Keraton Kanoman, Bangunan Bersejarah di Cirebon Jawa Barat

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sebuah bangunan bergaya perpaduan antara Timur Tengah, Jawa, dan juga Eropa berdiri menghadap ke arah utara di pesisir laut Jawa. Yaitu tepatnya di daerah Cirebon, bangun kuno ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 1510 Saka atau 1588 M. Inilah Keraton Kanoman yang sudah menjadi bagian sejarah dari masyarakat Cirebon.

Wafatnya dari Panembahan Adining Kusumah atau Panembahan Ratu Pangkuwati II selaku penguasa Cirebon ketika itu, membuat Kota Cirebon tidak stabil. Hal inilah yang akhirnya membuat Sultan Ageng tirtayasa dari Banten terpanggil guna memulangkan anak dari Panembahan Ratu Pangkuwati II yang ditahan.

Pangeran Syamsudin (anak pertama) ditahan di Kediri, sedangkan sang adik Pangeran Badriddin di wilayah Rembang, Jawa Tengah. Penahanan tersebut dilakukan oleh pemberontak Kerajaan Mataram yang ketika itu dipimpin oleh Trunojoyo.

Ketika akan dipulangkan dari daerah tahanannya masing-masing, hanya si Pangeran Badriddin inilah yang bersedia untuk pulang, sedangkan Pangeran Syamsudin memilih untuk tinggal dan menetap di daerah Kediri. Lalu Pangeran Badriddin diangkat menjadi sultan Cirebon oleh Sultan Ageng Tirtayasa.

5 (lima) tahun kemudian Pangeran Syamsudin pulang ke Cirebon dan kemudian diberi tahta kesultanan oleh adiknya Pangeran Badriddin. Tetapi, karena berat hati sang kakak pun tetap membiarkan adiknya untuk menjalankan pemerintahan dan juga lebih memilih menetap di Keraton Pangkuwati sebagai keraton lama.

Sebagai seorang adik yang menghormati kakak dan aturan keraton, Pangeran Badriddin pun lebih memilih untuk membangun dan memperluas bangunan Witana yang dahulunya berfungsi sebagai lokasi untuk sultan menimba ilmu kebatinan.

Pembangunan tersebut juga diikuti dengan Sultan Ageng Tirtayasa yang merenovasinya ditahun 1677 dan menetapkan sultan Badriddin dengan gelar Sultan Anom Badriddin Kartawijaya sebagi seorang sultan dari Keraton Kanoman. Bangunan yang dahulunya merupakan bangunan Bangsal Witana.

Suasana di Keraton Kanoman

Keraton Kanoman masih mempunyai hampir 27 bangunan kuno yang masih terjaga keutuhannya. Diantaranya yaitu Balai Paseban. Sebuah bangunan yang berfungsi sebagai tempat masyarakat, para pejabat menunggu sebelum masuk untuk menemui sultan.

Ada pula bangunan Lonceng Gajah Mungkur. Yaitu sebuah bangunan yang difungsikan sebagai tempat untuk menempatkan lonceng bersejarah. Lonceng tersebut diberikan oleh Jendral Sir Thomas Stanford Raffles, yaitu seorang jendral Inggris yang pernah berkuasa dari tahun 1811 sampai 1816 di tanah Jawa termasuk di Cirebon.

Lebih masuk kedalam lagi, ada Gedung Museum Keraton yang menyimpan berbagai macam benda-benda kuno sampai kereta kencana. Kereta ini dahulu sering dipakai sultan dan para permaisuri untuk berkeliling dalam upacara adat.

Selain itu para pengunjung juga dapat melihat dan merasakan langsung Bangsal Jinem, yaitu sebuah tempat dimana sultan menerima para tamu dari kalangan masyarakat hingga pejabat.

No comments: