Museum Bali Di Kota Denpasar Bali



Museum Bali merupakan museum yang  menyimpan berbagai kekayaan budaya tradisional Bali sejak dahulu kala. Museum Bali beralamat di Jalan Mayor Wisnu, di sisi timur Lapangan Puputan Badung, Kota Denpasar. Sejak awal didirikan, museum ini memang telah dirancang sebagai referensi etnografi masyarakat Bali sejak zaman pra-sejarah sampai saat ini.

Pembangunan Museum Bali tidak terlepas dari keresahan para seniman Belanda yang menetap di Bali. Pada awal abad ke-19, Bali mulai menarik perhatian dunia barat. Banyak orang dari Eropa dengan berbagai macam latar belakang datang serta menetap di pulau ini. Orang-orang Eropa tersebut tertarik dengan berbagai hasil dari kerajinan masyarakat Bali.

Aneka karya kerajinan seperti ukiran, perhiasan, patung, lukisan, dan karya-karya lainnya menjadi buruan para kolektor dari luar negeri. Semakin lama, sedikit demi sedikit peninggalan dari budaya tradisional Bali dibawa keluar dari pulau tersebut. Benda-benda tersebut dijadikan cenderamata ketika para wisatawan kembali ke negaranya masing-masing.

Kondisi tersebut yang menimbulkan keresahan dari sekelompok seniman Belanda. Semakin banyaknya peninggalan budaya asli Bali yang dijadikan sebuah cenderamata dan dibawa keluar dari Bali, dikhawatirkan akan menimbulkan dampak kemiskinan warisan budaya Bali.

Atas usulan sejumlah pihak, kemudian W.F.J. Kroon (Asisten Residen Bali Selatan) menggagas pendirian dari Museum Bali pada 1910. Museum ini diresmikan pada tanggal 8 Desember 1932.

Secara arsitektur, bangunan dari Museum Bali ini dibuat mengikuti prinsip tata bangunan tradisional khas Bali (Lontar Asta Kosala Kosali). Selain itu juga, museum yang pada awalnya dibangun diatas lahan seluas 2.600 meter persegi ini mengadaptasi tata bangunan Puri (yaitu istana bangsawan) dan Pura (yaitu rumah ibadah).

Di dalam kompleks museum, ada tiga halaman. Ketiga halaman ini adalah halaman luar (jaba), halaman tengah (jaba tengah), serta halaman dalam (jeroan). Masing-masing halaman ini dibatasi oleh tembok dan juga gapura.

Selain itu, museum ini pun mempunyai tiga gedung pameran, yang masing-masing mewakili dari arsitektur bangunan di beberapa daerah di Bali. Ketiga gedung pameran ini adalah Gedung Tabanan, Karangasem, dan Buleleng.

Seiring dengan berjalannya waktu, terjadi penambahan fasilitas. Beberapa fasilitas tambahan ini diantaranya adalah perpustakaan, auditorium, perkantoran, laboratorium konservasi, sebuah gedung pameran (Gedung Timur). Luas dari kompleks museum pun bertambah luas, hingga menjadi 6.000 meter persegi.

Barang-barang yang menjadi koleksi di Museum Bali ini ditata berdasar konsep dari trimandala. Menurut konsep ini, koleksi yang bersifat sakral akan dipisahkan dengan koleksi yang sifatnya tidak sakral.

Berbagai macam koleksi di Museum Bali

Gedung Timur menyimpan berbagai koleksi yang bersifat tidak sakral. Koleksi yang disimpan pada gedung ini ditampilkan berdasarkan periodisasinya, yaitu era berburu, era bercocok tanam, era perundagian, era Bali Kuno (yaitu sebelum kedatangan Majapahit), Bali Pertengahan (yaitu era Majapahit) dan Bali Baru (yaitu kolonial sampai sekarang). Koleksi yang dapat dilihat di gedung ini diantaranya adalah berbagai alat batu, perhiasan, sarkofagus, senjata tradisional, parung, arca, dan berbagai lukisan.

Di Gedung Buleleng, ditampilkan berbagai koleksi yang berkaitan dengan perkembangan kriya tekstil tradisional khas Bali, diantaranya adalah kain polos, kain poleng, kain cepuk, kain geringsing, songket, dan lain sebagainya.

Adapun di Gedung Karangasem, ditampilkan berbagai macam koleksi yang berkaitan dengan ritual panca yadnya, yakni berbagai upacara ritual yang dilakukan didalam kehidupan sehari-hari dari masyarakat Bali.

Di Gedung Tabanan, dipamerkan berbagai koleksi-koleksi sakral seperti hal perangkat-perangkat ritual yang masih ada ditengah-tengah masyarakat sampai saat ini, diantaranya adalah barong, rangda, dan perangkat tari tradisional seperti tari baris, tari sanghyang dedari, tari calon arang, dan tari tamiang magoret.

Suka artikel berjudul Museum Bali Di Kota Denpasar Bali, Yuk bagikan ke: