Kebo-Keboan, Tradisi Suku Using Di Banyuwangi



Dalam menyikapi hasil panen, masyarakat Indonesia memiliki ekspresi budaya yang beraneka ragam, salah satunya adalah masyarakat Using di Kabupaten Banyuwangi, tepatnya di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, yang memiliki kebiasaan dalam menggelar upacara Keboan yang terkenal magis dan juga mistis. Sampai saat ini Desa Aliyan yang masih sangat kekeuh dalam mempertahankan tradisi lama mereka. Mempertahankan tradisi Keboan bagi masyarakat Using, berarti melanggengkan bentuk kearifan lokal yang dipandang mempunyai nilai sakral yang adihulung.

Sementara itu di desa-desa yang lain, tradisi Keboan ini telah bermetamorfosa dan mengalami transformasi yang cukup radikal, dari tradisi yang awalnya mistis dan magis, berubah menjadi slametan yang begitu islami yang didalamnya terdapat bacaan-bacaan kalimah toyyibah dan juga adzan. Keboan ini tampak masih mempertahankan tradisi lama, yaitu animisme dan juga hinduisme, di mana masyarakat Using sendiri telah mewarisinya dari para leluhur mereka sejak sekian lama.

Disebut dengan Keboan, dikarenakan ada ritus yang mendandani sebagian warga mirip dengan bintang kebo (kerbau) yang dilengkapi dengan tanduk buatan dan lonceng pada bagian lehernya sebagaimana yang terdapat dihewan kerbau. Agar nampak mirip dengan kerbau, mereka juga kemudian dilumuri dengan oli dan arang, sehingga warna kulitnya akan menghitam layaknya seperti kerbau.

Sejarah Tradisi Keboan

Sejarah dari keboan ini mudah dilacak. Selain cukup banyak sumber yang tertulis, hikayat dari tradisi ini masih ditransmisikan melalui lisan, yaitu dari mulut ke mulut secara turun-temurun bersamaan dengan pagelaran tradisinya.

Tradisi keboan ini dilatarbelakangi oleh satu kondisi yang mengkhawatirkan akibat dari musibah yang mereka alami dan berlangsung bertahun-tahun pada sekitar abad ke-18. Hama menyerang lahan pertanian sehingga tanaman-tanaman mereka rusak dan tidak jarang sampai gagal panen. Bahkan di desa Alas Malang, malapetaka tersebut tidak hanya menyerang tanaman, namun juga menjadi wabah penyakit bagi masyarakatnya.

Menyikapi hal tersebut, sesepuh masyarakat Aliyan, Buyut Wongso Kenongo, kemudian melakukan meditasi. Dari proses meditasi itulah Sang Buyut mendapat wangsit agar anaknya, yaitu Joko Pekik, ikut serta bersamanya dalam melakukan hal yang serupa. Namun tidak disangka, Pekik malah kesurupan dan kemudian berguling-guling di lumpur layaknya seperti hewan kerbau. Ajaibnya, setelah kejadian itu, musibah tersebut lenyap seketika. Dari kejadian tersebut, sesepuh desa bersama masyarakat Using kemudian mulai menggelar tradisi Keboan.

Tradisi yang pada awalnya sebagai bentuk upaya dalam menghilangkan hama tanaman dan perayaan atas hasil panen mereka yang melimpah, lambat laun tradisi ini juga digunakan sebagai tindakan yang sifatnya preventif atau pencegahan, yaitu untuk tetap menjaga keselamatan dan juga untuk menangkal marabahaya yang setiap kali mengintai mereka.

Uniknya, orang-orang yang akan didandani seperti kerbau bukan orang-orang yang sembarangan. Biasanya yang bertubuh tambun atau besar. Namun, tambun saja tidak cukup. Sebab di desa Aliyan ini, para leluhurlah yang memilih mereka. Yang terpilih tidak memiliki pilihan lain. Begitu para leluhur merasuki tubuh, mereka akan menjadi kesurupan dan akan bertingkah layaknya kerbau.

Kalau dilihat dari jumlah pemainnya, tradisi Keboan ini sangat lentur, bisa banyak atau sedikit. Hal tersebut berbeda dengan tradisi Kebo-keboan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Alas Malang yang jumlahnya telah ditetapkan, yaitu sekitar 18 orang. Nampaknya jumlah peserta yang tidak tetap didalam tradisi Keboan Desa Aliyan disebabkan jumlah orang yang akan kesurupan dan bertingkah layaknya kerbau tergantung dari kehendak para leluhur.

Arak-arakan

Suasana Tradisi Kebo-Keboan

Tradisi ini dilakukan setahun sekali, yaitu tepatnya di bulan Suro (menurut kalender Jawa) dihari Minggu antara tanggal 1-10. Tanggal-tanggal tersebut dinilai sebagai tanggal yang keramat dan memungkinkan tradisi tersebut digelar. Jika tradisi keboan dilakukan diluar tanggal itu, maka tradisi Keboan tersebut dinilai tidak akan memiliki dampak apa-apa.

Pelaksanaan tradisi keboan dimulai dengan mendirikan gapura yang dari terbuat bambu yang kemudian dihias dengan hasil panen dan ditempatkan diberbagai gang yang ada di desa. Hiasan tersebut menjadi simbol kesuburan tanah yang mereka gunakan dalam bertani dan bercocok tanam. Lalu diempat penjuru desa diadakan slametan yang akan dipimpin oleh sesepuh mereka. Doa dihaturkan kepada tuhan dan kepada para leluhur, Buyut Wongso. Setelah proses itu, barulah arak-arakan kerbau jadi-jadian dimulai.

Saat diarak, para kerbau jadi-jadian ini akan seperti sedang membajak sawah. Dalam arak-arakan ada yang mengiringi para kerbau jadi-jadian dan ada juga wanita yang bertugas sebagai penabur benih. Masyarakat Using mempercayai bahwa benih yang telah ditabur dapat menyuburkan lahan pertanian di ladang sendiri. Jadi, siapa yang mendapatkan benih tersebut, akan berdampak positif pada lahan pertaniannya.

Para kebo manusia ini akan bergerak kesana kemari. Namun, percaya atau tidak, biasanya para kerbau jadi-jadian ini selalu kesurupan dan berlaku seperti kerbau asli, seperti menyeruduk warga dan mencari kubangan lumpur. Orang-orang yang telah terkena percikan lumpur atau malah dipaksa terjun ke lumpur oleh para kerbau jadi-jadian, tidak boleh emosi dan amarah.

Kerbau jadi-jadian yang tadinya kesurupan, kemudian diarahkan ke Balai Desa Aliyan untuk berkubang di tempat lumpur yang telah disediakan. Mereka akan mengendus-ngendus ke para penonton yang ada, dan akan meminta wewangian semacam dupa, kemenyan ataupun minyak wangi.

Suka artikel berjudul Kebo-Keboan, Tradisi Suku Using Di Banyuwangi, Yuk bagikan ke: