Pemakaman Mengerikan di Desa Trunyan

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Desa Trunyan yang merupakan salah satu wilayah yang hanya dihuni oleh Suku Bali Aga atau Bali Mula yang masih memegang teguh kepercayaan leluhurnya. Bali Aga atau Bali Mula adalah suku bangsa yang pertama mendiami Pulau Bali ini. Hingga saat ini suku Bali Aga dan segala keunikannya masih dapat ditemui salah satunya di Desa Trunyan.

Dalam keseharian masyarakat Bali pada umumnya adalah beragama Hindu, bila ada kerabat yang meninggal maka biasanya dilakukan kremasi atau mengubur jenazah sesuai dengan diajarkan oleh agama Hindu. Pemakaman di Desa Trunyan, jenazah tidak dikubur maupun dikremasi seperti umumnya yang terjadi di wilayah lainnya, masyarakat di Desa Trunyan menyimpan jenazah kerabatnya di atas tanah dengan hanya ditutupi kain dan bambu yang disusun membentuk prisma. Masyarakat di desa Trunyan menamakan upacara pemakamannya ini dengan istilah Mepasah.

Seperti yang telah dipaparkan di atas, bahwa dalam mepasah, setelah upacara pembersihan dengan cara dimandikan menggunakan air hujan, jenazah akan digeletakan di permukaan tanah begitu saja. Tempat pembaringan ini jenazah diberi lobang dengan ukuran sekitar 10 hingga 20 cm agar posisi si jenazah tidak bergeser dikarenakan kontur tanah pemakaman yang tidak rata.

Pada bagian tubuh jenazah kemudian dibalut kain berwarna putih, kecuali bagian kepala dan sebagai penanda, maka jenazah akan ditutup dengan sebuah bambu yang disusun membentuk prisma, penutup ini sering disebut ancak saji. Yang unik dalam mepasah adalah meski jenazah hanya diletakan di permukaan tanah, mayat tersebut tidak akan tercium baunya.

Jenazah ini diletakan di antara pohon Taru Menyan, kata taru berarti pohon dan kata menyan berarti harum. Kiranya, aroma dari pohon taru menyan inilah yang dapat menetralisir udara di sekitarnya pemakaman.

Pohon taru menyan ini hanya dapat tumbuh di daerah ini, meskipun pernah dicoba ditanam di daerah lain. Keunikan pada pohon ini agaknya telah menjadikan cikal bakal nama desa Trunyan.

Di bawah satu pohon taru menyan ini hanya dapat diletakakan maksimal sebelas jenazah. Hal ini telah  diatur oleh kepercaan adat setempat. Jadi jika lebih dari itu, maka jenazah akan mengeluarkan bau.

Tulang Belulang  di Pemakaman Trunyan

Bila terdapat jenazah yang baru, maka satu jenazah yang paling lama akan dipindahkan ke lokasi yang terbuka dan tidak ditutupi dengan kurung ancak saji, melainkan akan disatukan dengan jenazah lainnya di dalam tatanan batu atau di bawah pohon.

Maka tidak heran jika di tempat pemakaman ini terdapat tulang belulang serta barang-barang bekal sesaji seperti sandal, piring, sendok, pakaian, dan lain-lainnya yang berserakan di area pemakaman. Hal ini memang disengaja, karena tidak diperbolehkan barang yang dibawa keluar dari area pemakaman.

Namun tidak semua jenazah dapat diperlakukan sama seperti yang telah disebutkan diatas. Hanya pada kondisi tertentu jenazah dapat dimakamkan seperti itu. Syarat jenazah yang dimakamkan dengan cara tersebut adalah mereka yang pada waktu meninggal termasuk orang-orang yang masih bujangan, orang-orang yang telah berumah tangga, anak kecil yang gigi susunya telah tanggal, orang-orang yang meninggal dengan keadaan wajar dan tidak terdapat luka yang belum sembuh, serta memiliki bagian tubuh yang lengkap. Jika kondisi jenazah tidak memenuhi syarat tersebut, maka jenazah akan disemayamkan dengan cara dikubur.

Adat di Desa Trunyan telah mengatur tata cara pemakaman untuk masyarakatnya. Di Desa Trunyan ini terdapat tiga jenis makam yang berada di Desa Trunyan dan telah dibedakan berdasarkan keutuhan bagian-bagian tubuh, umur orang yang meninggal, dan cara penguburannya.

Pada area pemakaman pertama disebut sebagai sema wayah, yaitu tempat pemakaman yang dianggap paling baik dan suci, yaitu ketika jenazah dimakamkan dengan cara mepasah. Jenis pemakaman kedua adalah sema muda, yaitu jenazah dikebumikan dengan cara dikubur dan hanya diperuntukkan bagi anak-anak atau juga bayi yang gigi susunya belum tanggal.

Jenis ketiga adalah sema bantas, yaitu sama halnya dengan sema muda jenazah dikebumikan dengan cara dikubur, namun hanya diperuntukkan bagi orang yang Ulah Pati dan Salah Pati, yaitu orang yang saat meninggal masih menyisakan luka dan penyebab kematiannya pun tidak wajar seperti kehilangan nyawa disebabkan oleh tindakan owang lain, kecelakaan, kehilangan nyawa karena sengaja, dan ada bagian tubuh jenazah yang tidak utuh.

No comments: