Tarian Datun Julud, Tarian Tradisional Suku Dayak Di Kalimantan

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Tarian Datun Julud, Tarian Tradisional Suku Dayak Di Kalimantan

Tarian Datun Julud adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari kalangan masyarakat Kayan atau Kenyah yang mendiami pedalaman Kutai, Berau, Bulungan, dan Pasir yakni kawasan persempadanan antara Sarawak dan Provinsi Kalimantan Timur. Tarian ini biasanya dibawakan di hari-hari besar ataupun untuk merayakan kedatangan para pelawat ke rumah panjang, terutama para pelancong dari luar negeri.

Tari Datun Julud merupakan tarian wajib bagi suku dayak kenyah. Karena di dalam upacara apa saja tarian datun julud ini selalu dihadirkan, seperti pada upacara adat mecaq undat ataupun pesta panen. Bahkan dapat sehari penuh jika merayakan kemenangan di dalam peperangan.

Daftar Isi

Sejarah Tari Datun Julud

Menurut sejarahnya, Tarian Datun Julud diciptakan oleh seorang raja suku Dayak Kenyah di Apo Kayan, yaitu bernama Nyik Selong. Tarian ini diciptakan sebagai tanda kegembiraan dan juga rasa syukurnya terhadap Maha Dewa atas kelahiran cucunya.

Namun menurut sumber sejarah lainnya, Tarian Datun Julud ini diciptakan atas rasa syukur dikarenakan kesembuhan istrinya dari sakit yang cukup lama. Selepas dari peristiwa tersebut, tarian ini terus diminati di dalam kalangan masyarakat sekitarnya serta terus berkembang ke kawasan daerah lainnya di Negeri Sarawak.

Kostum Tari Datun Julud

Karena tarian Datun Julud ini adalah tarian untuk hiburan di rumah panjang, maka umumnya para penari hanya akan memakai pakaian seadanya. Namun bila sedang ada tamu terhormat ataupun untuk menyambut hari-hari perayaan, beberapa pakaian yang dipakai adalah pakaian adat tradisional wanita suku dayak Kenyah dengan berbagai macam motif dan juga warnanya (sapai, ta’a) berlengan pendek dan bermotif tradisi atau baju dan sarung (taah).

Untuk perhiasan dan properti, biasanya akan memakai penutup kepala topi bulu (tapung puk) atau bisa juga memakai penutup kepala yang lebih sederhana dengan dilengkapi aksesoris berupa rumbai-rumbai untuk penghias di tangan penari atau bisa juga berupa bulu burung enggang yang diletakkan dicelah-celah jari kedua belah tangan para penari.

Pertunjukan Tari Datun Julud

Dalam pertunjukannya, tarian ini ditarikan secara perseorangan atau berkelompok. Umumnya, Tari Datun julud ini akan dibawakan di waktu petang oleh sekumpulan para wanita suku dayak kenyah. Tarian ini biasanya akan dibawakan tanpa memakai alas kaki. Di dalam kesempatan inilah, para penari-penari wanita akan dinilai dari segi kecantikan dan juga kebolehannya di dalam hal menari. Gerakan di dalam tarian ini adalah lemah gemulai dengan di sertai lenggokan badan serta ayunan tangan dari para penari untuk menunjukkan sikap kelembutan dan juga sopan santun dari wanita suku dayak kenyah.

Ketika persembahan dilakukan di rumah panjang, umumnya mereka akan menari mengelilingi ruai Ketua kampung dan terkadang keseluruhan rumah panjang. Lama-kelamaan para penonton juga akan datang beramai-ramai untuk menonton tarian ini. Persembahan ini menjadi meriah sebab mereka akan berteriak untuk memberikan semangat kepada para penari.

Tari Datun Julud ini sangat menarik hati para penonton karena gerakannya yang lemah gemulai walaupun ada beberapa tempo yang cepat dan juga lenggokan badan serta ayunan tangan dari sang penari, sehingga dari segi pakaian, corak dan juga motif yang dipakai sangat serasi dengan tarian.

Alat Musik Pengiring Tari Datun Julud

Untuk alat musik pengiringnya, Tari Datun Julud ini biasanya diiringi oleh alat musik khas masyarakat suku dayak, seperti alat musik sampe dan jatung utang.

Perkembangan Tari Datun Julud

Meskipun tari datun julud ini tidak sepopuler seperti tari enggang, namun tarian tradisional ini mempunyai daya tarik tersendiri untuk masyarakat yang melihatnya dan ke ingin tahuannya untuk mempelajarinya. Tari datun julud ini sebenarnya mempunyai 2 versi. Yang populer dimasanya yaitu tarian lemah gemulai yang memakai properti bulu burung enggang.

Kemudian muncul versi lainnya dari tarian ini dengan gerakannya yang mempunyai beberapa tempo cepat namun tidak mengubah gerakan indah dari tubuh para penari. Dengan memakai properti tongkat dari kayu jati yang panjangnya sekitar 90 sampai 130 centimeter tetapi bisa juga disesuaikan dengan kenyamanan para penari.