Nafasku Kota Palembang - Watini Hefri Jayanti



Sebesit Cahaya Matahari yang menyilaukan pandanganku. Sengatan teriknya memanggaku tanpa pamrih. Aroma semerbak kembali menusuk hudungku. gemercik air mengenai jemari kakiku, bergoyang kanan dan kiri seakan menari diatas panggung nan indah. Pasar Tradisional Terapung di bawah bangunan besar terlintas di kepalaku yang ku panggul dengan sigap.

Kali mendayung mengarahkan sampan menuju kebisingan itu, berhenti sekedar menatap keramaian hiruk pikuk pasar apung. Kata ayah ini merupakan tempat dimana adanya pertemuan antara pedagang dan pembeli diatas air, tepatnya di bawah Jembatan Ampera yang terbesar dan terpanjang di Sumatra Selatan yaitu kota tercinta kita Palembang, ku terdiam menatapi urnamen tua yang berusia setengah abad ini.

Mataku seketika takjub melihat kapal yang ingin melintas dibawahnya terangkat teratas seakan memiliki daya magis, Jembatan itu mampu membawa mata ini terpukau tanpa arah. Tak kuhiraukan riuh penjual pembeli yang menjerit dan saling menawarkan. Kupandangi bangunan dengan ornamen kental warna merah yang memberi kesan berani sepontan membuat mata ini tajam menatapnya.

Paras surya yang membuncah rupanya tak mampu memudarkan kegagahan dan kekuatan Jembatan Ampera yang menjadi Landmark Kota Palembang.Laju sampanku kini  semakin melambat karena padatnya kawasan pasar apung, kebisingan semakin terdengar digendang telingaku, tawar menawar sudah tak diherankan lagi. Pupil tajamku menatap seorang anak yang sedang asyik memainkan perahu kertasnya seraya menunggu wanita itu menawar buah di antara desakan pembeli.

Matahari semakin mendekat merayap rindu, sedikit demi sedikit menaikkan suhu tubuhku serambi Ayah mendekatkan sampan ketepian kembali mengajakku berkeliling bersama sinar matahari,” Yah panas banget, pulang aja yuk !”Namun ayah tak menghiraukan ucapanku, berjalan menggenggam erat jemari tangan kananku yang arahnya tak tau kemana.

Tak lama pelarianku terhenti tepat di depan bangunan dengan urnamen dari kayu yang di penuhi dengan ukiran,yang konon penuh dengan filosofi aku berdiri di Museum Balaputra Dewa.Rumah adat ini Dibangun tanpa menggunakan paku seluruh bangunan terbuat dari kayu yang pondasinya terbuat dari kayu Ulin apabila terkena air maka akan semakin kuat.


Seraya meratapi Bangunan yang menjadi ciri khas Sumatra Selatan ini diberi nama dengan Rumah Limas. Aku berjalan menyusuri Rumah adat berwarna coklat tua ,warna khas dari dalam kayunya. Saat berjalan banyak sekali cerita yang Ayah berikan padaku,sungguh hari itu menjadi hari berharga untukku hal yang membuatku takjub dengan Rumah tradisional ini.

Ketika aku diajak masuk kedalamnya wahh.. Didalamnya terdapat berbagai filosofi seperti di bagian atap, ada ornamen berbentuk seperti tanduk kambing kalau jumlahnya 5 itu berlambang rukun Islam, 6 rukun iman, 4 sahabat nabi, 3 itu matahari bintang dan bulan, 2 adam dan hawa. Selain itu ada filosofi lain di RumahLimas. Bagian teras rumah biasanya dikelilingi pagar kayu berjeruji yang disebut tenggalung. Makna filosofis di balik pagar kayu itu adalah untuk menahan supaya anak perempuan tidak keluar dari rumah, dan jika aku perhatikan dengan Uang yang kubawa Rumah Limas ini ada didalamnya.

Selain itu Rumah Limas ini sudah berumur 3 abad dan masih terawat dengan baik hingga sekarang. Keunikan Rumah Limas ternyata mencuri perhatian turis mancanegara. Buktinya, beberapa tamu kehormatan negara pernah datang ke rumah ini seperti Ratu Beatrix dan anaknya yang bernama Pangeran Willem sekitar tahun 1993. Aku sangat terpukau saat itu melihat budaya nusantara yang menyebar luas hingga mancanegara, keindahan akan sejarah  Rumah Limas membuatku ingin kembali disaat zaman itu, ku duduk bersama ayah dibawah pohon rindang seraya menikmati kesejukan membawaku tenang dibawa ayunan angin melintas didepanku.

Kruk...Krukk suara lonceng perutku yang menandakan aku mulai lapar,” Kamu laper ya nak ?” ayah bertanya padaku “ Iyaa yah heheh... “. “Ya udah , yuk ikut ayah kita makan, makanan khas Palembang.

Kami berjalan menuju pintu keluar museum, sang surya telah jauh melayang di hamparan langit kota Palembang. Panas yang membakar tak menyurutkan semangat masyarakat demi kehidupannya.Tak sampai 10 menit kami sampai ditempat, bertulisan “Pempek Wong Kito Galo” inilah makanan khas palembang yang dibuat dari olahan daging ikan dimakan dengan air yang disebut dengan Cuka. aku sangat lahap memakannya karena tekstur nya yang empuk membuat mulutku terus bergoyang sampai rasa kenyang menghentikan lonceng perutku, yang akhirnya rasa laparku hilang, “Rasanya tak cukup jika harus 1 hari berkeliling mengintari Kota Palembang ini “. ujar ayahku..

“ Yah ajak aku ketempat paling spesial di palembang , aku ingin melihatnya “.
“ Oke yuk kita jalan lagi “. kami pun meninggalkan tempat makan tadi dengan cepat sambil mengendarai motor vespa milik paman yang tadi pagi sempat kami pinjam .

Diperjalanan aku banyak sekali melihat pedagang asongan berteriak menawarkan dagangannya , dan pada akhirnya aku melihat banyak sekali orang berkumpul, suara musik dan gendang terdengar bertalu-talu. mendesak gendang telingaku namun seperti membawaku ke dalam suasana kerajaan, yahh aku melihat gadis-gadis cantik berlenggak lenggok menari dengan anggunnya, dihiasi dengan pakaian adat yang mereka pakai kemudian diringi musik yang beralun-alun, Ini dia merupakan tarian Gending Sriwijaya, tarian yang sangat mencirikhaskan kota palembang.biasanya tarian ini digunakan ketika ada festival besar, seperti Kegiatan ASEAN Games atau penyambutan tamu dari berbagai kota. Gerakan tangan gemulai para gadis-gadis itu serta alunan musik membuatku ingin menari, hal yang tak disangka aku diajak menari oleh salah satu gadis itu, awalnya aku menolak namun karena dipaksa heheh.. jadi saya mau deh.

Ku adukan alunan musik dengan mengikuti gerakannya memberikan nuansa indah bak bungan yang berterbangan. Takterasa Matahari pun menenggelamkan tubuhnya , menandakan ku harus kembali kerumah. Aku bersama Ayah pulang menimati senja itu dengan penuh canda tawa, bagiku kebahagian tersendiri bukan sebarapa banyak harta yang kita miliki, namun sebarapa banyak waktu kita , kita gunakan untuk memperdalam apa itu Budaya? Apa itu Nusantara? karena dengan kita tahu itu bukan uang saja yang kita dapatkan, namun persaudaraanlah yang akan menjadi satu dalam indahnya nafas budaya ini.


#KARYAANAKBANGSA

Karya : Watini Hefri Jayanti

Hallo ...
Assalamualaikum Wr.Wb
Perkenalkan nama saya Watini Hefri Jayanti saya lahir di Lampung 14 juni 2001. Saya melanjutkan studi saya disalah satu Perguruan Tinggi di Lampung.

Sekarang izinkan saya untuk memperkenalkan diri lebih lanjut. Dimulai dari hobi dulu ya, akhir-akhir ini saya lagi seneng dengan hobi fotografi, karena yang saya rasa fotografi itu menegaskan untuk mendapatkan objek-objek tertentu.

Selanjutnya saya akan menjelaskan tentang tempat tinggal dan riwayat pendidikan saya. sebelum nya saya alumni dari SD N 10 muaradua tepatnya di kota palembang dan saya alumni dari SMP N 1 Muaradua dan SMA N 1 Muaradua. dan sekarang saya melanjutkan kuliah di lampung program studi Budaya Pangan.

Oke selanjutnya sosial media yang saya gunakan
  • No Whatshap : 085832309031 
  • Instagram : watini_hefrijyti 
  • Facebook  : Watini Hefri Jayanti 
  • ID Line : WtiniHfriJyti

Baiklah inilah sebagian biodata saya ya
Wassalamualaikum Wr.Wb
Suka artikel berjudul Nafasku Kota Palembang - Watini Hefri Jayanti, Yuk bagikan ke: