Musik Tradisional Gejog Lesung Yogyakarta



Alu adalah sebah kayu panjang yang digunakan untuk menumbuk padi. Sedangkan lesung adalah sebuah kayu panjang yang dibuat seperti bentuk perahu dan digunakan sebagai tempat padi yang ditumbuk. Alu dan lesung memang alat yang digunakan untuk memisahkan padi dari tangkainya. Namun, di tangan ibu-ibu para petani di Yogyakarta, alu dan lesung dapat menciptakan irama musik yang indah yang disebut dengan gejog lesung.

Musik yang dihasilkan oleh alu yang ditumbukkan ke lesung ini terkenal dengan sebutan Gejog Lesung. Kesenian tradisional ini dapat kita temukan di Kota Yogyakarta. Dahulu, Gejog Lesung ini sering dimainkan pada saat terang bulan purnama.

Para ibu-ibu sedang memainkan Gejog Lesung

Saat ini, Gejog Lesung hanya dimainkan jika ada upacara-upacara tertentu, seperti acara bersih desa, pesta panen, ataupun menyambut tamu. Sesekali, Gejog Lesung ini juga dilombakan untuk menyambut perayaan tertentu, seperti perayaan HUT Kemerdekaan Indonesia.

Ada Legenda Gerhana Bulan yang bercerita tentang Gejog Lesung ini. Konon, ada Raksasa Kala Rahu yang ingin makan Bulan. Pada saat Nini Thowong yang menjaga Bulan sedang tertidur, Raksasa Kala Rahu kemudian berhasil memakan separuh dari Bulan. Maka, masyarakat pun membuat bunyi-bunyian, termasuk juga memukulkan alu ke lesung. Nini Thowong pun kemudian terbangun, lalu memanah sang Raksasa Kala Rahu, sehingga Bulan pun terbebas kembali.

Gejog Lesung tidak dapat dimainkan secara sendirian. Biasanya, terdapat 12 ibu-ibu yang memainkan Gejog Lesung ini. Lima atau enam orang yang akan memainkan Gejog Lesung. Sisanya akan menyanyi dan juga menari sambil membawa tampah.

Lagu-lagu yang biasa dimainkan adalah lagu-lagu tradisional seperti lagu Gundul-Gundul Pacul, Lumbung Pari, atau Caping Gunung. Terkadang Gejog Lesung ini juga diiringi oleh tabuhan gamelan Jawa.

Suka artikel berjudul Musik Tradisional Gejog Lesung Yogyakarta, Yuk bagikan ke: