Tradisi Upacara Cingcowong di Masyarakat Sunda

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sebagian besar masyarakat Sunda merupakan seorang petani yang memiliki kemampuan di dalam mengembangkan sebuah tradisi yang sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki. Seperti halnya di daerah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat yang memiliki sebuah tradisi yang sangat kaya dan beragam. Maka dari itu, beragam upacara dan juga tradisi yang berkaitan dengan siklus pertanian banyak dijumpai di tanah Sunda.

Di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat terdapat sebuah tradisi yang memuat harapan masyarakat agar diberi hujan serta kesuburan. Tradisi ini bernama upacara Cingcowong. Upacara Cingcowong ini dikembangkan oleh masyarakat di Kecamatan Luragung. Cingcowong merupakan sebuah seni ritual untuk meminta hujan dengan menggunakan media jejelmaan atau perantara, yaitu berupa boneka perempuan yang memiliki paras cantik. Selain itu, peralatan yang dipakai sebagai media pemanggil roh adalah alat pengiring buyung. Buyung ini terbuat dari tanah liat yang digunakan sebagai kendang dan ceneng (bokor) yang berfungsi sebagai ketuk.

Pelaksanaan upacara Cingcowong ini biasanya dipimpin seorang dukun. Masyarakat setempat sering menyebutnya dukun ini dengan nama punduh. Punduh mempunyai kemampuan sebagai perantara dalam memanggil kekuatan alam yang diwakili oleh roh–roh dan juga makhluk halus untuk menurunkan hujan. Penyelenggaraan ritual upacara Cingcowong biasanya dilaksanakan di malam jumat sekitar pukul 17.00. Pada zaman dahulu, upacara ini dilaksanakan pada waktu kemarau panjang. Namun sejak pada tahun 2004 sampai saat ini upacara cingcowong ditampilkan dalam bentuk sebuah tarian untuk menghindari musyrik.