Saluang, Alat Musik Tradisional Khas Minangkabau

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Saluang, Alat Musik Tradisional Khas Minangkabau

Alat musik Saluang merupakan alat musik tradisional yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat. Secara etomologis, kata Saluang ini diambil dari nama seruling panjang yang kerap kali menjadi alat musik dalam mengiringi pertunjukan musik ini. Selain itu, Saluang juga memiliki sebutan atau istilah lain, seperti Saluangjo dan Dendang-saluang.

Alat Musik Saluang
Alat Musik Saluang

Seperti jenis seruling lainnya, alat musik tiup yang satu ini terbuat dari bambu tipis atau talang. Masyarakat Minangkabau mempercayai bahwa bahan yang paling bagus dalam membuat saluang adalah bahan yang berasal dari bambu untuk jemuran kain atau bambu yang ditemukan hanyut di sungai, namun untuk pembuatan alat musik Saluang ini lebih sederhana, yaitu
  1. Panjang dari alat musik ini sekitar 40 cm sampai 60 cm dengan diameter 3 cm sampai 4 cm dan tebal kurang dari 1 mm.
  2. Pada bagian lubang hanya cukup membuat 4 lubang saja dan untuk menghasilkan nada yang bagus, lubang tersebut harus dibuat bulat sempurna yaitu dengan ukuran garis tengah 0.5 cm. 
  3. Pada bagian atas dan bawah, dibiarkan berongga atau berlubang, pada bagian atas ini berfungsi untuk meniup, sedangkan pada bagian bawah berfungsi unuk tempat keluarnya udara.

Yang membedakan antara seruling dan saluang ini adalah pada bagian atas saluang atau tempat untuk meniupnya akan dibuat meruncing sekitar 45 derajat, sesuai ketebalan bambu atau talang tersebut. Masyarakat minang menyebut dengan istilah Suai. untuk membuat lubang, harus terlebih dahulu menghitung jarak 2/3 dari panjang keseluruhan alat musik saluang ini dan dihitung mulai dari bagian atas, disitulah lubang pertama dibuat, sedangkan pada lubang kedua dan ketiga, harus dibuat dengan jarak yang sama antara lubang ke lubang, yaitu dengan jarak setengah lingkaran rongga bambu.

Hal yang utama dalam memainkan alat musik saluang ini adalah cara meniup dan juga menarik nafas secara bersamaan, sehingga si peniup saluang ini dapat memainkan alat musik tersebut dari awal hingga akhir lagu tanpa terputus-putus. Teknik ini hanya dapat dikuasai dengan cara latihan yang berkesinambungan.

Selain itu, kekhasan dan keunikan dari alat musik ini adalah pada gaya memainkan saluang yang berbeda-beda. Di setiap daerah di Minangkabau memiliki caranya tersendiri dalam hal meniup saluang, dan mereka juga mengembangkan sendiri dalam hal cara meniup saluang. Hal tersebutlah yang menyebabkan keragaman gaya dalam meniup dan memainkan saluang ini. Nama gaya dalam meniup saluang ini adalah seperti Singgalang, Solok Salayo, Pariaman, Koto Tuo, Suayan dan Pauah. Nama gaya tersebut diambil dari nama daerahnya masing-masing. Gaya yang dianggap sulit bagi pemula adalah gaya Singgalang, biasanya gaya Singgalang dimainkan pada awal lagu, sedangkan gaya yang paling sedih di telinga adalah gaya Solok.

Alat musik Saluang biasanya tampilkan seperti pada acara perkawinan, batagak rumah, batagak pangulu, dan lain-lainnya. Lagu saluang yang banyak dikenal oleh masyarakat Minangkabau diantara adalah Ambun Pagi, Padang Magek, Ratokkoto Tuo, Lubuak Sao, MuaroLabuah, dan Ratok Solok
Advertisement