Tari Gembu, Tarian Tradisional Dari Sumenep Madura Jawa Timur

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Tari Gembu, Tarian Tradisional Dari Sumenep Madura Jawa Timur

Tari Gembu merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Sumenep, Madura, Provinsi Jawa Timur. Tarian ini merupakan tarian tradisional yang menggambarkan sebuah peristiwa dalam pertempuran keprajuritan.

Daftar Isi

Sejarah Tari Gembu

Menurut sejarahnya, dahulu Tari Gembu ini lebih dikenal dengan nama Tari keris. Dalam catatan Serat Pararaton tarian ini disebut dengan "Tari Silat Sudukan Dhuwung". Tari Gembu merupakan tarian tradisional diciptakan oleh Arya Wiraraja dan kemudian diajarkan pada para pengikut Raden Wijaya disaat sedang mengungsi di keraton Sumenep.

Tari Keris ciptaan dari Arya Wiraraja ini sempat lama sekali tidak diatraksikan. Namum dimasa adipati kerabat Sultan Agung yang bernama "Kanjeng Pangeran Ario Anggadipa" Tari Keris ini kemudian dihidupkan kembali sekitar pada tahun 1630. Diberi nama "Kambuh" dalam bahasa Jawa artinya adalah "terulang kembali" dan hingga saat ini terus diberi nama Kambuh dan kelama-lamaan berubah menjadi istilah menjadi tari Gembu atau Gembu dalam logat Sumenep.

Penari Tari Gembu

Jumlah penari pada Tari Gembu umumnya terdiri dari 4 penari dengan memakai pola posisi segi 4 yang berdasarkan 4 kiblat, yakni gambaran 4 arah mata angin (timur, utara, selatan, barat), sedangkan pada bagian tengah merupakan titik bayangan yang disebut dengan mata hati dan biasanya tidak ada penarinya. Pola posisi tersebut disebut dengan keblat papat lima pancer. Kata pancer tersebut merupakan titik bayangan yang ada dibagian tengah.

Gerakan Tari Gembu

Dalam gerakannya, para penari biasanya sangat jarang mengangkat gerak kaki, melainkan lebih dominan pergeseran kaki yang melekat ketanah. Selain itu dalam gerakannya tarian ini juga memakai teknik pernafasan. Teknik pernafasan yang dipakai oleh para penari memakai pernafasan 1-1, dimana dilakukan dengan cara menghirup udara melalui salah satu sisi lubang hidung, kemudian ditampung dibagian perut lalu dihembuskan melalui sisi lubang hidung lainnya. Pengaturan nafas tersebut diupayakan dapat mengalir dengan sendirinya atau secara alami mengikuti gerak tubuh tanpa paksaan.

Arah gerakan para penari umumnya akan selalu dilakukan kearah kanan, hal ini merupakan simbol dari perputaran bumi dan simbol dari perjalanan darah di dalam tubuh manusia, sedangkan untuk gerakan kaki yang lebih dominan pada perpindahan telapak kaki yang bergerak merapat lantai, dimaksudkan sebagai transformasi energi bumi ke dalam tubush manusia.

Para penari Tari Gembu dahulu kala memiliki teknik pernafasan yang sangat bagus. Pola-pola pengendalian pernafasan tersebut umumnya dilakukan dengan cara mengkolaborasikan energi yang terdapat ditubuh manusia dengan energi yang terdapat di bumi atau tanah. Pola lantai atau komposisi tarian juga menyiratkan sebuah simbol prapatan atau menari dengan tekanan arah menghadap kearah 4 keblat.

Busana Tari Gembu

Busana yang dipakai oleh para penari Tari Gembu adalah semacam hiasan kain yang diselipkan dibagian stagen dan berwarna putih, merah, hijau, dan kuning. Warna-warna tersebut tentunya mempunyai maknanya tersendiri, seperti warna putih (kesucian), warna merah (keberanian), hijau (kesuburan), dan kuning (ketulusan).

Properti Tari Gembu

Dalam pertunjukannya, para penari akan memakai properti berupa tombak dan tameng atau perisai berukuran kecil. Properti tameng yang dipakai umumnya terbuat dari bahan dasar yang dapat memantulkan cahaya.