Tari Dinggu, Tarian Tradisional Dari Provinsi Sulawesi Tenggara

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Tari Dinggu, Tarian Tradisional Dari Provinsi Sulawesi Tenggara

Tari Dinggu adalah tarian tradisional yang berasal dari Provinsi Sulawesi Tenggara. Tarian ini merupakan tarian rakyat yang menggambarkan suatu suasana dan aktivitas masyarakat pada saat musim panen, terutama pada musim panen padi. Tari Dinggu biasanya ditampilkan oleh para penari pria ataupun wanita dengan berpakaian layaknya seorang Petani pada zaman dahulu. Tarian ini sangat dikenal dimasyarakat Tolaki di Provinsi Sulawesi Tenggara dan sering ditampilkan diberbagai acara seperti pesta panen raya, perayaan hari besar, penyambutan, festival budaya dan lain-lain.

Daftar Isi

Sejarah Tari Dinggu

Menurut sejarahnya, Tari Dinggu ini berawal dari kebiasaan masyarakat Tolaki pada saat panen raya, terutama pada masa panen padi. Mereka melakukan aktivitas panen tersebut dengan cara bergotong-royong atau bersama-sama, yang dimulai dari memetik padi, mengangkat padi, dan lain-lain. Setelah padi tersebut terkumpul semua, maka akan diadakan Modinggu, yaitu semacam menumbuk padi secara masal atau beramai-ramai yang dilakukan oleh para muda-mudi.

Setelah acara Modinggu ini selesai kemudian diakhiri dengan Lulo bersama sebagai hiburan dan melepas lelah. Selain itu Lulo juga dilakukan dalam mempererat kebersamaan mereka. Tradisi ini terus berlajut dikalangan masyarakat Tolaki, sampai akhirnya menjadi suatu tarian yang disebut Tari Dinggu ini.

Makna Tari Dinggu

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Tari Dinggu ini merupakan tarian yang menggambarkan aktivitas dan juga kebiasaan masyarakat Tolaki pada saat panen raya. Selain itu Tari Dinggu juga menggambarkan semangat kebersamaan serta gotong royong masyarakat didalam melakukan sesuatu, salah satunya adalah pada saat musim panen yang mereka lakukan secara bersama-sama. Hal tersebut menunjukkan bahwa semangat kebersamaan dan juga gotong-royong merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dengan masyarkat Tolaki di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Pertunjukan Tari Dinggu

Tari Dinggu merupakan tarian tradisional yang dibawakan oleh para penari pria ataupun wanita. Jumlah para penari Tari Dinggu ini biasanya terdiri dari 10 (sepuluh) orang atau lebih penari pria dan wanita. Namun untuk jumlah para penari ini biasanya disesuaikan dengan kelompoknya masing-masing. Dalam pertunjukannya, para penari menggunakan kostum layaknya seorang Petani dan menari dengan membawa sejenis tampah, alu, dan semacam lesung yang digunakan sebagai properti dalam menarinya.

Dalam pertunjukan Tari Dinggu biasanya ada beberapa babak yang menggambarkan aktivitas dari para Petani pada saat panen. Pada babak pertama biasanya akan diawali dengan babak yang menggambarkan para Petani yang sedang membawa padi. Kemudian dilanjutkan dengan menaruh padi yang akan ditumbuk. Lalu dilanjutkan dengan babak tumbuk padi. Dan yang terakhir biasanya akan diakhiri dengan gerakan Lulo.

Gerakan para penari pria dan penari wanita didalam Tari Dinggu ini pada dasarnya berbeda. Pada gerakan penari pria biasanya akan didominasi dengan gerakan memainkan alu yang dilakukan lebih lincah. Sedangkan pada gerakan para penari wanita biasanya akan didominasi dengan gerakan yang pelan kecuali disaat gerakan menumbuk padi dan melakukan Lulo, karena gerakan tersebut dilakukan secara bersamaan dengan para penari pria, sehingga para penari wanita harus mengimbangi gerakan dari penari pria.
Advertisement

Pengiring Tari Dinggu

Dalam pertunjukan Tari Dinggu ini biasanya akan diiringi oleh iringan alat musik tradisional seperti kendang dan gitar kecapi khas dari Sulawesi Tenggara. Irama yang dimainkan dalam mengiringi Tarian ini biasanya bertempo lambat, namun pada saat memasuki gerakan Lulo maka iramanya akan bertempo cepat dan musik gitar kecapi akan diganti dengan gong.

Kostum Tari Dinggu

Untuk kostum atau pakaian yang digunakan para penari dalam pertunjukan Tari Dinggu ini biasanya menggunakan busana layaknya para Petani pada zaman dahulu. Para penari wanita biasanya akan menggunakan baju kebaya dan kain sarung khas dari Sulawesi Tenggara. Untuk aksesorisnya, penari wanita biasanya juga dilengkapi aksesoris seperti hiasan rambut dan kalung khas. Selain itu para penari wanita sebagian akan membawa tampah, dan sebagian lagi akan membawa satu alu kecil yang digunakan dalam menari.

Sedangkan untuk penari pria biasanya akan menggunakan pakaian lengan panjang dan juga celana panjang. Selain itu penari pria juga akan dilengkapi dengan kain sarung yang dikenakan pada bagian pinggang dan kain selampang. Sedangkan penutup kepala biasanya akan menggunakan caping atau topi Petani. Para penari juga akan membawa 2 (dua) alu berukuran pendek yang digunakan dalam menari.
Advertisement

Perkembangan Tari Dinggu

Dalam perkembangannya, Tari Dinggu ini masih terus dilestarikan dan kembangkan oleh beberapa sanggar disana. Berbagai kreasi serta variasi juga sering ditambahkan didalam setiap pertunjukannya agar terlihat menarik tapi tidak menghilangkan ciri khasnya. Tari Dinggu saat ini juga sering ditampilkan diberbagai acara seperti acara penyambutan, pesta rakyat, pertunjukan seni, dan juga festival budaya.