Masjid Agung Palembang di Sumatera Selatan

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pada saat terjadi perang antara masyarakat Palembang dengan Belanda pada tahun 1659 M, sebuah masjid terbakar. Masjid tersebut adalah masjid yang dibangun oleh Sultan Palembang, yang pada saat itu adalah Ki Gede Ing Suro, yang berlokasi di Keraton Kuto Gawang. Beberapa tahun kemudian, yaitu tepatnya pada tahun 1738 M, Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo membangun kembali masjid tepatnya di lokasi berdirinya masjid yang terbakar.

Pembangunan masjid yang baru ini memakan waktu cukup lama, yaitu sampai pada tanggal 26 Mei 1748 atau pada tanggal 28 Jumadil Awal 1151 tahun hijriah, masjid tersebut barulah diresmikan berdiri. Di awal pembangunannya, Masjid Agung Palembang ini disebut oleh masyarakat Palembang dengan sebutan Masjid Sulton. Nama tersebut merujuk kepada pembangunan masjid yang diketuai dan juga dikelola secara langsung oleh Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikramo.

Masjid Agung Palembang ini sebagai salah satu masjid tertua yang ada di Indonesia dan telah mengalami berbagai renovasi. Salah satu renovasi terbesar yaitu terjadi pada tahun 1999. Renovasi yang dilakukan oleh Gubernur Laksamana Muda Haji Rosihan Arsyad tak hanya memperbaiki bagian yang rusak, namun juga merestorasi bangunan masjid dengan menambahkan 3 (tiga) bangunan baru. Ketiga bangunan tersebut diantaranya adalah bangunan dibagian selatan masjid, dibagian utara, dan dibagian timur. Pada renovasi dan restorasi ini, kubah masjid ini juga mengalami perbaikan di berbagai sisinya.

Suasana di Masjid Agung Palembang

Dilihat dari bentuknya, Masjid Agung Palembang memiliki ciri khas perpaduan 3 (tiga) kebudayaan, yaitu kebudayaan Indonesia, Eropa, dan Tiongkok. Ketiga ciri kebudayaan tersebut merekat didalam setiap lekuk bangunan masjid. Pintu utama masjid misalnya, yang menunjukkan adanya pengaruh kebudayaan dari Eropa. Pada bagian atap masjid, terlihat adanya pengaruh kebudayaan dari Tiongkok, mengingat bentuk dari atap masjid yang menyerupai bentuk kelenteng.

Sementara pada menara ada ciri khas yang erat kaitannya dengan kebudayaan Indonesia. Ujung menara berbentuk kerucut seperti nasi tumpeng. Tumpeng atau bentuk gunungan didalam kebudayaan Indonesia memiliki makna yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan alamnya, dan  juga manusia dengan sesama manusia.

Mengingat Masjid Agung Palembang ini merupakan salah satu peninggalan sultan, maka berdasarkan dari Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia MA/233/2003 tertanggal 23 Juli 2003, Masjid Agung Palembang ini ditetapkan sebagai salah satu masjid nasional. Kemudian pada tahun 2009, berdasarkan UU No 5 tahun 1992 tentang bangunan cagar budaya, dan Surat Peraturan Menteri No PM19/UM.101/MKP/2009, Masjid Agung Palembang ini juga menjadi salah satu bangunan cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah.

Masjid Agung Palembang memiliki berbagai kegiatan, mulai dari kegiatan rutin yang dilakukan setiap hari sampai kegiatan bulanan dan tahunan. Kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap hari di masjid ini adalah shalat rawatib 5 (lima) waktu dan dakwah masjid, hal tersebut sejalan dengan tujuan utama dalam pembangunan masjid, yakni untuk mengingat Allah dan memperkenalkan agama Islam. Sementara kegiatan rutin yang dilakukan disetiap minggu adalah pengajian kitab Kuning yang dipimpin langsung oleh para ulama-ulama Kota Palembang. Menariknya, pada tiap Ramadan tiba, masjid yang beralamat di Jalan Jenderal Soedirman Palembang ini selalu mengadakan pembacaan Alquran satu juzz satu malam yang dilaksanakan sesudah salat tarawih selama satu bulan penuh

No comments: