Masjid Tuo Koto Nan Ampek di Sumatera Barat

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Masjid Tuo Koto Nan Ampek merupakan salah satu masjid bersejarah yang berada di wilayah Luhak Limo Puluah. Masjid yang sudah berusia lebih dari satu setengah abad ini masih tetap kokoh berdiri meskipun zaman terus berganti.

Walau sudah mengalami renovasi dibeberapa bagiannya, arsitektur klasik Minangkabau yang membalutnya masih tetap bertahan walaupun terpaan cuaca dan juga pergantian musim datang silih berganti. Sampai saat kini, setiap hari umat Muslim di Nagari Koto Nan Ampek masih terus setia untuk datang serta beribadah di bawah naungan masjid tua ini.

Masjid ini dibangun sekitar tahun 1840, yakni pada saat Sutan Chedoh (Tuanku Nan Cheduk) masih menjabat sebagai Wedana atau Regent (yaitu kepala administrasi didalam sistem pemerintahan Hindia-Belanda) di wilayah Payakumbuh. Masjid ini didirikan tidak jauh dari rumah gadang milik sang Regent. Lahan yang dipakai merupakan wakaf dari empat kaum, yakni kaum Datuk Rajo Mantiko Alam, Datuk Paduko Majo Lelo, datuk Bangso Dirajo Nan Hitam, dan Datuk Sinaro Kayo.

Pendirian bangunan masjid ini dipimpin oleh 3 (tiga) datuk dari tiga suku yang berbeda, yakni Datuk Kuning dari Suku Kampai, Datuk Pangkai Sinaro dari Suku Piliang, serta Datuk Siri Dirajo dari Suku Melayu.

Bangunan masjid ini pada awalnya seluas 289 meter persegi di lahan seluas 1.550 meter persegi. Setelah mengalami perluasan saat ini luas bangunan masjid bertambah menjadi 400 meter persegi. Secara umum bangunan masjid ini berbentuk panggung dengan arsitektur dan juga ornamen ukiran tradisional khas Minangkabau.

Suasana di Masjid Tuo Koto Nan Ampek

Hampir keseluruhan bangunan berbahan dasar kayu, sedangkan pada tiang-tiangnya berbahan batang kelapa. Tiang-tiang masjid ini masih sama dengan kondisi aslinya, hanya saja pada batang-batang kelapa tersebut saat ini ditutup dengan lapisan triplek.

Sementara pada atap masjid ini berbentuk piramida berundak dengan 3 (tiga) tingkat, bagian atap teratas mempunyai bentuk melancip. Diantara setiap tingkatan ada celah yang dimaksudkan sebagai penerangan dikala siang. Dahulu atap tersebut dilapisi oleh bahan ijuk, namun seiring waktu bahan ijuk digantikan dengan bahan seng. Walaupun sudah berulang kali mengalami renovasi, dari sisi arsitektur, bentuk bangunan ini tetap dipertahankan sesuai dengan aslinya.

Yang menarik, disisi barat daya masjid ini ada makam Tuanku Nan Cheduk. Tuanku Nan Cheduk ini merupakan salah satu dari sedikit pribumi yang bisa menduduki posisi Regent, yang merupakan posisi tertinggi yang bisa diduduki seorang pribumi didalam struktur pemerintahan Hindia Belanda saat itu.

No comments: