Batik Banjarnegara (Gumelem) - Sejarah, Motif, Ciri Khas, dan Perkembangannya


Batik Banjarnegara (Gumelem) - Sejarah, Motif, Ciri Khas, dan Perkembangannya

Banjarnegara adalah salah satu kabupaten yang letak geografisnya berada di Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten ini tidak hanya terkenal akan keindahan dataran tinggi Dieng, minuman tradisionalnya seperti Dawet Ayu ataupun Salak Pondoh. Banjarnegara juga mulai dikenal oleh masyarakat luas akan seni kerajinan batiknya.

Daftar Isi

Sejarah Batik Banjarnegara

Hingga saat ini, belum ada penelitian khusus mengenai sejarah Batik Gumelem khas Banjarnegara, namun ada beberapa versi yang mengisahkan perjuangan hidup Batik Gumelem, dimana dalam sejarahnya Batik Gumelem ini ada kaitannya dengan sejarah Batik Banyumas yang berpusat di Sokaraja diabad ke-15. Sejak Perang Diponegoro pada tahun 1830, saat Pangeran Puger kemudian mengungsi ke Banyumas yang diikuti oleh para punggawa, budayawan, serta para seniman. Salah satu pengikut yang terkenal disaat itu adalah Najendra, dimana beliau mengembangkan batik celup Sokaraja. Di tempat baru tersebutlah, mereka kemudian mulai mengembangkan seni kerajinan batik dengan ciri khasnya masing-masing. Salah satunya munculah khas Banjarnegara ini, yaitu Batik Gumelem.

Selain itu, ada pula yang berpendapat jika kerajinan Batik Gumelem ini berawal dari berdirinya tanah perdikan Gumelem yang kemudian pada tahun 1573 berubah menjadi Kademangan Gumelem. Miniatur kehidupan istana seperti halnya trapsila, pranata, busana, dan tata praja di wilayah pedesaan secara baik ditemukan pada ragam kehidupan di Kademangan Gumelem. Seperti halnya wilayah perdikan, kademangan Gumelem juga mengatur wilayahnya sendiri. Pembatik merupakan salah satu dari satuan kerja teknis yang bertugas dalam membuat kain batik untuk keperluan busana keluarga, kerabat, dan juga santana dalem kademangan.

Dalam perkembangannya, keemasan Batik Gumelem ini kemudian mulai pudar seiring dengan lunturnya zaman Kademangan yang merupakan tanah perdikan atau bebas pajak dibawah pengaruh Kasunanan Surakarta. Status dan juga wilayah Kademangan berubah disebabkan Surakarta dilanda krisis politik dan juga pemerintahan sekitar pada tahun 1965. Status kademangan Gumelem kemudian menjadi Desa Praja. Wilayah Gumelem lalu dibagi menjadi 2, yaitu Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon. Keterkaitan sejarah Batik Banyumas inilah yang kemudian menjadikan Batik Gumelem mempunyai kesamaan dengan Batik yang ada di Banyumas. Seperti halnya motif Kawung, dimana pada Gumelem menjadi Kawung Ceplokan, Godong Lumbu, Jahe Serimpang, Pring Sedapur dan lain sebagainya.

Motif Batik Banjarnegara

Motif Batik Gumelem umumnya dibagi ke dalam 2 corak, yakni klasik dan kontemporer. Corak klasik pada batik Gumelem diantara seperti Pring Sedapur, Udan Liris, Sungai Serayu, Jahe Serimpang, Rujak Senthe, Grinting, Sido Mukti, Buntelan, Galaran, Ukir Udar, Sidoluhur, Gabah Wutah, Sekar Jagad, Parang Angkrik, Blaburan, Kopi Pecah, Parang Angkrik Seling, dan lain sebagainya.

Sementara motif kontemporer pada Batik Gumelem sudah sedikit banyak perbedaan dengan aslinya. Motif kontemporer pada batik ini lebih variatif demi mengakomodir kekhasan Kabupaten Banjarnegara. Dalam pemakaian warna pun cenderung lebih berani, seperti warna hijau, biru,  merah, dan warna-warna lainnya sesuai keinginan dan umumnya disesuaikan dengan pesanan.

Contoh corak kontemporer pada pada Batik Gumelem diantaranya seperti Lumbu Pari, Sawung Alit, Kantil Rinonce, Kawung Ceplokan, Pilih Tanding, Sekar Tirta, Sekar Kinasih, Salak Raja, dan lain sebagainya. Selain itu batik Banjarnegara juga memakai elemen alam yang ada dikawasan Dieng dan sekitarnya, seperti halnya Keramik Klampok, Purwaceng, Cendol Salak, Seruling Mas, Dawet Ayu, Cendol Wutah, Candi Kusuma, Salak Tanjung, dan lain sebagainya.

Ciri Khas Batik Banjarnegara

Seperti halnya motif batik di daerah lainnya, batik Gumelem juga mempunyai ciri khasnya tersendiri dan masih berdasarkan pakem. Batik Gumelem umumnya mempunyai ciri cenderung berwarna sogan, seperti warna coklat, hitam, kuning, dan bermotifkan bunga, kawung, dan parang.

Perkembangan Batik Banjarnegara

Dalam perkembangannya, batik Gumelem memanglah belum setenar batik Solo, Jogja, Pekalongan maupun Banyumas. Jumlah para pengrajin Batik Gumelem pun saat ini hanya berjumlah sekitar 55 orang saja dan tersebar di 3 desa, yaitu di Desa Gumelem Wetan, Desa Gumelem Kulon, dan Desa Panerusan Wetan. Untuk saat ini sudah ada sentra penghasil batik di Banjarnegara yang berpusat di Desa Gumelem Kecamatan Susukan, dimana letaknya berbatasan dengan Banyumas. Selain itu, ada juga di Dukuh Dagaran, Dukuh Ketandan, Karangpace atau Gumelem Wetan, Beji dan Kauman atau Gumelem Kulon.
Suka artikel berjudul Batik Banjarnegara (Gumelem) - Sejarah, Motif, Ciri Khas, dan Perkembangannya, Yuk bagikan ke: