Makepung, Balap Kerbau Masyarakat Pulau Bali



Tradisi Makepung ini dikembangkan di Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali. Dua pasang kerbau akan saling beradu cepat dan berusaha memenangkan kejuaraan. Mekepung artinya berkejar-kejaran. Sekilas makepung ini mirip dengan karapan sapi di Madura.

Pada awalnya, mekepung ini hanya dilakukan oleh para petani sebagai permainan di sela-sela kegiatan didalam membajak sawah. Kerbau diikatkan pada gerobak yang kemudian ditunggangi oleh para petani, lalu diadu cepat untuk berlari. Mengapa bukan sapi? Karena sapi adalah hewan yang sangat disucikan di Bali.

Dalam mekepung, para sais akan berpakaian seperti layaknya para prajurit Kerajaan Bali zaman dahulu, lengkap dengan memakai ikat kepala, pedang, dan juga sarungnya. Mereka tidak memakai alas kaki.

Sehari sebelum perlombaan dimulai, biasanya para kerbau didatangkan dari desa-desa disekitar tempat perlombaan. Mereka kemudian diberi makanan dan minuman yang terbaik, dan juga diistirahatkan supaya cukup kuat dalam mengikuti perlombaan keesokan harinya.

Pada saat hari pelaksanaan mekepung, para pemilik kerbau ini biasanya akan memasang sesaji di daerah-daerah tertentu, seperti di garis start, finish, dan di belokan-belokan yang akan dilalui oleh kerbau.

Di arena lomba, selalu ramai oleh para pedagang dan juga iringan musik dari gamelan Bali. Kerbau-kerbau yang dilombakan telah dimandikan dengan bersih, kemudian dipasangi aksesori agar lebih cantik.

Dua pasang kerbau yang sedang beradu cepat

Dua pasang kerbau pun siap beradu cepat. Masing-masing akan berjarak sekitar 10 meter. Jika ada pasangan yang di depan dan berhasil memperpanjang jarak, maka merekalah yang menang. Namun, jika pasangan di bagian belakang berhasil memperpendek jarak, maka mereka juaranya. Mereka berlomba selama sekitar 10 (sepuluh) menit untuk setiap pertandingan.
Suka artikel berjudul Makepung, Balap Kerbau Masyarakat Pulau Bali, Yuk bagikan ke: