Pura Uluwatu, Pura Penyangga Poros Mata Angin Pulau Bali

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dari sekian banyak pura yang ada di Provinsi Bali, salah satu yang menyimpan pesona tersendiri adalah Pura Uluwatu. Pura yang berada di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan. Provinsi Bali ini tidak sekadar menyimpan daya religius yang kuat, namun juga panorama matahari terbenam yang sangat memikat.

Pura ini bisa dijangkau dengan perjalanan sekitar 30 sampai 45 menit dari Kota Denpasar. Letaknya yang tak terlalu jauh dari Ibukota Provinsi Bali membuat Pura Uluwatu layak menjadi salah satu tujuan eksplorasi Anda di Pulau Bali.

Pura Uluwatu sendiri merupakan salah satu rumah ibadah agama Hindu yang mempunyai status sebagai Pura Sad Kahyangan Jagat atau penyangga poros mata angin Pulau Bali. Didalam Lontar Padma Bhuwana, Pura Uluwatu ini merupakan pura penyangga arah barat daya dari Pulau Bali.

Dengan adanya status ini, berarti Pura Uluwatu merupakan tempat ibadah dari seluruh lapisan bagi umat Hindu, tanpa batasan kasta atau klan, garis keturunan, jenis profesi, dan juga asal wilayah. Pura-pura lain yang menyandang status sejenis yaitu Pura Besakih di timur laut dan Pura Goa Lawah di tenggara.

Sesuai dengan namanya, bangunan awal Pura Uluwatu ini berada di atas sebuah bukit karang setinggi 90 (sembilan puluh) meter di atas permukaan laut. Secara harfiah, kata "uluwatu" artinya puncak batu. Kompleks utama pura ini tepat menghadap ke bagian sisi barat Semenanjung Uluwatu.

Berdasarkan dari naskah Lontar Padma Bhuwana, Pura Uluwatu ini dibangun sekitar abad ke-11 oleh Mpu Kuturan. Seiring dengan meningkatnya jumlah masyarakat yang beribadah di pura ini, sekitar 15 (lima belas) tahun yang lalu dibangun kompleks baru dibagian bawah.

Awalnya, hanya terdapat satu akses menuju pura ini, yakni melalui gerbang yang berada disisi timur pura. Seiring dengan berkembangnya kawasan ini, dibuat akses baru dibagian utara. Masuk melalui akses baru ini, para pengunjung akan menyusuri tebing melalui jalan setapak.

Rute perjalanan menuju ke pura melalui akses sisi utara ini berjarak sekitar 1 kilometer. Jalur ini menembus semak belukar yang dihuni oleh para kera liar. Karena itulah, para pengunjung disarankan untuk menyimpan barang-barang berharganya.

Suasana di Pura Uluwatu

Panorama laut dari atas tepian tebing ini terlihat sangat indah, terutama di sore hari menjelang sang surya terbenam. Panorama pura dengan latar langit dan juga laut lepas layak untuk diabadikan sebagai bagian dari kenangan di Pulau Dewata.

Menjelang senja, cahaya jingga yang memendar di langit-langit akan semakin menambah keindahan panorama disisi tebing ini. Menyaksikan lukisan indah kreasi Sang Pencipta ini merupakan pengalaman yang tidak terlupakan.

Melengkapi kunjungan ke Pura Uluwatu, pertunjukan tari kecak dengan berlatar matahari tenggelam menjadi penutup yang sangat sempurna. Tari kolosal yang menjadi warisan budaya Provinsi Bali ini secara rutin ditampilkan setiap hari, dimulai sekitar pukul 18.00 sampai 19.00 WITA.

Tari yang dibawakan oleh puluhan sampai ratusan orang ini dipertunjukan disebuah panggung yang berada disebelah selatan dari pelataran pura. Para pengunjung yang tertarik melihat pertunjukan tari kecak bisa membeli tiket seharga Rp75.000.

No comments: