Pura Lingsar di Lombok Barat Nusa Tenggara Barat (NTB)

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pura Lingsar dibangun ditahun 1759 oleh Raja Ketut Karangasem Singosari. Dahulunya, pembangunan pura ini bertujuan untuk menyatukan masyarakat Suku Sasak dengan masyarakat pendatang yang pada umumnya berasal dari Pulau Bali. Hal tersebut dapat dilihat dari bangunannya yang bersebelahan langsung dengan kemaliq, yaitu sumber mata air yang dipercaya oleh salah satu suku di Lombok sebagai tempat suci.

Pura Lingsar ini terletak di Lombok bagian barat. Pura ini berada kurang lebih 8 (delapan) kilometer dari pusat Kota Mataram atau bisa ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit. Dari pusat Kota Mataram, perjalanan menuju ke Pura Lingsar melalui Jl.Pejanggik kemudian masuk ke Jalan Peternakan. Perjalanan lalu berakhir di Jl.Gora 2. Di ujung Jalan Gora 2 inilah berdiri sebuah tempat ibadah dengan bangunannya yang sangat unik dan menjadi salah satu cagar budaya di Pulau Lombok, yaitu Pura Lingsar.

Menurut cerita dari penunggu pura, dahulunya orang-orang dari Pulau Bali datang ke Lombok hanya ingin mencari tempat suci. Ditengah pencariannya, mereka merasa haus dan lapar, kemudian mereka menghentikan sejenak perjalanan. Saat sedang beristirahat, terjadilah sebuah ledakan yang ternyata berasal dari mata air. Dari ledakan itulah, mereka mendapat wahyu supaya mendirikan sebuah pura. Jauh sebelum orang dari Pulau Bali itu mendirikan pura di lokasi ini, masyarakat Suku Sasak sendiri telah mempercayai jika sumber mata air merupakan lokasi yang mereka anggap suci.

Pura ini kemudian oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan Pura Lingsar. Secara etimologi, kata lingsar berasal dari 2 (dua) kata, yaitu "ling" dan "sar". Kata "ling" mempunyai arti wahyu, sedangkan kata "sar" mempnyai arti yang jelas. Jadi, secara harfiah, Pura Lingsar ini bisa diartikan sebagai suatu bangunan suci yang berasal dari wahyu yang jelas.

Suasana di Pura Lingsar

Kompleks Pura Lingsar ini mempunyai beberapa bagian. Bagian pertamanya yaitu Pura Lingsar atau biasa disebut juga dengan nama Pura Gaduh. Pada bagian kedua adalah Kemaliq. Sementara itu, pada bagian yang terakhir adalah Kompleks Pesiraman.

Ketiga bangunan tersebut selalu terbuka bagi siapapun, baik itu pemeluk agama non Hindu. Pura bagi mereka yang memiliki keyakinan Hindu serta Kemaliq bagi mereka memiliki kepercayaan Wetu Telu. Wetu Telu sendiri merupakan kepercayaan asli dari masyarakat Suku Sasak. Kepercayaan tersebut merupakan sinkretisme diantara keyakinan agama Hindu, Islam, dan juga pra-Islam.

Selain menjadi lokasi beribadah, Pura Lingsar ini juga menjadi salah satu destinasi wisata religi di Kota Mataram. Bentuk bangunan dan juga sejarahnya yang sangat unik, menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang menyukai benda-benda cagar budaya. Apalagi, sekarang ini pihak pengelola telah menyediakan kolam pemancingan, sehingga para pengunjung dapat berlama-lama menikmati keindahan Pura Lingsar sambil bersantai di pinggir kolam yang teduh.

No comments: