Belimbur, Tradisi Menyiram Air di Penutupan Erau

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Berbarengan dengan para rombongan Keraton yang mengantarkan Naga Bini dan juga Naga Laki ke Kutai Lama, diadakan serangkaian ritual lainnya didepan Keraton Kutai. Rangkaian ritual tersebut dimulai dengan beumban, begorok, rangga titi, dan kemudain berakhir dengan belimbur.Ritual belimbur tidak hanya menjadi ritual terakhir dari rangkaian ini, namun juga menjadi puncak rangkaian. Dalam ritual ini, masyarakat Kutai akan larut dalam suka cita dan juga keceriaan sambil berbasah-basahan.

Belimbur sendiri merupakan tradisi saling menyiramkan air terhadap sesama anggota masyarakat yang merupakan bagian ritual penutup dari Festival Erau. Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas kelancaran dalam pelaksanaan Erau. Selain itu, belimbur mempunyai maksud filosofis sebagai sarana pembersihan diri dari sifat buruk dan juga unsur kejahatan. Air yang menjadi sumber kehidupan dipercaya sebagai media guna melunturkan sifat buruk manusia.

Suasana tradisi Belimbur

Ritual ini dilakukan sesudah upacara rangga titi berakhir. Dimulainya ritual belimbur ini ditandai dengan dipercikkannya air tuli, yaitu air yang diambil dari Kutai Lama oleh Sultan kepada para hadirin. Setelah itu masyarakat akan saling menyiramkan air kepada sesamanya. Ritual ini terbuka untuk siapa saja, kecuali orangtua yang membawa anak dibawah umur dan para lansia.

Pada masa sekarang, tradisi ini sudah berkembang menjadi festival penuh suka cita. Selain mempunyai nilai filosofis, ajang ini juga menjadi sarana dalam menjalin keakraban antar masyarakat dalam suasana yang jauh dari tata krama formal.

Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat saat ini tidak sekadar menyiram secara harfiah. Ada beberapa diantara mereka yang sampai memakai media seperti pompa pemadam kebakaran ataupun membungkus air dalam kantong-kantong plastik. Bagi para remaja, festival satu ini menjadi ajang perang air antar sesamanya yang hanya terjadi dalam setahun sekali.

No comments: