Mengenal Upacara Ngedeblag dari Bali

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tradisi upacara Ngedeblag ini hanya dilakukan di wilayah desa Pekraman Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Gianyar. Prosesi upacara ini dirayakan pada setiap hari Kajeng Kliwon menjelang peralihan sasih kelima dan sasih keenam (menurut kalender Bali). Proses upacara ini digelar sekali dalam setahun, tujuannya adalah untuk mengatisipasi perubahan musim yang akan datang, sehingga terhindar dari segala macam bencana, contohnya seperti longsor, banjir maupun penyakit. Upacara ngedeblag ini dilakukan secara tutun temurun oleh warga Kemenuh.

Upacara Ngedeblag adalah sebuah rangkaian budaya dan tradisi di Bali, upacara ini juga dapat menjadi salah satu daya tarik dari pulau Dewata, tak hanya objek wisata saja yang membuat pulau ini tenar, tetapi banyak hal seperti hasil karya seni dan budayanya. Sejumlah tradisi yang populer di kalangan wisatawan adalah seperti tradisi Perang Pandan (Mekare-kare), pemakaman di desa Trunyan, Omed-omedan, Gebug Ende, dan Mekotek di Munggu.

Upacara Ngedeblag ini termasuk tradisi yang tergolong unik, ratusan warga yang terdiri oleh anak-anak, remaja dan dewasa bergerombol dengan dandanan yang menyeramkan atau penampilan wajah yang dicoret-coret seperti komedian. Mereka kemudian berjalan keliling desa sambil membawa air suci (memundut tirta), kemudian mengarak sepasang barong sakral sambil membunyikan kentongan, gamelan, atau perabotan rumah tangga. Setiap melewati ujung desa sepasang barong akan diupacarai.

Disetiap persimpangan jalan, para ibu-ibu akan menyambut kedatangan arak-arakan dengan sesajen serta menghaturkan puja-puja untuk pembersihan alam dan menetralisir roh-roh negatif. Mereka meyakini bahwa dunia ini telah kotor oleh perbuatan manusia, sehingga perlu dibersihkan.

No comments: