Watu Kelir, Tembok Bersejarah di Dieng Jawa Tengah

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Di sekitar kawasan Dataran Tinggi Dieng, ada sebuah tembok besar. Tembok ini berdiri mengelilingi kawasan Dieng dan menjadi batas antara tempat yang disucikan dengan tempat tinggal oleh masyarakat umum. Masyarakat sekitar menyebut tembok besar ini adalah Watu Kelir.

Ketika pertama kali ditemukan, bersamaan dengan ditemukan kawasan candi di Dieng, Watu Kelir ini diperkirakan mempunyai panjang sekitar 600 meter dan dengan tinggi sekitar 5 meter.

Masyarakat sekitar memberikan nama watu kelir pada tembok besar ini dikarenakan bentuknya yang mengingatkan pada kelir (layar) di pertunjukan wayang kulit. Walaupun begitu, tembok ini sama sekali tidak berhubungan dengan kesenian pertunjukan wayang kulit.

Watu Kelir

Yang disayangkan, sekarang ini dari panjang sekitar 600 meter pada saat pertama kali ditemukan, Watu Kelir ini hanya tersisa sekitar 50 meter. Meskipun sudah dimasukkan sebagai cagar budaya dan juga dilindungi undang-undang, masyarakat banyak mengambil bagian Watu Kelir ini sebagai bahan bangunan.

Pada bagian atas Watu Kelir, ada peninggalan lain yang tidak kalah penting. Peninggalan tersebut disebut dengan Siti Hinggil. Secara etimologi, kata "siti" artinya tanah, sedangkan kata hinggil artinya tinggi. Pada masa lalu, Siti Hinggil ini merupakan tempat untuk menerima para tamu yang datang dari luar daerah. Konon, Siti Hinggil ini juga menjadi tempat favorit dari anggota keluarga kerajaan guna menikmati keindahan Dataran Tinggi Dieng.

Setali 3 (tiga) uang dengan Watu Kelir, kondisi Siti Hinggil juga sangat tidak terawat. Tak ada sisa peninggalan bangunan yang bisa ditemukan di sini. Keberadaannya telah beralih fungsi menjadi tanah pemukiman ataupun ladang pertanian warga.

No comments: