Tari Baris Tunggal, Tari Tradisional Yang Mempesona Dari Bali

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Tari Baris Tunggal, Tari Tradisional Yang Mempesona Dari Bali

Tari Baris Tunggal merupakan salah satu tari tradisional yang berasal dari Bali. Tarian ini diperkirakan sudah ada sejak pertengahan abad ke-16. Dugaan ini didasarkan oleh informasi yang terdapat di Kidung Sunda, diperkirakan berasal dari tahun 1550 Masehi. Di naskah tersebut terdapat sebuah keterangan tentang adanya tujuh jenis tari baris yang dibawakan di dalam upacara kremasi di Jawa Timur.

Selain itu, terdapat juga sebuah keterangan bahwa pada awal kemunculannya, Tari Baris Tunggal ini merupakan bagian dari ritual keagamaan pada saat itu. Jenis tari baris yang berkaitan dengan ritual keagamaan disebut juga tari baris upacara atau tari baris gede. Para penari dalam tarian ini biasanya dibawakan antara 8 sampai 40 orang secara kelompok, dengan berbagai macam pernak-perik pelengkap seperti senjata tradisional yang bervariasi, tergantung dari asal daerah dari setiap tarian.

Tari baris tunggal ini diduga kuat diambil dari baris malampahan, baris berkisah yang riwayatanya dimulai kira-kira pada tahun 1849 yang saat itu digagas oleh Cokorda Gde Ngurah Saren yang meminta Bape Goya, yaitu pelatih tari ternama di era tersebut untuk menyusun baris malelampahan dan pertama kali dipertunjukan di Tugu, kabupaten Gianyar.

Gerakan dalam Tari Baris Tunggal ini menceritakan ketangguhan prajurit Bali di masa lalu. Kedua pundak para penari diangkat sampai hampir setinggi telinga. Kedua lengan para penari nyaris selalu di posisi horizontal dengan gerak yang tegas. Gerak khas lainnya yang terdapat di tari baris adalah selendet atau gerak delik mata para penari yang senantiasa berubah-ubah. Gerak mata ini menggambarkan sifat dari para prajurit yang senantiasa selalu awas terhadap situasi di sekitarnya

Komposisi tubuh dalam mengiringi Tari Baris Tunggal biasanya terdiri dari :
  1. Bagian Pepeson (Gilak), dapat dilakukan pada bagian mungkah lawang, ngopak lantang, ngalih pajeng, ngagem kanan dan kiri, majalan najek dua (nayog), malpal.
  2. Bagian Pengadeng (Bapang), dapat dilakukan pada bagian ngesed dawa dan nyaregseg, ngagem bapang kiri dan kanan, gayal-gayal, wuta ngawa sari, ngetog.
  3. Pekaad (Gilak Jerih), dapat dilakukan pada bagian makirig atau makelid jerih, ngopak lantang, malpal, gayal-gayal.

Para penari yang ada di dalam tarian ini semuanya adalah seorang pria. Penari ini akan menggunakan mahkota berbentuk segi tiga yang dihiasi kulit kerang secara berjajar vertikal di bagian atasnya. Selain itu, tubuh para penari ini dibungkus kostum yang berwarna-warni dan terlihat longgar, menjuntai ke bawah, serta bertumpu pada bagian pundak. Kostum ini akan mengembang pada saat para penari melakukan gerakan memutar dengan menggunakan satu kaki, sehingga akan memberikan efek dramatis pada koreografi yang dibawakan. Busana lengkap yang digunakan dalam tarian ini adalah seperti menggunakan Badong, Awir, Celana panjang, Baju bludru, stewel, Lamak, Gelang kana, Gelungan dan Keris.

Iringan di dalam suatu pertunjukan memegang peranan yang sangat penting, karena dengan adanya iringan maka suatu pertunjukan akan terlihat indah. Gambelan yang di gunakan dalam mengiringi Tari Baris Tunggal yaitu Gong kebyar, Palegongan, Angklung kebyar, Gong suling, Semar pegulingan, Gong gede, Cumang kirang, Gambelan pajogedan, dan Gambelan pegandrungan