sedikit sekali campur tangan dari dalang. Dalang hanya memberikan petunjuk secara garis besar saja. Selanjutnya pemain itu sendiri yang harus berimprovisasi dengan dialog yang sesuai dengan alur cerita yang telah diberikan oleh sang dalang.

Pola kostum dan juga make up Wayang Orang dapat disesuaikan dengan bentuk (patron) wayang kulit, sehingga pada pola tersebut tidak pernah kita temukan di dalam kehidupan sehari-hari. Pertunjukan Wayang Orang ini menggunakan konsep pementasan panggung yang bersifat realistis atau nyata. Setiap gerakan dari pemain dilakukan dengan tarian, baik itu ketika masuk panggung, keluar panggung, saat perang dan yang lain-lain.

Gamelan yang dipergunakan di kesenian ini seperti juga pada wayang kulit, yaitu pelog dan slendro, dan bila gamelan tidak lengkap biasanya hanya memakai slendro saja.Lama pertunjukan wayang orang ini biasanya sekitar 7 atau 8 jam hanya untuk satu lakon dan biasanya dilakukan pada malam hari. Pertunjukan di siang hari jarang sekali dilakukan. Sebelum dimulainya pertunjukan, akan ditampilkan pra-tontonan yang berupa atraksi tari-tarian yang sering disebut ekstra dan tidak ada hubungannya dengan lakon utama.

No comments: