Upacara Melasti, Prosesi Pensucian Diri Umat Hindu di Bali



Tahun baru Saka bagi umat agama Hindu Bali merupakan kesempatan memulai kembali kehidupan dengan hati yang suci. Melalui dari ritual amati geni pada Hari Raya Nyepi, setiap umat agama Hindu pada hakikatnya mendapat kesempatan untuk mengevaluasi capaian kehidupnya selama satu tahun yang lalu serta menyusun ulang rencana kehidupan satu tahun mendatang.

Mendahului tahapan tersebut, maka pada 2 (dua) hari sampai dengan 4 (empat) hari menjelang Nyepi, masyarakat umat Hindu Bali akan melakukan ritual pensucian diri dan lingkungannya. Ritual itu dinamakan upacara melasti.

Upacara melasti atau melelasti bisa didefinisikan sebagai nganyudang malaning gumi ngamet tirta amerta, yang artinya menghanyutkan kotoran alam memakai air kehidupan. Dalam kepercayaan Hindu, sumber air seperti laut dan danau dianggap sebagai asal tirta amerta (air kehidupan).

Sumber-sumber air tersebut memberikan kehidupan untuk seluruh makhluk hidup, termasuk umat manusia. Karena sebab itu upacara melasti ini selalu diadakan di setiap tempat-tempat khusus seperti di tepi pantai atau tepi danau.

Dalam upacara ini, masyarakat akan berdatangan secara berkelompok ke sumber-sumber air seperti di danau dan laut. Setiap rombongan ataupun kelompok berasal dari satu kesatuan wilayah yang sama, seperti halnya dari banjar atau desa yang sama.

Suasana Upacara Melasti

Setiap rombongan tersebut biasanya akan datang dengan membawa perangkat-perangkat keramat peribadahan, seperti arca, pratima, dan juga pralingga dari pura yang ada di wilayah masing-masing untuk kemudian disucikan. Setiap anggota masyarakat juga akan menyiapkan berbagai sesajian sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Sajian tersebut merupakan bagian pelengkap dari upacara melasti.

Sebelum pelaksanaan ritual, biasanya pihak panitia dari tiap rombongan (banjar atau desa) akan menyediakan meja atau panggung yang diposisikan membelakangi danau atau laut. Meja ini merupakan tempat untuk meletakkan berbagai macam perangkat suci peribadahan dari pura beserta dengan beraneka jenis sesajian.

Seluruh anggota rombongan lalu duduk bersila menghadap ke arah jajaran perangkat ibadah dan juga sesajian tersebut, sekaligus menghadap ke arah sumber air suci. Pemuka agama atau pemangku setempat kemudian akan memimpin berjalannya prosesi upacara melasti.

Para pemangku akan berkeliling serta memercikkan air suci kepada seluruh anggota masyarakat yang hadir dan perangkat-perangkat peribadatan serta menebarkan asap dupa sebagai wujud dari pensucian.

Selanjutnya, dilakukan ritual persembahyangan atau panca sembah oleh seluruh anggota rombongan. Para pemangku kemudian akan membagikan air suci dan juga bija (beras yang sudah dibasahi air suci). Air suci tersebut untuk diminum sementara pada bija akan dibubuhkan ke dahi setiap umat yang datang. Selepas dari prosesi tersebut, perangkat-perangkat peribadahan kemudian diarak kembali ke pura untuk menjalani beberapa tahapan ritual yang lainnya.

Untuk menjaga ketertiban didalam pelaksanaan upacara melasti, barisan para pecalang atau polisi adat akan mengatur waktu pelaksanaan yang berbeda untuk setiap daerah (banjar). Hal ini dilakukan supaya masing-masing daerah bisa melaksanakan ritual dengan khidmat dan juga optimal.

Karena itu, sepanjang hari keempat sampai hari kedua sebelum Nyepi, di seluruh Pulau Bali akan terlihat para rombongan masyarakat dengan pakaian sembahyang yang datang silih berganti ke tepian pantai atau danau.
Suka artikel berjudul Upacara Melasti, Prosesi Pensucian Diri Umat Hindu di Bali, Yuk bagikan ke: