Menato Wajah, Tradisi Mempercantik Suku Chin di Myanmar



Kecantikan sejatinya merupakan bawaan lahir dari seorang wanita. Bagi wanita Suku Chin di Myanmar, wajah dengan penuh tato menjadi bukti kecantikannya. Di banyak negara, seni tato seringkali dikonotasikan negatif. Namun, tidak untuk wanita Suku Chin yang tinggal di pedalaman Myanmar. Wajah penuh tato ini malah menjadi ciri khas dan juga bukti kecantikan dari wanita Suku Chin.

Legendanya, tradisi menato wajah ini pertama kali bermula pada saat Raja Burma datang ke daerah Suku Chin. Saking cantiknya paras wanita dari suku Chin, Raja Burma ini kemudian membawa satu wanita Suku Chin untuk diperistri. Tidak ingin salah satu wanitanya diculik oleh Raja, Suku Chin kemudian mulai menato wajah anak perempuannya supaya tidak dibawa pergi. Cerita lain, tradisi menato wajah ini dilakukan supaya kecantikannya dari Suku Chin ini berbeda dengan lainnya.

Di antara 6 (enam) Suku Chin, masing-masing mempunyai ciri khas tato yang membedakan. Misalnya saja pada pola dan motif, membedakan satu wanita Suku Chin dengan lainnya. Dalam prakteknya, tato ini dibuat dari daun, tunas dan juga jelaga. Daun untuk pewarna, jelaga untuk disinfektan, sedangkan tunas tajan untuk membuat tato atau polanya.

Tato Wajah Dari Suku Chin

Menurut wanita Suku Chin yang bernama Daw Ngai Pai (72), beliau mengatakan bahwa dia mendapat tato di bagian wajah pertama kali pada umur 12 tahun, rasanya sangat menyakitkan, wajahnya terluka selama 5 (lima) hari. Ini adalah kebiasan yang dilakukan kepada semua anak perempuan disaat itu.

Karena dianggap tidak etis, saat itu Pemerintah Burma (Sekarang menjadi Myamar) mulai melarang parktik tato wajah ini pada wanita Suku Chin. Tradisi itu pun kemudian dianggap tabo pada tahun 1960. Akibat larangan yang dibuat oleh pemerintah, saat ini hanya wanita berumur sajalah yang masih memiliki tato di wajah mereka. Mereka adalah generasi terakhir yang memiliki tato di wajah mereka.

Agar tidak punah, rencananya tradisi unik ini akan dimasukkan dalam teks supaya tetap diingat dan dikenang. Tidak sedikit juga wisatawan yang datang ke Myanmar untuk melihat wajah para perempuan Suku Chin yang bertato. Semoga saja budayanya ini dapat terus dilestarikan.
Suka artikel berjudul Menato Wajah, Tradisi Mempercantik Suku Chin di Myanmar, Yuk bagikan ke: