Rumah Sulah Nyanda, Rumah Adat Provinsi Banten

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Rumah Sulah Nyanda, Rumah Adat Provinsi Banten

Provinsi Banten merupakan sebuah provinsi yang terletak di ujung Barat dari Pulau Jawa. Provinsi satu ini merupakan hasil pemekaran dari wilayah Provinsi Jawa Barat yang baru diresmikan ditahun 2000 silam. Meskipun secara administratif provinsi Banten ini masih tergolong muda, namun bukan berarti bahwa masyarakat dari provinsi ini masih terbelakang dalam hal kebudayaan.

Peradaban masyarakat Provinsi Banten sendiri sudah terbangun jauh sebelum provini banten ini terbentuk. Salah satu buktinya yaitu dengan adanya desain rumah adat Banten yang berasal dari kebudayaan suku Baduy di Provinsi Banten bagian Barat. Rumah adat bernama Sulah Nyanda ini disebut dengan rumah adat yang unik karena mempunyai desain yang menyatu dengan alam. Nah seperti apakah struktur dan pembagian ruangan pada rumah adat Sulah Nyanda tersebut? Berikut ini penjelasannya.

Daftar Isi

1. Struktur Rumah Sulah Nyanda

Dilihat dari segi struktur bangunannya, material dari rumah adat Provinsi Banten ini secara keseluruhan terbuat dari bahan dasar yang berasal dari alam. Bambu menjadi bahan utama di dalam proses pendirian rumah adat sulah nyanda ini, sementara batu, kayu, dan juga ijuk menjadi pelengkapnya.

Batu dipakai sebagai alas pondasi. Batu yang digunakan yaitu batu datar yang berukuran besar sehingga bisa dipendam di dalam tanah. Batu yang umumnya diperoleh dari kali ini berfungsi mencegah tiang rumah supaya tidak cepat melapuk. Untuk diketahui, bahwa kayu tiang rumah akan mudah keropos jika langsung bersentuhan dengan tanah.

Pemasangan pondasi pada rumah adat Provinsi Banten tidak dilakukan dengan cara merusak struktur tanah. Jika tanah tempat dibangunnya rumah mempunyai kontur miring, maka pondasi juga menyesuaikan. Hal tersebutlah yang membuat tinggi dari tiang penyangga rumah adat ini tidak dapat disamakan.

Tiang rumah sulah nyanda sendiri berasal dari balok kayu berukuran besar. Kayu yang dipakai untuk tiang haruslah kayu yang sangat kuat dan tahan lama, seperti kayu jati, mahoni, ataupun kayu akasia. Kayu yang kuat pada tiang tentunya sangat diperlukan guna ketahanan rumah, sebab tiang merupakan tempat menopangnya kerangka atap sekaligus juga kerangka lantai.

Untuk bagian dinding, rumah adat ini biasanya memakai anyaman bambu yang disebut dengan bilik. Penggunaan bilik ini memberikan kesejukan bagi para penghuni rumah karena sirkulasi udara bisa dengan mudah masuk dan keluar melalui celah anyaman. Hal inilah yang menyebabkan mengapa rumah adat Provinsi Banten ini tidak mempunyai jendela. Sementara bagian lantainya memakai bilah-bilah papan yang disusun secara sejajar atau memakai bambu yang telah dibuat menjadi datar (palupuh).

Pada bagian atap rumah ini memakai bilah bambu dan ijuk. Bilah bambu dipakai sebagai kerangka atap, sementara ijuk dipakai sebagai atapnya. Ijuk juga bisa diganti dengan bahan daun alang-alang yang sudah dianyam.

2. Pembagian Ruangan Rumah Sulah Nyanda

Rumah adat provinsi Banten ini dari dahulu sampai saat ini masih tetap digunakan sebagai desain utama hunian bagi masyarakat suku Baduy di  Banten Barat. Dalam menunjang fungsinya tersebut, rumah khas Provinsi Banten tersebut dibagi menjadi beberapa ruangan, yakni sosoro (depan), tepas (tengah), dan juga ipah (belakang).
  1. Sosoro, ruangan ini letaknya dibagian depan rumah. Di dalam bahasa Indonesia bisa juga disebut teras. Pada bagian ini digunakan untuk menerima para tamu, tempat bersantai, sekaligus juga tempat beraktivitas para perempuan ketika di pagi hari, seperti menenun.
  2. Tepas, ruangan ini dipakai untuk pertemuan keluarga, bersantai, kenduri, dan tidur di malam hari.
  3. Ipah, ruangan ini letaknya berada dibagian belakang dan digunakan sebagai tempat untuk menyimpan berbagai macam persediaan makanan sekaligus juga tempat memasak.

No comments: