Mengenal Tradisi Pasang Inai Dari Berbagai Daerah Di Indonesia


Mengenal Tradisi Pasang Inai Dari Berbagai Daerah Di Indonesia

Tradisi dalam mempercantik calon pengantin wanita dengan memasang tumbukan dari daun inai pada bagian kuku, ternyata telah menjadi kebiasaan diberbagai daerah di Indonesia. Acara berinai ini umumnya dilakukan sehari atau pada malam, saat menjelang hari pernikahan.

Dengan lukisan inai, tangan dari calon pengantin jadi terlihat sangat indah
Dengan lukisan inai, tangan dari calon pengantin jadi terlihat sangat indah

Berinai Curi

Di daerah Provinsi Riau, acara memasang inai ini disebut dengan berinai curi. Acara ini diadakan pada saat malam hari dan hanya melibatkan calon pengantin wanita. Berinai curi ini diadakan sekurang-kurangnya satu malam. Bagi keluarga tertentu yang mampu, dapat mengadakan acara tersebut sampai 3 (tiga) malam, 5 (lima) malam, atau bahkan 7 (tujum) malam.

Inti acaranya adalah memasang inai dibagian jari tangan dan kaki dari calon pengantin wanita oleh keluarga dan para sahabat-sahabatnya. Warna merah yang berasal dari daun inai ini, konon dapat melindungi pengantin dari marabahaya.

Bohgaca

Di Provinsi Aceh, acara menghiasi tangan calon pengantin wanita dengan memakai inai disebut dengan bohgaca. Makanya jika di Aceh ada seorang wanita yang tangannya masih berhias inai, maka ketahuan kalau dia adalah pengantin baru. Acara bohgaca ini dilakukan setelah acara kruet andam atau mengerik rambut halus supaya tubuhnya tampak bersih.

Malam Bainai

Di Minangkabau, Provinsi Sumatera Barat, acara ini disebut dengan malam bainai. Malam bainai adalah sebuah acara pamitan bagi calon pengantin wanita terhadap keluarga besar karena besok dia hendak akan menikah. Malam bainai ini juga sering disebut dengan malam seribu doa dan harapan karena semua para kerabat dan sahabat akan memberikan doa restu.

Usai dari acara inti, para tamu yang hadir akan dihibur dengan kesenian papar yang mengisahkan perjalan hidup dari calon pengantin wanita yang diiringi oleh musik saluang.

Berpacar

Di daerah Palembang, Provinsi Lampung, dan Betawi namanya hampir sama. Di Palembang disebut dengan berpacar. Di Lampung disebut dengan pasang pacar, dan di Betawi disebut dengan malem pacar. Di Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, acara berpacar ini merupakan keharusan, sebab warna merah yang ditimbulkan pada daun inai ini memiliki kesan magis dan bahkan dipercaya dapat mengusir pengaruh jahat.

Kenapa ada kata pacar ya? Pacar itu adalah nama lain dari tanaman inai atau henna. Acara ini biasanya diadakan setelah acara mengerik rambut-rambut halus pengantin supaya mudah dirias.

Daun inai yang telah dilumatkan dan siap dipakai untuk acara adat
Daun inai yang telah dilumatkan dan siap dipakai untuk acara adat

Mappaci

Dalam pernikahan adat Bugis acara ini disebut dengan mappaci. Kalau di daerah Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, acara mengoleskan daun inai ini disebut dengan akkorontigi. Pemasangan inai melambangkan kesucian dan juga kesiapan hati para calon pengantin didalam berumah tangga.

Peta Kapanca

Dalam tradisi perkawainan adat di Bima, acara mengoleskan tangan calon pengantin ini disebut dengan peta kapanca. Acara ini dilakukan di uma ruka atau di rumah pernikahan dan dilakukan oleh 7 (tujuh) ibu-ibu dan disaksikan oleh para tamu undangan yang semuanya adalah kaum wanita.

Pemasangan inai ini dimaksudkan untuk mengingatkan para calon pengantin, bahwa ia akan segera menjadi seorang ibu rumah tangga. Acara memasang inai ini merupakan keunikan didalam tradisi perkawinan adat di Indonesia yang harus terus dilestarikan.

Suka artikel berjudul Mengenal Tradisi Pasang Inai Dari Berbagai Daerah Di Indonesia, Yuk bagikan ke: