Inilah 4 Ritual Yang Berbau Darah dan Kematian



Sepanjang sejarah, ada banyak sekali ritual yang diikuti secara perseorangan maupun kelompok yang mungkin saja dipandang aneh ataupun tidak biasa oleh orang atau kelompok lain.

Berikut ini adalah ulasan secara singkat beberapa ritual yang berakar sejak zaman dahulu kala, tetapi diantaranya masih ada yang terus berlanjut sampai saat ini.

Kebanyakan ritual dilakukan untuk menyenangkan para dewa, namun ada juga kegunaan lain yang diyakini bisa membantu seseorang atau masyarakat tertentu:

1. Aghori dan Dupa

Kaum Aghori

Di India, kaum Aghori ini adalah pria-pria suci asketis Shiwa yang dikenal berurusan dengan acara ritual sesudah kematian (post-mortem).

Mereka tinggal di kuburan-kuburan dan juga menaburkan abu kremasi di tubuh mereka. Mereka juga menggunakan tulang-belulang manusia untuk menjadikan perhiasan dan tengkorak manusia untuk menjadikan kapala, yaitu topi upacara.

Praktik-praktik mereka ini bertentangan dengan Hinduisme orthodoks, sehingga hampir dari semua tindakan mereka ditentang oleh para penganut Hindu lainnya. Aghori melakukan meditasi dan beribadah di tempat-tempat yang orang lain sebut "rumah berpenunggu."

Walaupun begitu, para guru Aghori ini memiliki banyak pengikut di pedesaan dan bahkan dipercaya memiliki kekuatan penyembuhan yang didapatkan dari adat yang ketat dan pengucilan diri. Kaum Aghori ini pernah tampil dalam film yang berjudul "The Other Side of the Door" keluaran tahun 2016.

2. Mumifikasi Diri di Jepang


Mumi biarawan

Ritual aneh berikutnya adalah mumifikasi diri. Praktik ini telah dilarang di Jepang sejak abad ke-20. Ritual ini dilakukan berkaitan dengan kepercayaan agama Buddha untuk memisahkan diri dari dunia. Beberapa para biarawan menterjemahkan gagasan ini sampai menjadi diet ekstrem hingga meninggal. Dengan pengawetan jasadnya, para biarawan ini membuktikan kesuciannya.

Biasanya ritual ini dimulai dengan diet biji-bijian dan kacang-kacangan sampai selama 3 tahun. Diet ini ini dilengkapi dengan serangkaian olahraga untuk menghabisi semua lemak yang ada ditubuh.

Selama 3 tahun berikutnya, diet ini diganti dengan bonggol pohon, akar-akaran, dan juga teh beracun yang terbuat dari pohon Urushi. Teh ini menyebabkan biarawan muntah-muntah sehingga akan membuang cairan ditubuh dan membunuh belatung yang mungkin akan berkembang setelah kematian.

Pada akhirnya, sang biarawan mengunci dirinya didalam makam dengan posisi bunga teratai. Di dalamnya, ia membawa selang pernafasan dan juga sebuah lonceng yang dibunyikannya untuk memberitahu bahwa sang biarawan masih hidup.

Setelah biarawan itu wafat, makamnya kemudian di segel. Sampai hari ini telah ada sekitar 20 mumi biarawan yang telah ditemukan.

3. Santapan Kematian Yanomamo

Suku Yanomamo

Suku Yanomamo di Venezuela mempunyai upacara menyantap sesamanya yang telah meninggal. Upacara ini telah ada jauh sebelum diungkapkan oleh bangsa Barat.

Budaya Yanomamo ini adalah salah satu budaya poligami yang masih tersisa di dunia ini. Mereka menenggak zat halusinogen pada saat merasa sakit. Namun demikian, ritual kematianlah yang oleh orang luar dianggap sebagai aspek yang paling aneh.

Tentunya ritual ini juga berkaitan dengan kepercayaan. Mereka mempercayai bahwa warga yang meninggal akan dibawa pergi oleh para pemakan nyawa yang laparnya tidak terpuaskan, lalu akan menyedot kekuatan kehidupan mereka yang meninggal.

Jika rantai dari penghisapan ini tidak dihentikan, maka para pemakan nyawa ini akan terus makan sampai manusia seluruh dunia mati semuanya. Sebagai akibatnya, untuk dapat menghentikan rantai santap-menyantap nyawa ini, maka suku Yanomamo memakan sesamanya yang telah meninggal.

Pertama-tama, mereka akan melakukan kremasi jenazah dan kemudian akan menggiling tulang-belulang terbesar menggunakan alu dan lesung. Hasil godokan ini digunakan sebagai bahan dasar dari sup pisang.

4. Festival Thookkam

Festival Thookkam

Thookkam adalah suatu festival di Negara India yang diikuti oleh sejumlah orang yang ditusuk dengan kaitan, kemudian digantung di suatu bingkai selama beberapa jam. Walaupun mempunyai akar budaya masa lalu, festival ini baru saja dilarang oleh pemerintah di India.

Acara ini biasanya dilangsungkan di Kerala Selatan, didalam kuli-kuil pemujaan dewi Kali. Warga menari dan darah yang tercurah dipercaya akan menenangkan dewi Kali sehingga dewi tersebut tidak mengamuk.

Pengikut yang diberi kait digantung disuatu bingkai dan kemudian diarak keliling kuli sebanyak 3 kali. Darah yang tercecer ini dikumpulkan untuk dipersembahkan kepada Dewi Kali untuk menenangkannya.
Suka artikel berjudul Inilah 4 Ritual Yang Berbau Darah dan Kematian, Yuk bagikan ke: