Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di Provinsi Jawa Barat



Gunung Gede-Pangrango merupakan salah satu dari 5 (lima) taman nasional tertua yang dimiliki Indonesia. Diresmikan sejak tahun 1980 berdasarkan SK Menteri Pertanian, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) mempunyai luas lahan lebih dari 22.000 hektare. Secara umum, TNGP ini ditutupi oleh hutan hujan tropis yang selalu basah. Bahkan pada musim kemarau, vegetasi hutannya dapat menjaga kelembaban untuk tetap basah.

Mendaki Gunung Gede-Pangrango merupakan salah satu cara untuk menikmati kekayaan hutan hujan tropis Indonesia. Terdapat 2 (dua) alternatif pilihan jalur untuk sampai ke puncak Gunung Gede, yakni via Gunung Putri dan via Cibodas. Jika melalui jalur Gunung Putri, banyak para pendaki yang memilih untuk bermalam terlebih dahulu di alun-alun Surya Kencana sebelum kembali mendaki menuju puncak.

Puncak Gunung Gede ini berada di ketinggian sekitar 2.900 meter di atas permukaan laut (mdpl). Pada ketinggian 1.000 meter pertama, para pendaki akan merasakan suhu udara yang tak terlalu dingin. Di kawasan ini, jalur pendakian akan lebih didominasi pohon-pohon besar, seperti pohon rasamala. Pada bagian medio sebelum mencapai puncak, pepohonan besar semakin sedikit. Di kawasan ini, pohon-pohon yang tumbuh akan terlihat berbeda dibandingkan di ketinggian sebelumnya. Pohon di ketinggian 2.000 mdpl mempunyai batang yang panjang sampai mencapai 20 meter, ukuran daun lebih kecil, namun memiliki akar yang sangat besar dan juga kuat. Sementara di ketinggian hampir 3.000 mdpl, Gunung Gede ini dihiasi vegetasi tumbuhan dengan ukuran yang lebih kecil dan daunnya berwarna cerah, seperti edelweis dan juga cantigi yang banyak terlihat di sepanjang alun-alun Surya Kencana ini.

Alun-alun Surya Kencana merupakan sebuah kawasan yang paling digemari para pendaki untuk membuka tenda dan bermalam. Hal ini bukan tanpa sebab. Selain memiliki pemandangan yang indah lantaran adanya padang edelweis dan diapit oleh 2 (dua) gunung, di tempat ini juga mengalir sumber air yang sangat diperlukan oleh para pendaki.

aktu yang ditempuh dari alun-alun Surya Kencana untuk sampai ke puncak sekitar 30 menit. Di sepanjang jalur, akan banyak ditemukan pohon cantigi yang daunnya berwarna merah terang. Cantigi atau yang bernama latin Vaccinium varingiaefolium merupakan tumbuhan yang dapat bertahan di lahan yang kekurangan nutrisi atau di dalam keadaan cuaca yang sangat ekstrim.

Kawah Gunung Gede

Sesampainya di puncak Gunung Gede, para pendaki akan disambut dengan lukisan alam yang luar biasa indah. Rasa lelah pun akan terbayar lunas ketika melihat indahnya lingkaran kawah yang luas dan dengan semburan uap belerang yang masih aktif. Dari puncak Gunung Gede, akan terlihat angkuhnya Gunung Pangrango di seberang. Namun, jika cuaca sedang tidak bersahabat, Gunung Pangrango tidak dapat terlihat karena tertutup oleh kabut.

Perjalanan kemudian dilanjutkan untuk sampai ke pos terakhir di Cibodas. Untuk sampai ke pos terakhir, maka diperlukan waktu sekitar 7 jam perjalanan bagi para pendaki pemula, mungkin akan lebih cepat bagi para pendaki yang sudah terbiasa dengan jalur menurun. Sama halnya ketika mendaki, pemandangan perjalanan turun juga masih didominasi oleh vegetasi hutan hujan tropis.

Selain kaya akan berbagai flora, di TNGP juga kaya akan berbagai fauna. Jika beruntung, para pandaki akan melihat sekawanan owa Jawa, kijang, dan aneka burung, seperti burung elang dan burung hantu. Hutan TNGP ini juga merupakan habitat asli bagi para kawanan monyet dan juga bermacam-macam serangga yang bahkan mungkin belum dinamakan secara ilmiah.

Curug di TNGP

Sebelum sampai pertigaan antara jalur menuju Gunung Pangrango dan Cibodas, para pendaki akan menemukan curug di tengah-tengah hutan dengan air yang sangat jernih. Konon, curug yang tidak memiliki nama ini merupakan tempat favorit Soe Hok Gie guna beristirahat sejenak sambil membasuh muka sebelum melanjutkan perjalanan. Dilihat dari posisinya yang terletak di ketinggian lebih dari 1.000 mdpl, curug tersebut dapat dibilang sebagai curug tertinggi di Provinsi Jawa Barat.

Setelah curug, para pendaki akan melewati sumber mata air panas yang mengandung belerang. Perlu ekstra hati-hati untuk dapat melewati jalur tersebut. Selain dipenuhi dengan bebatuan yang licin, di samping jalur juga ada jurang yang curam. Karena itulah, banyak para pendaki yang mengejar waktu supaya bisa melewati jalur ini sebelum hari mulai gelap.

Suasana di TNGP

Ada 3 (tiga) poin sebelum sampai di pos terakhir, yaitu Kandang Badak, Kandang Batu, serta Air Terjun Cibeureum. Kandang Badak dan Kandang Batu merupakan poin yang paling ramai dikunjungi para pendaki. Di tempat ini, biasanya para pendaki akan istirahat atau makan dan minum sambil saling bercengkerama sebelum melanjutkan perjalanan menuju pos terakhir di Cibodas.

Menapaki Gunung Gede di TNGP ini merupakan kegiatan yang menyenangkan untuk mengisi waktu liburan. Selain dapat menyaksikan kekayaan alam hutan hujan tropis di Indonesia, aktivitas wisata alam diyakini dapat melatih seseorang untuk berjiwa mandiri, pemberani, dan cinta tanah. Namun begitu, diperlukan persiapan fisik dan juga mental secara khusus supaya tetap fit dan selalu menjaga kelestarian hutan dengan cara tidak membuang sampah sembarangan.

Suka artikel berjudul Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di Provinsi Jawa Barat, Yuk bagikan ke: