Beluluh, Ritual Mensucikan Sultan Kutai

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Selama Festival Erau diselenggarakan, disetiap hari di selasar depan Keraton Kutai (Museum Mulawarwan) akan diadakan sebuah ritual khusus. Ritual yang dinamakan beluluh ini diadakan guna mensucikan Sultan Kutai atau Putra Mahkota dari berbagai macam unsur kejahatan, baik itu yang terlihat maupun yang gaib. Di ritual yang diadakan pada sore hari ini, Sultan akan didudukkan disebuah balai dan menjalani sejumlah tahapan.

Kata beluluh berasal dari gabungan kata "buluh" yang artinya batang bambu dan kata "luluh" yang artinya musnah. Nama tersebut mengacu pada balai bambu bertingkat 3 (tiga) yang digunakan sebagai singgasana untuk Sultan atau Putra Mahkota didalam upacara ini. Balai tersebut diletakkan diatas sebuah lukisan tambak karang, kaki-kakinya dihiasi dengan daun kelapa, dan disetiap sudut diletakkan sejenis sesajian yang disebut dengan peduduk. Berdasarkan kepercayaan setempat, unsur jahat disekeliling Sultan harus diluluhkan diatas balai bambu tersebut.

Suasana ritual Beluluh

Ketika ritual beluluh dimulai, Sultan atau Putra Mahkota didudukkan sejenak diatas tilam kasturi. Tidak berapa lama, Sultan dan Putra Mahkota akan bangkit dan juga menaiki balai bambu dengan memijak dipusaka batu tijakan. Sultan kemudian duduk dibagian tertinggi dari balai, dibawah ikatan daun beringin (rendu) serta dipayungi selembar kain kuning yang disebut dengankirab tuhing. Setelahnya, dilakukan prosesi tepong tawar. Pada prosesi tersebut, dewa (wanita pengabdi ritual) akan memercikkan air kembang ke sekeliling Sultan. Selanjutnya, sang Sultan mengusap kepalanya dengan menggunakan air tersebut dan dewa akan menaburkan beras kuning ke arah sang Sultan.

Setelah tepong tawar selesai, maka akan dilakukan prosesi menarik ketikai lepas. Ketikai lepas sendiri adalah sejenis anyaman dari daun kelapa yang akan terurai bila ditarik kedua ujungnya. Pada ritual ini, sang Sultan akan memegang salah satu ujung dari anyaman daun tersebut, sedangkan pada ujung lainnya akan ditarik oleh seorang tamu kehormatan yang biasanya adalah pejabat daerah atau orang yang ditunjuk khusus oleh kerabat Kesultanan. Prosesi tersebut menjadi penutup dari beluluh.

Sesudah upacara selesai, tambak karang akan dibawa ke jalanan didepan tangga masuk Keraton. Biasanya, masyarakat sudah ramai menanti abdi keraton membawa gulungan tikar yang berisikan beras berwarna-warni tersebut. Begitu pun gulungan tikar hingga di tengah kerumunan, masyarakat akan berebutan mendapatkan beras berwarna yang berjatuhan dari gulungan tikar ini. Masyarakat mempercayai bahwa beras berwarna tersebut akan membawa keberkahan bagi kehidupan orang yang mendapatkannya.

No comments: