22 Alat Musik Tradisional Dari Nusa Tenggara Timur (NTT)



22 Alat Musik Tradisional Dari Nusa Tenggara Timur (NTT)

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kekayaaan budaya dan tradisinya yang luar biasa. Salah satu yang menunjukan hal tersebut yaitu dengan adanya alat musik tradisional bernama Sasando yang sangat terkenal hingga ke mancanegara.

Alat musik tradisional dari Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menggambarkan tentang citarasa seni yang sangat tinggi dari masyarakat suku asli yang ada di provinsi ini seperti halnya suku Sumba, suku Lamaholot, suku Atoni, suku Manggarai, suku Belu, suku Rote, dan juga suku Lio.

Selain Sasando, ternyata Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) juga mempunyai alat musik tradisional yang tidak kalah uniknya. Berikut ini adalah 22 alat musik tradisional Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) :

Daftar Isi

1. Sasando

Sasando, Alat Musik Tradisional Dari Nusa Tenggara Timur (NTT)
Sasando
Sasando atau yang biasa dikenal dengan Sasando Rote merupakan sebuah alat musik tradisional yang berasal dari Provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya dari pulau Rote. Konon katanya alat musik ini sudah digunakan oleh sayarakat Rote sejak abad ketujuh. 

Alat musik sasando ini terdiri 2 (dua) bagian utama, yang pertama adalah bagian yang terbuat dari bambu dan yang kedua adalah bagian yang terbuat dari daun lontar. Pada bagian yang terbuat dari bambu merupakan tempat melekatnya dawai-dawai atau senar sasando yang banyaknya 28 (dua puluh) dawai (sasando Engkel), 56 (lima puluh enam) dawai (sasando Dobel), atau 84 (delapan puluh empat) dawai. Dawai-dawai tersebut dipasang melingkari bambu dengan panjang yang beraneka ragam.

Alat musik ini terbilang jenis alat musik tradisional yang sangat unik. Karena keunikannya itulah, alat musik ini sempat menjadi ikon utama di dalam mata uang pecahan Rp.5000.

Baca Juga :

2. Gong Waning

Gong Waning, Alat Musik Tradisional Dari Nusa Tenggara Timur (NTT)
Gong Waning

Gong Waning adalah sebuah alat musik tradisional masyarakat Sikka. Alat musik ini dimainkan dengan cara ditabuh atau dipukul. Gong Waning ini sendiri terdiri dari beberapa jenis instrument, seperti gendang atau waning, gong dan juga peli anak (saur).

Gong Waning ini seperti gendang yang terbuat dari kayu kelapa dan hanya memiliki 1 (satu) membran saja. Alat musik ini umumnya dimainkan sebagai pengiring tarian, baik itu di dalam acara adat maupun di dalam pertunjukan tari.

Baca Juga :

3. Moko

Moko, Alat Musik Tradisional Dari Nusa Tenggara Timur (NTT)
Moko

Moko merupakan sebuah alat musik tradisional yang berasal dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tepatnya dari Pulau Alor. Alat musik ini memiliki bentuk yang sangat mirip dengan Gendang, akan tetapi terbuat dari perunggu dan juga mempunyai motif yang bervariasi.

Moko ini merupakan sebuah barang peninggalan sejarah yang banyak ditemui di Pulau Alor. Hampir di seluruh kawasan daerah Pulau Alor mempunyai alat musik Moko ini, sehingga banyak orang yang menyebut Pulau Alor ini sebagai pulau "Negeri Seribu Moko".

Baca Juga :

4. Heo

Heo, Alat Musik Tradisional Dari Nusa Tenggara Timur (NTT)
Heo

Heo merupakan sebuah alat musik gesek yang dibuat dari papan dan pada alat geseknya terbuat dari rangkaian ekor kuda. Heo ini mempunyai 4 (empat) buah dawai dengan nada-nada dasar yang berbeda. Untuk cara memainkan alat musik heo ini yaitu sama dengan cara memainkan alat musik biola.

5. Foy Doa

Foy Doa, Alat Musik Tradisional Dari Nusa Tenggara Timur (NTT)
Foy Doa

Foy Doa merupakan sebuah alat musik tradisional yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan berasal dari kebudayaan masyarakat Flores. Berdasarkan dari asal katanya, kata "Foy Doa" artinya adalah suling ganda. Alat musik ini tersusun dari 2 (dua) atau lebih suling yang dimainkan secara bersama-sama.

Pada umumnya Foy doa ini digunakan untuk mengiringi syair atau nyanyian petuah yang disampaikan para orang tua sebagai bentuk nasihat bagi anak-anaknya. Dengan nada-nada tunggal yang teralun dari alat musik foy doa, nasihat yang diterima dirasa akan lebih berkesan.

6. Foy Pai

Foy Pai, Alat Musik Tradisional Dari Nusa Tenggara Timur (NTT)
Foy Pai

Foy Pai merupakan sebuah alat musik tradisional yang sama seperti alat musik foy doa, yaitu termasuk kedalam jenis alat musik tiup. Foy pai ini berupa suling bambu dengan bentuknya yang  menyerupai angka 4 (empat). Alat musik ini menghasilkan nada-nada dasar yang diantaranya adalah Do, Re, Mi, Fa, dan Sol. Umumnya Foy pai dimainkan untuk melengkapi permainan foy doa.

7. Knobe Khabetas

Knobe Khabetas, Alat Musik Tradisional Dari Nusa Tenggara Timur (NTT)
Knobe Khabetas

Knobe Khabetas merupakan sebuah alat musik tradisional yang dipercaya sudah ada sejak zaman batu. Bentuk dari Knobe Khabetas ini seperti busur panah, yakni berupa lengkungan bambu yang diikat dengan menggunakan tali tipis namun lebar.

Cara memainkannya alat musik ini cukuplah mudah, yaitu dengan cara mendekatkan tali ke mulut dan kemudian meniupnya. Instrumen ini dahulunya sering dibawa ke sawah sebagai hiburan dalam menunggu tanaman kebunnya dari serangan hama.

8. Knobe Oh

Knobe Oh, Alat Musik Tradisional Dari Nusa Tenggara Timur (NTT)
Knobe Oh

Knobe Oh merupakan sebuah alat musik bambu yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Alat musik ini dimainkan dengan cara yang sama dengan alat musik Knobe Khabetas, hanya saja, Knobe Oh mempunyai bentuk yang berbeda.

Knobe oh terbuat dari bilah bambu sepanjang 12,5 centimeter. Cara membuat alat musik ini adalah dengan cara mengerat bagian tengah bambu. Pada bagian tengah keratan tersebut disisakan kulit ari bambu yang nantinya berfungsi sebagai resonator ketika ditiup.

9. Prere

Prere, Alat Musik Tradisional Dari Nusa Tenggara Timur (NTT)
Prere

Prere merupakan sebuah alat musik tradisional yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Sesuai dengan namanya, alat musik tradisional ini hanya menghasilkan nada "Do" dan "Re" ketika ditiup. Prere ini terbuat dari ruas bambu kecil dan ukurannya pun sependek ukuran pensil.

Pada bagian dalam rongga, alat musik ini diberi suatu membran yang nantinya akan bergetar ketika ditiup, sehingga alat musik ini dapat menghasilkan suara. Suara yang keluar pun diperbesar dengan adanya tambahan daun pandan pada bagian ujungnya.

10. Leko Boko

Leko Boko, Alat Musik Tradisional Dari Nusa Tenggara Timur (NTT)
Leko Boko

Leko Boko merupakan sebuah alat musik tradisional yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Alat musik Leko Boko juga biasa disebut dengan "Bijol". Leko Boko terbuat dari labu hutan, kayu, dan usus kuskus. Labu hutan digunakan sebagai resonator, sedangkan kayu digunakan sebagai tangkai, dan pada usus kuskus digunakan sebagi dawai. Alat musik ini dimainkan dengan cara digesek, sama seperti halnya dengan cara memainkan alat musik Heo.

11. Sowito

Sowito, Alat Musik Tradisional Dari Nusa Tenggara Timur (NTT)
Sowito

Sowito merupakan sebuah alat musik tradisional yang terbuat dari bambu. Cara membuatnya yaitu dengan mecungkil kulit bambu dengan ukuran 2 centimeter dan kemudian diganjal dengan menggunakan batangan kayu kecil. Cungkilan inilah yang nantinya berfungsi sebagai dawai.

Alat musik Sowito dimemainkan dengan cara dipukul dengan menggunakan sebatang kayu sepanjang kurang dari 30 centimeter dan sebesar jari tangan. Setiap ruas bambu alat musik ini akan menghasilkan satu buah nada. Untuk keperluan pengiringan, biasanya alat musik ini akan dibuat beberapa buah dan disesuaikan dengan kebutuhan.

12. Mendut

Mendut, Alat Musik Tradisional Dari Nusa Tenggara Timur (NTT)
Mendut

Mendut merupakan alat musik petik atau pukul yang berasal dari Manggarai. Cara memainkan alat musik ini adalah dengan cara dipetik maupun dipukul-pukul dengan menggunakan kayu kecil. Alat musik Mendut terbuat dari seruas bambu betung yang panjangnya sekitar 40 cm. Kedua ujung bambu dibiarkan, namun salah satunya dilubangi.

Cara pembuatannya, pada bagian tengah bambu dilubangi persegi 4 (empat) dengan ukuran 5 x 4 cm. Pada bagian samping kiri kanan lubang masing-masing dicungkil satu kulit bambu yang kemudian diganjal dengan menggunakan batangan kayu hingga berfungsi sebagai dawai.

13. Ketadu Mara

Ketadu Mara, Alat Musik Tradisional Dari Nusa Tenggara Timur (NTT)
Ketadu Mara

Ketadu Mara merupakan alat musik tradisional petik dua dawai yang biasa gunakan untuk menghibur diri-sendiri maupun sebagai sarana dalam menggoda hati wanita. Konon katanya, alat musik Ketadu Mara bisa mengajak cecak bernyanyi, dan bahkan suaranya disenangi oleh makluk halus.

14. Nuren

Nuren merupakan sebuah alat musik tradisional yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT), tepatnya dari Solor Barat. Masyarakat Talibura di Sikka Timur menyebut alat musik ini dengan nama "sason", apabila disebut secara puitis maka menjadi "sason nuren".

Sason nuren adalah dua buah suling yang dimainkan secara solo (sendirian). Alat musik ini dimemainkan dengan cara di tiup. Jenis alat musik tradisonal ini umumnya digunakan untuk mengiringi lagu tradisional Nusa Tenggara Timur (NTT)

15. Pitung Ong

Pitung Ong, Alat Musik Tradisional Dari Nusa Tenggara Timur (NTT)
Pitung Ong

Pitung Ong merupakan sebuah alat musik tradisional yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT), tepatnya dari Alor. Alat musik ini terbuat dari kayu dan bambu. Cara memainkan Pitung Ong adalah dengan cara dipukul mengunakan alat bantu berupa kayu.

Pitung Ong umumnya dimainkan di ladang sebagai ungkapan rasa kebahagiaan setelah menyelesaikan kegiatan berkebun secara bersama-sama (gotong royong). Misalnya seperti sehabis bertanam dan selesai panen. Permainan alat musik ini juga umumnya diselingi dengan tarian guna menambah semarak suasana.

16. Sunding Tongkeng

Sunding Tongkeng merupakan alat musik tiup yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Nama dari alat musik ini berhubungan dengan bentuk dan juga cara memainkannya, yaitu seruas bambu atau buluh yang panjangnya sekitar 30 centimeter.

Cara memainkan Sunding Tongkeng ini adalah seperti memainkan flute. Karena posisi meniup yang tegak tersebut, maka orang Manggarai menyebutnya dengan "Tongkeng", sedangkan kata sunding sendiri artinya adalah suling, sehingga alat musik tradisional ini disebut dengan nama "Sunding Tongkeng".

Alat musik ini biasanya digunakan pada waktu malam hari, yaitu sewaktu menjaga babi hutan di kebun. Dalam memainkan Sunding Tongkeng ini tidak ada pantangannya, kecuali lagu memanggil roh halus, yakni Ratu Dita

17. Suling Hidung

Pada umumnya di seluruh kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mempunyai instrumen suling bambu, seperti halnya di Sumba terdapat suling bernama suling hidung. Dinamakan seperti itu, sebab suling ini ditiup menggunakan hidung. Fungsi alat musik suling ini adalah untuk menyambut tamu agung atau untuk memeriahkan hari-hari nasional.

18. Gambus

Gambus diperkirakan masuk ke Flores Timur sejak masuknya agama Islam pada abad ke-15. Gambus terbuat dari kayu, kulit hewan, senar, dan juga paku halus. Alat musik petik ini merupakan instrumen berdawai ganda, yakni setiap nada berdawai dua atau double snar. Dawai pertama memiliki nada "do", sedangkan dawai kedua memiliki nada "sol". Dan pada dawai ketiga memiliki nada "re", atau dawai pertama memiliki nada "sol", dawai kedua memiliki nada "re", dan dawai ketiga memiliki nada la.

19. Reba

Reba merupakan sebuah alat musik tradisional berdawai tunggal. Reba ini terbuat dari tempurung kelapa atau labu hutan yang digunakan sebagai wadah resonansi yang kemudian ditutupi dengan kulit kambing yang ditengah-tengahnya sudah dilubangi.

Untuk dawainya sendiri terbuat dari benang tenun asli yang sudah digosok dengan menggunakan lilin lebah. Sedangkan untuk penggeseknya terbuat dari sebilah bambu yang sudah diikat dengan benang tenun yang tentunya juga sudah digosok dengan lilin lebah.

20. Kelontang

Kelontang merupakan bunyi-bunyian yang terbuat dari 3 (tiga) belahan kayu bulat kering yang panjangnya sekitar 30 centimeter. Ketiga belahan kayu tersebut diletakkan di atas kaki para pemain yang sedang duduk dan kemudian dipukul dengan batangan kayu sebesar jari tengah.

21. Tatabuang

Di Tanalein alat musik tradisional ini disebut dengan "Leto", sedangkan di Desa Lamanole Flores Timur disebut dengan "Tatabuang". Dari segi bentuk, alat musik ini mirip dengan alat musik Totobuang yang berasal dari Maluku. Kemungkinan besar tatabuang ini dibawa oleh suku Kera (Keraf) dari Pulau Maluku. Sebutan Tatabuang ini hanya ada di Lemonale, sebab di desa ini banyak sekali terdapat masyarakat suku Kera.

Di Lemonale permainan alat musik Tatabuang ini melalui 2 (dua) cara, yakni digantung seperti Leto dan yang lainnya ditaruh di atas pangkuan. Tatabuang ini dibuat dari batangan kayu pohon sukun yang digantung berbentuk bulat dan hati dari kayu tersebut dikeluarkan. Tatabuang yang digantung bernama Letor di Sikka dan yang dipangku bernama Preson di Wulanggintang.

22. Thobo

Thobo merupakan sebuah alat musik tradisional yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT), tepatnya dari Kabupaten Ngada. Alat musik ini adalah alat musik tumbuk yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara ditumbuk ke lantai atau ke tanah (seperti sedang menumbuk padi). Thobo ini berfungsi sebagai bass di dalam mengiringi alat musik musik Foy doa.
Suka artikel berjudul 22 Alat Musik Tradisional Dari Nusa Tenggara Timur (NTT), Yuk bagikan ke: