Rumah Bangsal Kencono Keraton, Rumah Adat Yogyakarta

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Rumah Bangsal Kencono Keraton, Rumah Adat Yogyakarta

Provinsi Yogyakarta mempunyai rumah adat bernama Rumah Bangsal Kencono Keraton. Rumah yang dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I ini merupakan rumah kediaman sekaligus juga istana bagi raja Ngayogyakartan Hadiningrat dari dahulu sampai sekarang ini. Oleh banyak pihak, rumah adat ini dianggap sebagai bangunan dengan desain terbaik yang telah menerapkan penataan kelola ruang seperti rumah modern.

Selain itu, rumah adat yogyakarta ini juga mempunyai beragam keunikan dari segi arsitekturnya maupun dari sisi nilai filosofis yang terkandung didalamnya. Secara umum, arsitektur bangungan utama pada rumah adat Bangsal Kencono ini mempunyai banyak kesamaan dengan desain rumah adat Provinsi Jawa Tengah. Atap rumah adat ini mempunyai bubungan tinggi yang menopang pada 4 (empat) tiang dibagian tengah yang bernama "Soko Guru". Material atapnya sendiri terbuat dari bahan dasar sirap atau genting tanah.

Adapun untuk dinding dan tiang, rumah adat ini disusun dari kayu-kayuan berkualitas. Pada tiang biasanya dicat berwarna hijau gelap atau hitam menopang di umpak batu berwarna hitam keemasan. Sementara pada lantainya terbuat dari bahan marmer dan granit yang sengaja dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah disekitarnya.

Kompleks dari rumah Bangsal Kencono sendiri tersusun dari beberapa bangunan yang tentunya mempunyai fungsinya masing-masing. Fungsi pada ruang tersebut disesuaikan dengan kegunaan dari rumah adat Yogyakarta ini sebagai istana kerajaan. Sedikitnya rumah adat Bangsal Kencono ini dibagi menjadi 3 bagian, yakni bagian depan, bagian inti, serta bagian belakang.

Daftar Isi

1. Bagian Depan

Bagian depan dari rumah adat Yogyakarta ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu Gladhag Pangurakan, Alun-Alun Lor, serta Masjid Gedhe Kasultanan. Gladhag Pangurakan merupakan gerbang utama yang dipakai sebagai pintu masuk ke dalam istana. Letaknya berada dibagian utara Keraton serta terdiri dari 2 gerbang, yakni Gerbang Gladhag dan juga Gerbang Pangurakan (lebih dalam). Keduanya memakai sistem berlapis serta dijaga oleh para prajurit kerajaan.

Alun-alun Lor merupakan lapangan berumput dibagian utara Keraton. Di masa lampau, bagian ini dipakai untuk penyelenggaraan berbagai macam kegiatan serta acara kerajaan yang melibatkan para rakyat, seperti upacara sekaten, upacara grebeg, watangan, pisowanan ageng, rampogan macan, dan lain sebagainya. Saat ini alun alun lor lebih dipakai untuk konser-konser musik, kampanye, rapat akbar, tempat bermain sepak bola bagi warga sekitar, dan tempat parkir kendaraan..

Kompleks Mesjid Gedhe Kasultanan merupakan sebuah masjid kasultanan yang dipakai oleh para punggawa kesultanan dalam melaksanakan ibadah sholat. Letaknya berada dibagian barat Alun-alun utara. Masjid satu ini juga kerap disebut dengan Masjid Gedhe Kauman. Arsitekturnya Masjid Gedhe Kasultanan memiliki bentuk tajug persegi dengan pintu utama dibagian sisi timur dan utara bangunan.

2. Bagian Inti

Bagian inti dari rumah adat Provinsi Yogyakarta ini terdiri dari Kompleks Pagelaran, Kamandhungan Lor, Sri Manganti, Siti Hinggil Ler, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul, dan Siti Hingil Kidul. Berikut ini adalah masing-masing penjelasan dari tiap bangunan tersebut :

  • Bangsal Pagelaran merupakan bangunan yang khusus dipakai bagi para penggawa kesultanan ketika akan menghadap sultan saat upacara resmi. Sekaran ini ia lebih dipakai sebagai tempat digelarnya berbagai even-even pariwisata, religi, dan lain sebagainya disamping untuk upacara adat keraton.
  • Kamandhungan Ler terletak disebelah utara. Bangunan ini dipakai untuk mengadili sebuah perkara berat yang ancamannya adalah hukuman mati. Pengadilan ini dibangunan dan dipimpin sendiri oleh Sultan selaku hakim pengadilan. Saat ini, Kamandhungan Lor lebih dipakai untuk pelaksanaan upacara adat seperti upacara garebeg dan sekaten.
  • Sri Manganti berada disebelah selatan kompleks Kamandhungan Ler dengan dihubungkan Regol Sri Manganti. Di zamannya bagian ini kerap dipakai sebagai tempat menerima para tamu kerajaan. namun, saat ini lebih dipakai untuk menyimpan benda pusaka keraton yang berupa alat musik tradisional berupa gamelan serta untuk penyelenggaraan even pariwisata keraton.
  • Siti Hinggil Ler letaknya berada dibagian selatan kompleks Pagelaran. Secara tradisi bangunan satu ini dipakai untuk tempat pelaksanaan upacara-upacara resmi dari kesultanan.
  • Kedhaton merupakan inti dari Keraton seluruhnya. Lokasinya yang berada di pusat kompleks dari rumah adat Yogyakarta serta terdiri dari 2 (dua) bagian, yakni Pelataran Kedhaton (tempat tinggal sultan), Keputren (tempat tinggal utama para istri dan puteri Sultan), dan Kesatriyan (tempat tinggal para putra-putra Sultan).
  • Kemagangan dahulu dipakai untuk penerimaan para abdi-Dalem, tempat ujian, tempat berlatih, dan tempat apel kesetiaan bagi para abdi-Dalem yang sedang magang. Bangunan satu ini terletak dibagian tengah halaman dibelakang kompleks Kamandhungan.
  • Siti Hinggil Kidul dahulu digunakan oleh Sultan untuk menyaksikan adu manusia dengan macan atau rampogan, tempat berlatih prajurit perempuan (Langen Kusumo), menyaksikan para prajurit melakukan gladi resik upacara Garebeg, serta tempat prosesi awal perjalanan upacara pemakaman Sultan yang wafat ke Imogiri. Saat ini, Siti Hinggil Kidul lebih dipakai untuk pagelaran seni pertunjukan umum, seperti wayang kulit, pameran, dan seni tari.

3. Bagian Belakang

Pada bagian belakang rumah adat Provinsi Yogyakarta ini terdiri dari Plengkung Nirbaya dan Alun-Alun Kidul. Plengkung Nirbaya merupakan poros utama ujung selatan keraton yang lurus menuju ke gerbang keluar dalam prosesi pemakaman Sultan yang wafat ke Imogiri. Sedangkan Alun-alun Kidul merupakan alun-alun yang terletak dibagian Selatan Keraton. Bagian ini kerap pula disebut dengan Pengkeran.

No comments: