Kesenian Wayang Kulit Banjar Kalimantan Selatan



Wayang Kulit Banjar adalah kesenian wayang kulit yang berkembang didalam budaya suku Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan ataupun di daerah perantauan suku seperti di Inderagiri Hilir.

Mayarakat Banjar telah mengenal pertunjukan wayang kulit pada sekitar awal abad ke-XIV. Pernyataan tersebut diperkuat karena pada kisaran tahun 1300 sampai dengan 1400 Kerajaan Majapahit telah menguasai sebagian dari wilayah dari Kalimantan. Hal tersebut membawa pengaruh agama Hindu dengan jalannya pertunjukan wayang kulit.

Konon, pada saat itu Majapahit membawa dalang wayang kulit yang bernama Raden Sakar Sungsang lengkap dengan pengrawitnya. Namun dalam pertunjukan wayang kulit dengan pakem Jawa kurang dapat dinikmati oleh masyarakat Banjar. Hal tersebut dikarenakan pertunjukan wayang dibawakan dalam idiom-idiom Jawa yang sulit dimengerti oleh masyarakat setempat.

Pada saat kerajaan Majapahit mulai memudar serta mulai berkembangnya kerjaan Islam di tahun 1526 M, mulailah ada adapatasi-adapatasi muatan lokal. Adalah Datuk Toya yang memulainya, dan hal tersebut berjalan sampai abad ke-XVI. Perlahan-lahan wayang kulit di Banjar ini mulai berubah sesuai cita rasa dan estetika dari masyarakat lokal Banjar.

Wayang Kulit Banjar

Sampai saat ini, wayang kulit Banjar punya keunikan tersendiri. Keunikan ini dapat dilihat dari segi bentuk, musik atau gamelan pengiring, warna, ataupun tata cara dalam memainkannya. Ukuran wayang kulit Banjar lebih kecil. Ornamen dan juga warnanya tidak serumit pada wayang kulit lainnya. Oleh karena itu ornamen-ornamen serta warnanya tidak terlalu terlihat dibayangan layar pada pertunjukan wayang kulit Banjar. Bahan kulit yang digunakan pada wayang Banjar ini adalah kulit sapi atau kambing.

Ritme gamelan yang mengiringi wayang kulit Banjar ini lebih cenderung cepat dan keras, hal tersebut berbeda jika dibanding dengan musik gamelan Jawa. Wayang kulit Banjar ini juga tidak mengenal waranggana (yaitu para wanita yang membantu dalam menyanyikan lagu atau gending) yang ada dalam pementasan wayang kulit di Jawa. Gamelan wayang kulit Banjar pada umumnya terbuat dari besi, berbeda halnya dengan gamelan wayang kulit di Jawa yang rata-rata terbuat dari logam perunggu.

Dari sisi cerita, 2 (dua) kitab kuno yang berasal dari khasanah Hindu, yakni Ramayana dan Mahabarata menjadi sumber cerita dari wayang kulit Banjar, Namun dalang wayang kulit Banjar ini juga sering menampilkan cerita karangannya sendiri. Cerita ini dinamakan dengan lakon Carang. Dalam perkembangannya, lakon Carang inilah yang menjadi primadona oleh masyarakat Banjar. .

Selain lakon Carang, di Kalimantan Selatan juga berkembang sebuah pertunjukan Wayang Sampir. Pertunjukan wayang sampir ini merupakan ritual yang dipimpin oleh dalang yang digunakan untuk mengusir roh-roh jahat. Ritual ini memakan jangka waktu kisaran 2 (dua) jam dan kemudian diikuti dengan pertunjukan wayang kulit biasa.

Pengetahuan untuk menjadi seorang dalang memiliki tata cara tertentu. Dimulai dengan penyerahan piduduk (yaitu semacam sesajen) kepada guru dalang untuk belajar. Setelah mengetahui pakem, tentang tembang, tentang gamelan, maka murid batamat dengan jalan upacara mandi. Ritual mandi ini disebut dengan badudus. Setelah itu murid harus melakukan upacara pernapasan yang disebut dengan bajumbang. Dalam kondisi ini calon dalang kawin dengan Arjuna. Sebelum memainkan wayang, seorang calon dalang harus mampu mengucapkan Bisik Semar (yakni mantera sebelum mendalang) dan menyarung diri atau menitis dengan Arjuna sebagai dalang sejati.

Suka artikel berjudul Kesenian Wayang Kulit Banjar Kalimantan Selatan, Yuk bagikan ke: