Sendang Sedayu dan Sendang Maerokoco, Sumber Air Suci di Dieng



Berada di Kompleks Candi Arjuna, yaitu tepatnya sebelum anda memasuki kompleks candi, ada sebuah situs penyucian diri. Situs ini terdiri dari 2 (dua) sumber mata air dan sebuah bangunan yang mirip dengan pendapa.

Sendang Sedayu dan Sendang Maerokoco merupakan 2 (dua) sumber air yang sangat penting didalam ritual kebudayaan masyarakat dataran tinggi Dieng. Kedua sumber air ini dianggap sebagai air suci yang bisa membersihkan diri serta jiwa umat yang ingin bersembahyang di Kompleks Candi Arjuna ini.

Secara etimologi, kata sendang berarti kumpulan air suci, sementara kata rahayu berarti membersihkan diri. Karenanya, sendang sedayu bisa diartikan sebagai mata air suci yang dipakai untuk membersihkan diri.

Lain halnya dengan Sendang Maerokoco. Nama maerokoco yang disematkan pada sumber air ini merujuk kepada sosok Gatotkaca. Ketika dilahirkan, Gatotkaca tidak dapat melihat. Di sumber mata air ini, setiap orang yang datang diharapkan bisa melakukan introspeksi terhadap semua hal-hal yang pernah dilakukan.

Di dekat Sendang Maerokoco, yaitu tepatnya di bawah pohon cemedi yang menaungi sumber air ini, ada makam Panglima Kumbang. Panglima Kumbang ini merupakan salah seorang panglima dimasa Mataram Islam.

Ritual penyucian diri akan dimulai di Sendang Sedayu kemudian ke Sendang Maerokoco dan akan berakhir di sebuah bangunan yang disebut dengan Dharmasala. Dharmasala sendiri merupakan sebuah tempat bagi para umat untuk merapikan pakaian sebelum ke tempat persembahyangan.

Dharmasala juga berfungsi sebagai tempat berkumpulnya para umat serta mendengarkan penjelasan tata cara peribadatan yang akan dijelaskan oleh seorang biksu.

Dharmasala merupakan bangunan panggung. Pada bagian atas atau panggung bangunan ini memang telah mengalami beberapa kali pergantian dikarenakan faktor pelapukan. Namun, batu-batu dibawahnya yang menjadi pondasi tidak mengalami pergantian.

Suasana di Sendang Sedayu dan Sendang Maerokoco

Sendang Sedayu, Sendang Maerokoco, dan juga Dharmasala diperkirakan sudah ada bersamaan dengan dibangunnya dari Kompleks Candi Arjuna pada sekitar abad 8 masehi. Bahkan, terdapat sumber yang menyebutkan keberadaannya lebih tua, dikarenakan berkaitan dengan kepercayaan Kapitayan. Kapitayan sendiri merupakan sistem kepercayaan yang dipeluk oleh masyarakat Dieng sebelum masuknya agam Hindu dan agama-agama lainnya. Dalam kepercayaan tersebut, keberadaan air atau sumber air sangat penting karena air tersebut dianggap sebagai tempat awal kehidupan.

Sementara, didalam agama Hindu ada 2 (dua) hal penting didalam penentuan tempat pembangunan peribadatan. Kedua hal tersebut adalah berada di ketinggian dan juga adanya sumber mata air yang dianggap suci.

Ketiga tempat ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari acara sakral masyarakat Dataran Tinggi Dieng, seperti ruwatan anak berambut gimbal. Di ketiga tempat inilah, anak-anak yang memiliki rambut gimbal akan dipotong rambut gimbalnya serta dimandikan atau disucikan.

Sendang Sedayu, Sendang Maerokoco, dan juga Dharmasala berada di Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Karena berada di area Kompleks Candi Arjuna, maka tiket masuk ke area ini tergabung dengan tiket masuk ke Kompleks Candi Arjuna.

Suka artikel berjudul Sendang Sedayu dan Sendang Maerokoco, Sumber Air Suci di Dieng, Yuk bagikan ke: