Taman Budaya Tionghoa di Taman Mini Indonesia Indah (TMII)



Masyarakat pendatang asal Tiongkok sudah ikut memberikan sumbangsih yang besar didalam kebudayaan Indonesia. Hal tersebut terjadi melalui proses pembauran dengan warga asli diberbagai daerah di Indonesia yang berlangsung selama berabad-abad. Pernikahan warga pribumi dengan para pendatang dari Tiongkok sudah menciptakan entitas baru didalam masyarakat yang disebut dengan peranakan Tionghoa (kiaw seng). Bentuk pengakuan atas keberadaan mereka sebagai bagian tidak terpisahkan dari masyarakat Indonesia tercermin dengan adanya anjungan Taman Budaya Tionghoa Indonesia di dalam kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Inisiasi pembangunan kawasan yang membawa ciri khas dari budaya peranakan Tionghoa ini dimulai sejak tahun 2004, yaitu atas prakarsa Yayasan Harapan Kita. Taman ini mulai memasuki tahap pembangunan ditanggal 8 November 2006, yang ditandai dengan peresmian pintu gerbang taman. Taman ini mulai secara resmi dibuka untuk masyarakat umum ditahun 2008. Saat ini, bagian belakang dari kompleks taman ini dibangun juga Museum Hakka yang nantinya akan menjadi salah satu pusat informasi tentang jejak peninggalan kebudayaan Tionghoa di Indonesia.

Suasana di Taman Budaya Tionghoa Indonesia

Sesuai dengan namanya, anjungan ini berupa lanskap terbuka dengan jumlah bangunan yang cukup minim. Gerbang kompleks Taman Budaya Tionghoa ini menghadap ke utara dan memanjang sampai ke selatan. Jalan setapak naik-turun dengan diselingi oleh rerumputan hijau dan pohon yang asri menjadi pemandangan dominan di tempat ini. Pada sisi timur, ada danau buatan dengan pondokan yang membuat suasana seakan-akan benar-benar berada di negeri seberang lautan. Dari nuansa asri yang terbentuk, taman ini juga cocok sebagai wahana rekreasi keluarga.

Di luar aspek rekreasi tersebut, di taman ini juga menyajikan suguhan informasi mengenai beberapa nilai kebudayaan Tionghoa yang bisa memperkaya pengetahuan. Beberapa diantaranya adalah Patung Legenda Sampek Engtay, yang menggambarkan kisah cinta abadi dari sepasang kekasih, dan Monumen Kera Sakti yang menggambarkan perjalanan dari Sun Go Kong dan kedua sahabatnya mengantarkan sang Pendeta Tang Gen ke dunia Barat yang tetap lestari selama 5.000 tahun lamanya. Ada juga Patung Dewi Bulan dan juga Patung Kesatria Kwan Kong. Pernak-pernik budaya tersebut diwujudkan didalam bentuk patung atau monumen pahatan batu yang ditata serasi bersama dengan unsur taman lainnya.

Suka artikel berjudul Taman Budaya Tionghoa di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Yuk bagikan ke: